
"Aku manusia, bukan hantu seperti kalian!!" seru Quinsha menatap tajam Arkana, Chi Reng dan Dr Ku Cay, yang berdiri berjajar rapi di hadapannya.
"Quin, kau memang manusia dan kami lah hantunya, hahaha!," sahut Arkana di akhiri tertawa kecil karena mendapatkan tepukan tangan Chi Reng di keningnya.
"Quin, kau jangan marah marah. Kalau kau seperti itu, membuat kami bingung," sela Chi Reng.
"Nona, apa kau merindukan Tuan Bramantio?" tanya Dr Ku Cay tersenyum menyeringai.
"Apa kau bilang? enak saja, Quinsha kekasihku!" sergah Arkana melototi Dr Ku Cay.
"Hah? sejak kapan kalian jadian? mimpi kau ya!" Lagi lagi Chi Reng menepuk kepala belakang Arkana hingga mengundang kekesalan, Arkana menoleh mengepalkan tangannya.
"Stoooopppppp!!" pekik Quinsha, tengadahkan wajahnya dengan kedua tangan mengepal ke atas membuat ketiga pria di hadapannya berhenti berseteru dan tertawa melihat Quinsha menjadi kesal.
"Aku gila gara gara kalian!!" jerit Quinsha.
"Khababaammmm!!!"
Suara ledakan di antara mereka di barengi asap hitam pekat menyelimuti ruangan, datang tiba tiba dari arah luar.
"Uhuk uhuk!" Arkana dan yang lain terbatuk dan coba menetralkan ruangan itu dari asap kabut hitam
Beberapa menit kemudian asap tebal itu menghilang, dan suasana ruangan kembali semula. Namun sayang, Quinsha sudah tidak ada di tempatnya.
"Quin!!" ucap mereka serempak.
"Lucifer!!" seru mereka serempak, saling menatap tajam. Kemudian ketiganya berlari secepat kilat menuju kerajaan Lucifer.
"Wussssshhhhh!!"
Tanpa mereka sadari, Bramantio yang berhasil menyelamatkan Salman Cakra Nagara sudah berada di rumah itu dan mereka berdua menyusul Arkana dan yang lain menuju kerajaan Lucifer.
Bramantio dan Salman berlari ke arah barat, menyusul menyusul mereka bertiga. Tak lama mereka sampai dan betapa terkejutnya Bramantio melihat ribuan pasukan dari klan Werewolf, Salmndor dan Demon White lengkap dengan persenjataan.
Bramantio dan Salman sangat geram melihat pasukan yang jumlahnya ribuan berusaha masuk dan menyerang hanya untuk membunuh seorang wanita, lalu Bramantio mengulurkan tangannya ke atas, mengeluarkan api berwarna biru dan langsung mengarahkan ke pasukan serigala.
khababahhhhammm!!!
Suara ledakan terdengar dimana mana, dibarengi suara jeritan lolongan serigala yang ambruk tewas terkena api biru milik Bramantio.
Sementara Salman berlari ke arah timur, Bramantio naik ke atas dataran yang lebih tinggi dan mengulurkan tangannya menciptakan pola petir dan api hitam, kemudian diarahkan di mana pasukan salmandor dan para iblis yang mulai merangsek masuk ke kerajaan Lucifer.
Cratssst bleddarrrr!!!
Suara gemuruh dilangit, dan awan hitam menyelimuti langit kerajaan klan lucifer. Petir bersahutan seiring jeritan pilu dari pasukan salmandor dan demon white.
Entah sudah berapa banyak jumlah korban yang tewas akibat petir dan bola api biru milik Bramantio. Tanah kerajaan lucifer dibanjiri darah dan jeritan yang menyayat hati.
Sementara Arkana terus menekan mereka untuk keluar dari tanah lucifer dengan api birunya yang semakin membara. Arkana tersenyum sinis menatap musuh yang berjatuhan.
"Tak akan aku biarkan kalian menyentuh Quinsha kali ini!!.
