Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 30



Keesokan harinya, Quinsha terlihat lebih segar setelah mendapatkan energi murni yang di berikan Bramantio semalam. Secara tidak langsung, Bramantio telah membuka segel di dalam tubuh Quinsha yang selama ini Romo segel.


Kemanapun Quinsha pergi, akan mengundang bahaya untuk dirinya. Mahluk mahluk di luar dimensi manusia akan datang mengincar gadis itu karena aroma darah murni yang Quinsha miliki.


"Kau sudah merasa baikan?" tanya Jasmin memperhatikan Quinsha.


Quinsha hanya menoleh sesaat, tersungging senyum di sudut bibirnya. "Aku sudah jauh lebih baik, Ibu tidak perlu khawatir." Quinsha kembali menyisir rambutnya pelan lalu mengikatnya dengan rapi.


"Biar Ibu bantu." Jasmin mengambil sisir di tangan Quinsha, lalu merapikan rambutnya yang sudah terikat rapi. "Selesai."


"Terima kasih Bu." Quinsha balik badan, tersenyum tipis menatap raut wajah wanita paruh baya namun masih terlihat cantik.


Quinsha mengambil tas di atas meja lalu di gantungkan di pundaknya. Menatap sesaat raut wajah penuh kecemasan. "Ibu baik baik di rumah."


Jasmin mengangguk pelan. "Hati hati, ingat pesanku. Sepulang bekerja langsung pulang." Jasmin kembali mengingatkan Quinsha tentang segala kemungkinan bisa saja terjadi.


"Iya Bu." Kata Quinsha.


Setelah berpamitan, Quinsha bergegas keluar dari rumah. Tatapannya lurus kepada sosok rupawan, rambutnya yang gondrong di biarkan tergerai indah. Menambah karismatik sosok pria tersebut, meskipun tingkahnya terkadang konyol apabila bertemu dengan Arkana.


"Bram," sapa Quinsha.


"Aku lama menunggumu." Kata Bramantio, melirik jam tangannya sekilas.


"Maaf," kata Quinsha pelan.


"Kita berangkat sekarang."


Bramantio membukakan pintu mobil, lalu mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


Namun, baru saja gadis itu hendak masuk ke dalam mobil. Suara familiar menyapa mereka berdua.


"Quin, Bram!"


Quinsha menoleh ke belakang, nampak Arkana berlari menghampiri mereka berdua dengan tergesa gesa.


"Ya ampun!" Bramantio menepuk keningnya sendiri. Ia merasa kalau Arkana selalu datang di waktu yang tidak tepat, saat Bramantio memiliki banyak waktu untuk menyatakan perasaannya kepada Quinsha.


Quinsha hanya tertawa kecil memperhatikan raut wajah Bramantio yang terlihat sangat kesal.


"Kenapa kau datang sepagi ini?" tanya Bramantio seraya menghempaskan tangan kanannya ke samping.


"Hei, apa kau lupa?" Arkana memperhatikan Bramantio yang kesal karena kedatangannya. "Bukankah kita sepakat untuk menjaga Quinsha bersama?" Arkana kembali mengingatkan.


"Lalu apa?" tanya Arkana pura pura tidak mrngerti ucapan Bramantio. Ia sendiri tidak ingin membiarkan Bramantio berdua dua-an dengan Quinsha.


"Ah sudahlah!" Bramantio enggan melanjutkan perdebatan yang pada akhirnya tidak ada titik temu. "Quin, ayo masuk ke dalam."


Quinsha mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam mobil, di susul Arkana dan Bramantio.


"Biar aku duduk di tengah." Arkana memilih duduk di antara Quinsha dan Bramantio.


"Kalian tidak pernah akur kalau sudah bertemu," gerutu Quinsha menggeleng gelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti kenapa kedua pria di sampingnya selalu ribut dari hal kecil sampai hal besar. Tetapi mereka akan terlihat kompak jika menyangkut keselamatan dirinya. Tak terasa, tersungging senyum di sudut bibir Quinsha mengingat tingkah konyol mereka berdua.


***


Sementara di tempat lain. Lexi tengah membujuk Ibunya dan Dominic supaya memberikan kesempatan padanya, untuk membawa Quinsha ke hadapan mereka berdua.


Awalnya Azura tidak percaya dengan kemampuan putrinya. Namun setelah Lexi menunjukan kemampuannya yang berhasil ia kuasai, yang di berikan Dominic kepadanya.


Akhirnya Azura menyetujui permintaan Lexi, dan memberikannya kesempatan.


"Baiklah." Kata Azura menyerah. "Bagaimana dengan kau?" tanya Azura kepada Dominic.


"Aku akan memberikan dua kesempata. Tapi jika kedua kesempatan itu gagal? maka aku akan menggantikanmu dengan orang yang lebih hebat." Jelas Dominic.


"Siapa?" tanya Azura penasaran.


"Tuan muda Keano Mel Frey." Dominic menyebutkan salah satu putra bangsawan tinggi ke dua yang memiki pasukan khusus yang berasa dari klan Vampir Orion.


"Tidak Paman!" tolak Lexi. "Aku pasti bisa, beri aku waktu tiga hari. Aku pastikan Quinsha ada dalam kekuasaan kita," ucap Lexi antusias penuh dengan rasa percaya diri.


"Baiklah, terserah bagaimana caramu." Dominic dan Azura akhirnya sepakat, memberikan Lexi kesempatan selama tiga hari.


"Buat Ibumu dan Ayahmu bangga." Kata Azura.


Lexi menganggukkan kepalanya, setelah sepakat. Lexi bergegas pergi dari rumah menuju kantor di mana Quinsha bekerja di perusahaan milik Bramantio.


"Kau yakin dengan keputusanmu, Azura?" tanya Dominic sekali lagi untuk meyakinkan.


"Kau saja bisa memiliki kemampuan hebat, apalagi putriku Lexi. Sudah di pastikan ia akan berhasil. Ingat, pengangkatan pemilik tunggal kekayaan dan kepimpinan akan segera di gelar." Azura mengingatkan kembali. Ia tidak ingin putrinya terusir dari istana dan menjadi gelandangan.


"Baiklah, kita lihat bagaimana hasilnya."