Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 22



Sesampainya di halaman gedung, tiba tiba dari arah belakang. Bayangan hitam menubruk tubuh Bramantio hingga terhuyung ke depan. Saat ia balik badan dan menyadari kalau Quinsha telah terlepas dari ikatan rantai di tangannya.


"Quin!!" seru Bramantio saat melihat bayangan hitam itu membawa lari Quinsha menjauh dari nya. "Sialan, awas kau, Dominic!!"


Branantio berlari menyusul bayangan hitam yang tak lain adalah Dominic, menuju tepi perbatasan hutan lindung. Sesampainya di tepi hutan lindung, Bramantio dapat bernapas lega mrlihat Arkana sudah lebih dulu mencegah Dominic membawa lari Quinsha.


"Quin!!" pekik Bramantio saat melihat tubuh Quinsha melayang lalu menabrak pohon besar.


"Bukkkk!!


Tubuh gadis itu ambruk, darah segar mengalir dari mulutnya lalu terbatuk memuntahkan darah.


"Uhukkk!!"


"Quin!!" Bramantio jongkok di hadapan Qyinsha lalu membantunya bangun, duduk di tanah bersandar di dada Bramantio.


"Sakit sekali.." ucap Quinsha pelan.


"Bertahanlah!" Tangan Bramantio di tempelkan di punggung gadis itu, energi dingin mengalir dari telapak tangannya dan menyebar ke seluruh tubuh Quinsha untuk mengurangi rasa sakit dan menyembuhkan luka dalam.


"Quin.." ucap Bramantio.


Namun gadis itu tidak menjawab panggilan Bramantio, kepalanya terkulai lemas di pelukan Bramantio.


"Dominic!!!" teriaknya marah menatap ke arah Dominic, tangannya terulur ke atas. Sulur dari dalam tanah ikut keluar dan mulai menjalar ke tubuh Dominic. "Hancurkan!!"


"Aaahhkk!!" Dominic mengerang kesakitan saat sulur itu mengikat kuat di tubuhnya.


Kesempatan itu di gunakan Arkana, tangannya mengepal lalu di arahkan ke tubuh Dominic bersamaan Cahaya hitam melesat ke arahnya.


"Bleddarrr!!


Tubuh Dominic terpental jauh bersamaan dengan ledakan dan asap hitam yang mengepul. Tiba tiba saja tubuh Dominic menghikang dari pandangan.


"Kurang ajar, rupanya dia melarikan diri!" umpat Arkana lalu menoleh ke arah Bramantio yang tengah memeluk Quinsha, lalu berjalan mendekatinya.


"Bagaimana keadaan Quin?" tanya Arkana.


"Apa sebenarnya yang di inginkan Dominic?" tanya Arkana lagi. "Apa ini ada hubungannya dengan Bangsawan tinggi itu?"


Bramantio hanya diam, ia mengangkat tubuh Quinsha lalu menggendongnya.


"Bram!


Bramantio terus melangkahkan kakinya meninggalkan Arkana di belakangnya.


"Aku yakin kau tahu sesuatu, katakan padaku Bram!" seru Arkana terus mengikuti langkah Bramantio.


"Aku tidak tahu!" sahut Bram.


"Bohong!" Arkana sudah berdiri di hadapan Bramantio menghalangi langkahnya


"Apa maumu?" tanya Bram.


"Bram, kau tidak bisa membohongiku, kalau ini menyangkut nyawa Quinsha. Aku harus tahu!" Arkana bersikeras minta penjelasan.


"Kenapa kau harus tahu?" tanya Bramantio lagi.


Arkana terdiam sesaat, menatap wajah Qyinsha yang terlihat pucat. "Karena aku menyanginya, menyukainya.." Jawab Arkana.


"Sudah kuduga, tidak akan kubiarkan kau mengambil Quinsha." Ucap Bram dalam hati.


"Kenapa kau diam!" seru Arkan.


"Kau cari tahu sendiri, kalau kau memang menyukai Quinsha!" sahut Bramantio, lalu berlari secepat kilat meninggalkan Arkana sendirian.


"Sudah kuduga, tidak hanya aku yang menyukai Quinsha. Tapi Bram juga menyukai gadis itu." Ucap Arkana pelan.


"Tidak masalah, ini sebuah tantangan buatku untuk mendapatkan Quinsha. Bram, kita memang di takdirkan menjadi musuh bebuyutanku." Arkana tertawa kecil, lalu ia berlari menyusul Bramantio.


Sementara Bramantio yang sudah lebih dulu sampai di rumahnya. Meletakkan tubuh Quinsha di atas tempat tidur. Membenarkan rambut yang menghalangi wajah gadis itu.


"Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu lagi, aku akan menjaga dan melindungimu. Aku berjanji Quin.." ucap Bramantio pelan, lalu mengecup kening Quinsha sekilas.