"Hahahaha! kenapa kau terlihat panik Arkana?!" Salmandor tertawa keras membahana menatap Arkana tidak suka.
"Bagus! sesempurna apapun kau merencanakan kejahatan, tetap saja aku akan menggagalkannya Salmandor!" Seru Bramantio.
"Bram!!" Seru Arkana menatap senang dengan kehadiran Bramantio.
"Jangan sesumbar itu Bramantio!!" Salmandor menatap wajah Bramantio murka. Ia mengangkat tongkat trisula andalannya mengarah ke tubuh Bramantio dan Arkana.
Sinar biru dan merah melesat secepat kilat menghantam tubuh mereka berdua.
Namun dengan sigap Bramantio menghalau setiap kilat cahaya itu dengan pedang miliknya dan membuangnya ke arah pasukan serigala. Suara lolongan terdengar menggema bersamaan tewasnya pasukan serigala dan pasukan salmandor yang terkena cahaya merah dari tongkat trisula Sallmandor.
Salmandor semakin geram lalu dia memejamkan matanya, tangannya terulur ke atas dan membuat pola sihir, mengarahkannya ke tubuh Bramantio dan ribuan pisau melesat mengarah ke tubuh Bram dengan secepat kilat.
Dengan gerakan sedikit berputar dan terbang lebih tinggi, Bramantio dan Arkana mengibaskan ngibaskan pedangnya ke arah ribuan pisau hingga terpental jauh dan mengarah tempat kosong.
Bramantio berhasil membuang pisau buatan sihir salmandor, namun beberapa pisau lain berhasil menancap dipunggung dan kakinya.
Bramantio terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang, menatap salmandor marah. Darah segar mengalir dipunggung dan kakinya.
"Bram!" seru Arkana berlari ke arahnya.
Tak ingin membuang waktu salmandor mengambil busur dan panah lalu mengarahkan ke tubuh Arkana yang sedang mencabut pisau di kaki Bramantio.
Chi Reng yang sedang bertarung dengan puluhan serigala sekilas menoleh ke arah salmandor. Chi Reng yang mengetahui rencana salmandor langsung berlari ke arah Arkana.
"Splassshhh!!
Chi Reng pun terjungkal kebelakang dan darah segar mengalir dari dadanya.
"Chi Reng!!! seru Bramantio berlari mendekati tubuh Chi Reng yang hendak dicabik oleh seekor serigala putih.
"Bukkk!!
Bramantio menerjang serigala itu hingga ambruk, lalu jongkok dan mengangkat kepala Chi Reng ke pangkuannya.Tapi seketika itu juga puluhan panah melesat kearah Bramantio.
"Awaaasss!!! Pekik Arkana berlari menerjang serigala dan keluar dari pertarungan, berlari ke arah Bramantio seraya merapalkan mantra menghalau puluhan panah.
"Jlebbbbb!!
Beberapa anak panah menancap dipunggungnya meskipun sudah berusaha menghalau panah itu dengan pedangnya.
"Hahahahaha !!! mampuslah kalian semua ke neraka!! Salmandor tertawa puas melihat mereka terluka parah.
"Arkana.." ucap Bramantio menatap tubuh Arkana yang tersungkur dan tak bergerak lagi, satu butir air mata menetes dari sudut mata Bramantio. Untuk pertama kalinya Arkana mengorbankan nyawa demi melindunginya, setelah bertahun tahun lamanya mereka terlibat perseteruan hanya karena ingin menunjukkan siapa yang paling hebat.
Bramantio tidak menduga, jika Arkana memiliki kemurnian hati yang rela mengorbankan nyawanya demi orang lain layaknya keluarga.
"Keluarga?" satu kata terucap dari bibir Bramantio, inilah makna sebuah keluarga yang tak pernah meninggalkan satu sama lain, tapi melindungi satu sama lain dengan nyawanya.
Bramantio bangun setelah meletakkan tubuh Chi Reng di atas tanah, lalu berdiri tegap menatap tajam salmandor yang tertawa puas atas kemenangannya.
