
"Siapkan eksekusi!"
"Tidak! jangan bunuh aku!! aku mohon percayalah, akulah istri sahnya bukan dia!!" pekik seorang wanita dalam keadaan terikat.
"Bunuh!!
"Tidak!! tidakkkk!!"
Quinsha membuka matanya, keringat bercucuran di wajahnya. Ia bangun lalu menyeka keringatnya.
"Ya Tuhan, mimpi itu lagi.." gumam Quinsha pelan. "Siapa wanita itu? tanda segel naga?"
Quinsha mengusap lengannya, nampak tati naga yang sama persis di dalam mimpinya.
"Mungkinkah ini suatu petunjuk?" tanya Quinsha. "Semoga dugaanku tidak salah, mungkin tato naga ini bisa kujadikan petunjuk mencari kedua orang tuaku." Kata Quinsha lalu turun dari atas tempat tidur, berjalan menghampiri meja. Mengambil gelas air mineral.
"Mungkinkah itu ibuku?" tanya Quinsha dalam hati, lalu ia habiskan air mineral dan kembali ia letakkan gelas di atas meja.
"Tok tok tok!"
Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Quinsha. "Masuk!"
Pintu terbuka lebar, nampak Jasmin tersenyum lalu melangkahkan kakinya menghampiri Quinsha.
"Aku mau bicara denganmu, apa kau sudah mau berangkat bekerja?" tanya Jasmin.
"Belum Ibu, ada apa Bu? dan Ibu mau kemana?" tanya Quinsha memperhatikan pakaian yang Jasmin kelihatan terlihat berbeda dari biasanya. Pakaian seragam seperti ciri khas satu aliansi tertentu.
"Aku hendak pergi ke tempat lama dan bekerja di sana lagi." Kata Jasmin.
"Di mana?" tanya Quinsha balik.
"Kau tidak perlu tahu, yang pasti aku tidak akan krmbali lagi ke rumah ini. Tapi, kau jangan khawatir, aku pasti sesekali menjengukmu. Rumah ini bisa kau miliki dan kau tempati sesuka hatimu, Quinsha." Jelas Jasmin panjang lebar.
"Terima kasih Bu!" sahut Quenby lalu memeluk erat tubuh Jasmin.
"Baik baik kau di sini, dan ingat semua pesanku." Bisik Jasmin.
"Ibu juga, hati hati di sana. Aku akan sangat merindukanmu."
Jasmin melepas pelukannya, lalu tersenyum. "Aku pergi."
Quinsha menganggukkan kepalanya, menatap punggung Jasmin hingga hilang dari pandangan. Gadis itu menarik napas dalam dalam, lalu ia hembuskan perlahan.
"Sepertinya Bu Jasmin sedang sedih, tapi aku tidak tahu kenapa.." gumam Quinsha pelan.
***
To love something invisible, maybe I should become a snake.
Quinsha menepikan sepedanya di halaman Club lalu masuk ke dalam untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai Waitress.
Suara hingar bingar musik mengentak-entak membuat telinga bising. Waktu sudah lewat tengah malam, tetapi Fable night nama sebuah kelab malam tempat Quinsha bekerja, masih dipenuhi lautan manusia yang sedang menikmati duniawi.
Aroma nikotin juga alkohol terasa menyengat dari berbagai sudut ruangan. Manusia terkurung dalam mimpi dan halusinasi menelan tanpa jeda hingga kelelahan dan membentengi diri dengan topeng kemunafikan hanya untuk bertahan hidup. Atau sekedar berpura pura bahagia karena rasa sakit yang dideranya. Berbagi wajah yang sama dengan pertemuan singkat. Tertawa riang berdansa mengikuti irama menyimpulkan luka masing masing.
Dia harus fokus bekerja sebagai Waitress dan mengabaikan segala hal yang terlihat di depan mata. Mengabaikan pria yang usil karena terlalu mabuk sekedar untuk menyapa.
"Halo Nona..!" sapa seseorang dengan nada suara lembut.
Quinsha menoleh ke arah suara. Terlihat Arkana Devin duduk tersenyum menatap wajahnya.
"Kau?" sapa Quinsha menatap tajam Arkana, masih hangat dalam ingatannya saat kejadian malam itu.
"Iya sayang, aku datang ke sini hendak menjemputmu." Jawab Arkana Devin.
"Sayang? menjemputku? apa maksudmu seenaknya memanggilku sayang!" rutuk Quinsha.
"Hei sayang, aku sudah membayar managermu. Malam ini kau harus ikut bersamaku, menemaniku jalan jalan." Jelas Arkana.
"Membayar manager? kau jangan sembarangan! aku di sini bekerja, bukan menjual tubuhku!" bentak Quinsha.
Arkana Devin tertawa terbahak bahak mendengar perkataan Quinsha.
"Aku membayarmu untuk menemani jalan jalan, bukan aku inginkan tubuhmu." Kata Arkana Devin lalu ia berdiri dan berjalan mrnghampiri Quinsha. Menarik tangannya paksa lalu menyeretnya keluar dari kelab.
"Sakit tahu!!" bentak Quinsha menepis tangan Arkana hingga terlepas.
"Maaf sayang, aku terlalu bahagia." ujar Arkana dengan nada menggoda.
"Sayang, sayang, palamu peyang!" umpat Quinsha kasar.
Arkana Devin kembali tertawa terbahak bahak melihat sikap kasar Quinsha.
"Aku suka gadis liar!" timpalnya. "Ayo ikut!" Arkana kembali meraih tangan Quinsha lalu menggenggam erat paksa.
"Kau mau ajak aku kemana?" tanya Quinsha sedikit takut.
"Ikuti saja langkah kakiku sayang, dan bersikap manislah!" sahut Arkana melangkahkan kakinya, mendekati sebuah mobil mewah lalu memaksa Quinsha masuk ke dalam mobil.
"Duduklah yang manis, aku tidak akan menyakitimu, sayang." Arkana mengedipkan mata kirinya ke arah Quinsha.
"Dasar mesum! jangan panggil aku sayang!" umpat Quinsha.
"Hahahahaha!!" Arkana kembali tertawa terbahak bahak. Lalu ia menyalakan mesin, dan mobilpun melaju meninggalkan halaman kelab.
Sepanjang perjalanan baik Quinsha ataupun Arkana Devin tidak ada yang bersuara, suasana di dalam mobil menjadi hening. Hingga di sebuah jalan yang sepi, Arkana menghentikan laju mobilnya saat sebuah cahaya hitam berkelebat nyata di depan mobilnya.
"A, appa itu?" ucap Quinsha terkejut.
"Bramantio Anderson, lagi lagi dia coba menghalangiku.." Ucap Arkana Devin dalam hati dengan sorot mata tajam ke depan.
"Keluarlah Arakana!!"
Quinsha menoleh ke arah Arkana, pria itu keluar dari dalam mobil. Tatapan mata Quinsha, di alihkan ke depan. Nampak Bramantio berdiri tegap berhadapan dengan Arkana. Dua pria yang sama sama tampan, memiliki kekuatan supranatural, saling menatap mata tajam.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Quinsha dalam hati.