
Bramantio berjalan mondar mandir di ruang kerjanya, ia mencari cara supaya menjauhkan Arkana. Hari ini, Bramantio memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Quinsha. Namun Arkana selalu mengikuti kemanapaun Quinsha pergi. Itu artinya Bramantio tidak punya kesempatan untuk nyatakan cintanya kepada Quinsha.
Selain itu, Bramantio punya alasan kuat. Mengapa ia ingin menjadikan Quinsha kekasih sekaligus menjadikan gadis itu pasangannya seumur hidup.
"Akhirnya pencarianku berakhir di Quinsha. Gadis itu yang aku tunggu tunggu dari dulu." Gumam Bramantio. "Pemilik darah murni yang di inginkan semua mahluk dari dimensi lain. Aku harus menjaga dan melindunginya dengan nyawaku sendiri."
"Tok tok tok!"
Suara ketukan pelan di pintu, membuyarkan lamunan Bramantio. Lalu ia berjalan ke arah pintu dan membukanya lebar lebar.
"Quin?" Bramantio langsung menarik tangan gadis itu masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintunya kembali.
"Ada apa?" tanya Quinsha.
"Quin, aku ingin bicara serius." Kata Bramantio lalu mengajaknya duduk di sofa.
"Kau baik baik saja, bukan?" tanya gadis itu bingung, lalu duduk di sofa.
"Quin, aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi istriku." Bramantio langsung menyatakan perasaannya tanpa basa basi.
"A, appa-?"
Bramantio meraih tangan Quinsha, menggenggamnya erat.
"Aku mencintaimu, aku ingin kau menjadi pasanganku seumur hidupku." Bramantio mengulang.
"Tapi aku-?"
"Ssssst!" Bramantio meletakkan satu jarinya di bibir gadis itu. "Aku tahu kau pasti mencintaiku, sudah cukup. Kau tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah tahu jawabannya. Terima kasih Quin!"
"Hei, apa apan ini!" Quinsha menghempaskan tangan Bramantio. "Siap bilang aku mencintaimu?""
"Kau memang tidak mengatakannya, tapi takdir tidak akan bisa memisahkan kita. Kau milikku, darahku dan jiwaku." Jelas Bramantio memaksa.
"Sekarang kau tidak mengerti, suatu hari nanti kau paham apa yang aku katakan saat ini." Timpal Bramantio.
Quinsha berdiri, menatap tajam Bramantio. "Dasar bodoh! cinta itu tidak bisa di paksakan." Setelah bicara seperti itu, Quinsha berlalu dari hadapan Bramantio.
"Quin, terserah apapun pembelaanmu untuk menolak takdir. Kau tetaplah milikku, sekarang dan selamanya," ucap Bramantio dalam hati.
Sementara itu, Arkana yang sedari tadi diam memperhatikan dan menguping pembicaraan mereka berdua dengan kemampuan yang ia miliki. Arkana sama sekali tidak suka kalau Quinsha menjadi milik Bramantio.
Arkana sendiri memiliki perasaan yang sama terhadap gadis itu. Meskipun ia sudah memiliki tunangan yaitu Lexi, namun Arkana sama sekali tidak mencintainya karena pertunangan di antata mereka hanya sebatas politik kerajaan saja.
"Aku tidak boleh membiarkannya, sepertinya Quinsha tidak mencintai Bramantio, ini kesempatanku untuk mendekatinya dan nyatakan perasaanku kepada Quinsha."
Arkana bergegas menemui Quinsha di ruang kerjanya. Kebetulan gadis itu tengah berada di ruangannya, memperhatikan layar monitor dengan serius. Menyadari kedatangan Arkana, Quinsha menutup layar monitornya.
"Arkana? mau apa kau kesini? jangan jangan kau juga akan mengatakan hal yang sama seperti yang Bramantio katakan?" tanya Quinsha dengan nada kesal.
"Kau memang gadis pintar sayang," jawab Arkana tersenyum tipis lalu menarik tangan Quinsha supaya berdiri menghadapnya.
"Aku sedang bekerja, bisakah kau tidak menggangguku?" pinta Quinsha menatap jengah pria di hadapannya.
"Quin, aku-?"
"Kau mau bilang kalau kau mencintaiku dan ingin menjadikanku istrimu, buka. begitu?" potong Quinsha dengan cepat.
"Betul sekali, apakah kau bersedia?" tanya Arkana, menatap wajah Quinsha penuh harap.
Quinsha terdiam, menatap tajam wajah Arkana tanpa berkedip. Namun detik berikutnya, ia tepis tangan Arkana, lalu balik badan.
"Kalian sama sama gilanya!" sungut Quinsha kesal, lalu beranjak pergi meninggalkan Arkana berdiri terpaku di tempatnya, tanpa memberikan kesempatan untuk bicara lagi, Quinsha sudah pergi begitu saja.
"Ah sial! selalu gagal. Ayo Arkana, kau pasti bisa dapatkan Quinsha." Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.