"Tak akan ku biarkan kau melukai keluargaku!!" seru Bramantio lantang, kemudian berlari menerjang Salmandor.
Salmandor terkejut dan berusaha menghindar tapi usahanya gagal. Sebuah terjangan kaki kanan Bramantio menghantam dada salmandor hingga terjungkal ke belakang dan terseret cukup jauh.
Bramantio kembali melancarkan serangannya namun satu buah terjangan menghantam punggung Bramantiohingga tersungkur.
Bramantio mengangkat kepalanya dan melihat orang yang menerjangnya baru saja. "Dominic?"
Belum sempat Bramantio bangun, Dominic menggerakkan tangan bersamaan dengan tubuh Bramantio mengangkat ke atas dan melemparkannya kesebuah pohon.
"Bukkk!!
Tubuh Bramantio melayang dan menabrak pohon besar, darah segar mengalir dari mulutnya.
"Hahahahah!!
Dominic tertawa puas berjalan mendekati salmandor membantunya berdiri.
" Kau datang diwaktu yang tepat," ucap Salmandor menatap tubuh Bramantio.
"Kita bunuh saja dia sekarang paman, jangan buang waktu lagi," Dominic mengangkat pedangnya tinggi tinggi dan menghunuskannya ke arah Bramantio.
"Matilah kau!"
Sebuah pedang melesat dengan cepat mengarah ke tubuh Bramantio. Namun pedang itu melesat menancap ke pohon.
"Tranggg!!!
Seseorang telah melempar sebuah batu berukuran sedang ke arah pedang itu hingga salah sasaran.
"Sial!" umpat Dominic menoleh ke arah Ku Cay dan Salman Cakra Nagara yang berhasil menyelamatkan Quinsha.
"Memalukan! seorang ksatria tidak akan melawan musuhnya ketika sedang tidak berdaya, cuih!" Ku Cay meludah didepan salmandor dan Dominic.
Salmandor dan Dominic terkekeh menatap Ku Cay dan Salman yang marah.
"Kalian sudah melewati batas kesabaranku!" Seru Salman.
"Kau tahu, meskipun aku kalah tapi masih bisa mengangkat kepala, karena aku bertindak sesuai kata hati dan demi keluarga, tapi kalian sangat memprihatinkan biarpun kalian menang, Iblis!" Ku Cay tertawa terkekeh menatap salmandor benci.
"kau!" Gurat marah terlihat jelas diwajah salmandor dan Dominic, mereka berdua merasakan sesak di dada saat menyebut kata Keluarga.
Salmandor dan Dominic diam diam menyatukan kekuatannya dan mengarahkan dua energi besar dan mengarahkannya ke arah mereka berdua.
BLARRR!!
Sebelum Dominic dan Salamandor melancarkan aksinya, sebuah kekuatan besar meledak di kerajaan Lucifer. Chi Reng dan yang lain terpental jauh keluar dari kerajaan Lucifer. Sementara Dominic dan Salmandor terpental jauh di tempat yang berbeda.
Bramantio dan yang lain berusaha untuk bangun, menatap kerajaan Lucifer luluh lantak rata dengan tanah. Asap tebal menyelimuti puing puing kerajaan berangsur mengilang. Di antara reruntuhan puing, Quinsha terlihat jelas dengan wajahnya terkena noda hitam, pakaiannya compang camping dab rambutnya sebagian terbakar. Rupanya kekuatan besar itu berasal dari Quinsha ketika amarahnya mulai tersulut melihat Arkana dan yang lain terluka karena nya. Bramantio tertawa terbahak bahak melihat penampakan Quinsha.
"Hei bodoh! kenapa kau tertawa!" umpat Quinsha lalu berlari dan memeluk erat tubuh Bramantio. "Kenapa lama sekali kau pergi."
Bramantio tersenyum, lalu membalas pelukan erat Quinsha. Rasa lelahnya menyelamatkan Salman terbayar sudah dengan satu pelukan rindu dari Quinsha.