Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 51



Angin berhembus sangat kencang, menerpa rambut panjang Arkana hingga menghalangi wajahnya. Ia masih berdiri tegap memperhatikan sekitar. Dinginnya udara sangat menusuk ke tulang, Arkana terus mengalirkan hawa panas di setiap aliran darahnya supaya ia tidak mati membeku.


"Bram, Quin, kalian di mana.." gumam Arkana.


"Bleddarr!"


Tiba tiba kilat menyambar, Arkana tengadahkan wajahnya ke langit memperhatikan dari mana arah kilat itu datang.


"Bram.." ucapnya, ia merasa sudah menemukan di mana Bramantio dan Quinsha berada.


"Bertahanlah!" Seru Arkana.


Sayap hitam di punggungnya, ia kepakkan lalu terbang tinggi ke angkasa. Berputar putar di ketinggian menjelajah tempat tersebut.


"Di mana kalian?" Ucap Arkana dalam hati, matanya terus memperhatikan ke bawah.


"Apa itu?"


Arkana melihat bongkahan es sebesar bola berukuran besar, kemudian ia menukik tajam menghampiri bongkahan bola es tersebut.


"Tep!"


Kakinya menginjak tanah bersamaan dengan sayap hitam di punggungnya kembali menghilang. Ia berjalan mendekati bongkahan es tersebut, betapa terkejutnya Arkana melihat dua sosok yang ia kenal berada di dalam bongkahan es dalam keadaan mata terpejam, kedua tangan di lipat di dada.


"Bram! Quinsha!" Pekiknya, kedua tangan memegang bongkahan es tersebut.


"Apa yang terjadi dengan kalian?" Gumamnya.


Arkana mundur beberapa langkah lalu memutar kedua tangannya membentuk lingkaran. Bola api kecil muncul dari bentuknya yang kecil berubah menjadi besar. Lalu ia lemparkan bola api itu ke arah bongkahan es tersebut berkali kali.


"Bummm!"


"Bummm!"


"Bummm!"


Namun berkali kali usaha Arkana gagal., kemudian Arkana mengerahkan semua kekuatannya untuk menghancurkan bongkahan es itu tanpa melukai Bramantio dan Quinsha. Hingga sekitar tempat itu hancur dan bongkahan es berubah mencair, namun tidak dengan bongkahan es yang menutupi tubuh Bramantio dan Quinsha.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Arkana dalam hati, hampir putus asa. Energi dalam tubuhnya melemah, ia duduk di atas es memperhatikan bongkahan es tersebut dengan mata bsrkaca kaca menatap wajah Quinsha terlihat pucat dan membiru.


"Tidak, aku tidak boleh menyerah. Bertahanlah Quin, Bram." Gumamnya.


"Aku belum siap kehilangan kalian, pasti ada cara lain tapi apa?" Arkana terus berpikir keras bagaimana menyelamatkan orang yang ia sayangi.


Arkana terdiam cukup lama memperhatikan bongkahan es tersebut, lalu ia membaca mantra. Duduk bersila dengan kedua tangan di lipat di dada. Ia memejamkan mata, membuat lingkaran di sekitar untuk melindungi dirinya selama ia melakukan ritual untuk mendapatkan petunjuk.


Naomi yang tengah jatuh cinta pada sosok Alrick. Ia selalu meninggalkan rumah diam diam meskipun Basreng dan Chireng sudah memperingatkan, apalagi sebentar lagi akan datang bulan purnama.


Naomi yang masih belum paham situasi yang terjadi dan belum mengetahui siapa dirinya, terus membantah dan tidak mau mendengarkan nasehat Chireng dan Basreng.


"Semalam aku mendapatkan firasat buruk." Kata Basreng, matanya menatap kosong ke depan.


Chireng yang duduk di sampingnya memperhatikan Basreng yang tengah bercerita tentang mimpinya semalam dengan serius.


"Entah kenapa, rasa yang kumiliki sangat kuat. Tuan Bram dan Nona Quinsha sedang dalam bahaya."


Chireng masih diam memperhatikan dengan serius.


"Aku melihat mereka berdua berada di ruangan yang pengap dan hampir mati."


"Kau yakin dengan mimpimu?" Tanya Chireng akhirnya membuka suara.


Basreng mengalihkan pandangannya menatap Chireng lalu menggelengkan kepala pelan.


"Tidak."


"Plakk!!"


Chireng memukul kepala Basreng.


"Aku pikir kau serius, ternyata tidak!" Sungutnya.


"Hei, tapi mimpi itu seperti nyata!" Basreng balas memukul kepala Chireng.


"Pertanyaannya sejak kapan klan serigala kalau malam tertidur?" Tanya Chireng.


Basreng menggaruk kepalanya.


"Bukankah semalam kau tidak tidur? Lalu dari mana asal mimpimu?" Kata Chireng.


"Iya juga.." jawab Basreng bingung.


"Apa ini!" Chireng tiba tiba berdiri menatap ke arah ujung jalan. Ia mencium aroma klan iblis dan Vampire tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Vampire!" Seru Basreng, lalu berdiri setelah ia mencium aroma yang sama seperti Chireng.


"Non Naomi!" Keduanya saling pandang sesaat lalu mereka berlari secepat kilat mencari keberadaan Naomi.