Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 7



Sepulang dari kelab, Quinsha merasakan tubuhnya sangat letih setelah membereskan isi kelab yang berantakan. Quinsha menghempaskan tubuhnya di kursi, biasanya ada Jasmin yang menyambutnya. Malam ini Qyuinsha hanya sendirian, sementara Jasmin pergi ke suatu tempat karena ada urusan. Kemudian ia beranjak dari kursinya menuju kamar.


"Malam ini benar benar melelahkan." Ucap Quinsha, meletakkan tas kecilnya di atas meja lalu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tiga puluh menit berlalu, Quinsha keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan balutan handuk. Quinsha terkejut, melangkah mundur ke belakang saat melihat sosok pria tengah duduk di kursi dengan tumpang kaki.


"Kau??? bagaimana mungkin kau bisa berada di kamarku? cepat pergi!!" pekik Quinsha, menatap marah ke arah pria yang ia kenali.


"Hahaha, tentu saja mudah bagiku masuk ke kamar gadis manapun. Apalagi rumahmu terlihat sangat jelek sekali." Cemooh pria itu yang tak lain adalah Bramantio Anderson.


"Pergi dari kamarku, atau aku akan menghajarmu!" seru Quinsha berjalan mendekati Bramantio. "Ayo bangun, lawan aku!" Quinsha mengepalkan kedua tangannya.


Bramantio tertawa terkekeh melihat keberanian Quinsha. Sebelumnya ia tidak pernah melihat ada gadis yang seberani Quinsha. Pria itu berdiri, dengan kedua tangan di lipat di dada.


"Apa kau lupa? atau kau sengaja melupakan? tidakkah kau ingat kejadian di kelab tadi?"


Quinsha terdiam, ia menurunkan kedua tangannya saat mengingat kemampuan Bramantio melawan Arkana Devin. Namun Quinsha tidak ingin terlihat takut di depan pria itu. Ia kembali mengepakan kedua tangannya.


"Lawan aku dengan tangan kosong, kalau kau berjiwa ksatria. Atau kau pergi dari kamarku sekarang juga!"


"Tenanglah Nona, kau galak sekali. Aku datang kesini karena ingin mengenalmu." Timpal Bramantio.


"Tapi tidak begini caranya!" bentak Quinsha lagi. "Cepat pergi!"


"Baiklah Quen, sampai jumpa besok malam. Dan aku ingin menghabiskan malam bersamamu." Kata Bramantio mendekatkan wajahnya ke arah Quinsha sesaat.


"Pergi!!" seru Quinsha.


"Selamat malam My Quin!"


"Dasar pria gila, seenaknya bicara. Sesuka hati masuk ke kamar orang lain. Sangat tidak sopan!" rutuk Quinsha lalu berjalan menuju jendela kamar. Saat ia hendak menutup jendela kamar, tiba tiba kepala Bramantio menyembul dan tertawa terbahak bahak, membuat Quinsha berjengkit kaget.


"Hahahahaha!"


"Ya Tuahn, dia itu manusia atau iblis?" umpat Quinsha. Lalu ia dengan segera menutup jendela dan menguncinya.


"Aku harus waspada. Jangan sampai lengah." Ucap Quinsha pelan. "Dengan mudah dia bisa masuk ke dalam kamarku, apalagi yang lainnya." Quinsha begidik ngeri membayangkan yang tidak tidak.


***


Keesokan paginya, Quinsha terbangun dari tidur dalam keadaan segar. Ia membuka mata dan memperhatikan setiap sudut kamarnya. Quinsha khawatir kalau Bramantio ada di kamarnya dan mengganggunya lagi.


Quinsha dapat bernapas dengan lega, lalu ia turun dari atas ranjang menuju kamar mandi. Selang dua puluh menit berlalu, ia telah selesai membersihkan dirinya lalu memilih pakaian di dalam lemari untuk dia kenakan.


Setelah selesai ia keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat sarapan. Baru saja sampai di ruang tamu, suara ketukan pintu dari luar rumah. Quinsha bergegas membuka pintu lebar lebar. Nampak Jasmin telah kembali pulang dengan raut wajah tak terbaca.


"Ibu, kau sudah pulang?" tanya Quinsha.


Jasmin menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam rumah. "Quin, aku lelah. Sebaiknya aku istirahat dan nanti kita bicara lagi."


"Baiklah Bu, apa kau butuh sesuatu?" tanya Quinsha.


Jasmin menggelengkan kepalanya, berjalan dengan langkah gontai memasuki kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, ia duduk di tepi tempat tidur.


"Romo.." ucap Jasmin. "Kalau kau saja sudah tiada dan tak mampu bertahan di pulau itu, apalagi bayi itu. Tapi aku tidak menemukan makam bayi Luciana, kalau Romo meninggal siapa yang menguburkannya? tidak mungkin ada orang lain. Atau jangan jangan putri Luciana masih hidup?"


Jasmin tertegun coba memecahkan masalah itu sendirian. Namun ia tidak menemukan apa apa, yang Jasmin pikirkan saat ini adalah putri Luciana telah tiada, dan ada seseorang yang menguburkan jasad Romo. Jasmin merasakan kepalanya pusing, lalu ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.