
Hari penobatan pewaris tunggal Bangsawan tinggi tersebut semakin dekat. Tinggal menunggu dua minggu lagi maka pesta penobatan terbesar akan segera di laksanakan. Azura terpaksa menggunakan cara licik dengan menggunakan cap stempel palsu.
Azura sudah sangat senang dan tidak sabar menanti saat itu tiba, di mana putrinya akan segera di nobatkan menjadi pewaris tunggal. Namun salah satu Pria benteng pertahanan utama keluarga bangsawan itu, memperingati Azura untuk tidak melakukan tindakan licik itu, jika di ketahui oleh masyarakat dan petinggi Bangsawan tersebut, maka putri Azura akan di jatuhi hukuman penggal.
Azura dan Capri mulai kebingungan, tidak tahu harus dengan cara apa lagi. Akhirnya dua pria yang selama ini di percaya Salman Cakra Nagara sebagai pelindung utama, memiliki Affair dengan Azura dan berniat menguasai harya dan kedudukan Salman Cakra Nagara.
Pria yang memiliki kekuatan supranatural tingkat tinggi melebihi kekuatan Bramantio dan Arkana Devin, pria tersebut bernama Dominic.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Azura pelan di ruang bawah tanah.
"Kita cari putri Luciana sampai dapat." Jawab Dominic.
"Tapi di mana keberadaan putrinya Luciana? bukankah sudah mati bersama Romo?" tanya Azura.
"Tidak, Putri Luciana masih hidup. Dan anak itu bernama Quinsha. Kau tenang saja, aku pasti bisa menemukan keberadaan Quinsha dan mengambil cap stempel itu." Jelas Dominic dengan sombongnya.
"Aku percaya padamu, lakukan dengan cepat sebelum semuanya terlambat." Kata Azura.
Dominic menganggukkan kepalanya, lalu ia beranjak pergi dari hadapan Azura.
***
Tapi naasnya, Arkana tak kunjung datang. Hingga suatu hari, Bramantio pergi dari rumahnya sejak pagi karena ada urusan penting menyangkut perusahaan yang pria itu pimpin. Quinsha hanya di jaga oleh anak buah Bramantio saja.
"Ini kesempatanku untuk pergi dari sini." Gumam Quinsha, perlahan membuka pintu kamarnya lalu berjalan mengendap endap menghindari penjaga yang datang silih berganti berjaga jaga.
Hari ini, adalah hari baik Quinsha. Meski Arkana tidak datang membantunya, setidaknya Quinsha dapat kesempatan melarikan diri. Gadis itu terus berjalan mengendap endap melalui pintu belakang mansion.
Quinsha tersenyum lebar, saat melihat sebuah sepeda di halaman belakang, lalu ia mengambil sepeda tersebut, naik ke atas sepeda lalu mengayuhnya dengan cepat meninggalkan mansion.
Quinsha terus mengayuh sepedanya tanpa ada tujuan yang pasti mau kemana. Ia terus mengayuh hingga kelelahan lalu beristirahat tepat di sebuah toko makanan. Ia berhenti di depan toko tersebut dan membeli makanan dan sebotol air mineral.
"Aku tidak tahu harus kemana, yang penting aku berhasil menjauh dari dua pria gila itu." Ucap Quinsha pelan seraya mengunyah roti di mulutnya, di susul air mineral dalam botol.
Di lihat dari cara makannya, Quinsha tengah bingung. Namun ia berusaha untuk tenang, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke pulau di mana ia tinggal dulu menggunakan sepeda. Setelah merasa kenyang, ia kembali mengayuh sepedanya meninggalkan toko tersebut.
Menit berganti jam, siang berganti senja. Quinsha terus mengayuh sepedanya. Tak terasa hari mulai gelap, namun gadis itu berhasil mendekati petbatasan tanpa ada gangguan dari Bramantio atau Arkana.
Sesaat ia berhenti untuk mengatur napasnya dan rasa pegal di kakinya, setelah di rasa cukup beristirahat. Quinsha kembali mengayuh sepedanya. Jalanan terlihat sangat sepi, ada rasa takut dalam hati Quinsha namun ia berkali kali menepisnya, tanpa ia sadari dari arah lain seseorang tengah mengikutinya.