Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 48



Sepeninggal Bramantio dan Quinsha ke tempat larangan mencari kitab, Arkana memutuskan untuk membawa Naomi ke dunia manusia demi keselamatannya. Sebab Arkana tidak dapat memastikan kapan Bramantio dan Quinsha kembali.


Di dunia manusia Arkana menunjukkan kebiasaan manusia pada Naomi. Ia juga berpesan kepada Naomi hal apa yang harus di hindari dan hal apa yang boleh Naomi lakukan selama tinggal di dunia manusia.


Sementara Arkana seperti biasa bekerja memimpin perusahaan miliknya. Naomi sendiri di jaga oleh Basreng dan Chireng. Namun bukan Naomi jika tidak membuat Basreng dan Chireng kewalahan oleh kenakalannya yang selalu serba ingin tahu tentang manusia.


"Celaka, non Naomi hilang lagi." kata Chireng mengusap rambutnya dengan gusar.


"Kau bodoh kali, gunakan indra penciumanmu!" sungut Basreng seraya menepuk pundak Chireng.


"Ya ampun, aku sampai lupa!" seru Chireng.


Chireng adalah bagian dari klan serigala. Tenty saja mudah baginya melacak aroma tubuh Naomi. Namun kali ini Chireng tidak menyadari, kalau kemampuan Naomi diatas dirinya. Berkali kali Chireng memusatkan indra penciumannya namun usahanya gagal.


"Bagaimana?" tanya Basreng.


Chireng menggelengkan kepalanya.


"Nihil."


Basreng mencoba dengan kemampuannya. Namun saat ia sedang memusatkan perhatiannya. Tiba tiba kilat menyambar sebuah pohon yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Bleddarrr!!"


Chireng dan Basreng berjengkit kaget menatap pohon besar di hadapannya terbelah, lalu mereka berdua tengadahkan wajah menatap langit yang terlihat cerah.


"Tuan Bram!" seru mereka berdua.


"Ayo kita cari non Naomi!" seru Basreng berlari dengan kecepatan secepat kilat mendahului Chireng yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


"Pertanda buruk dari tuan Bram." Gumam Chireng masih menatap langit, detik berikutnya ia berlari menyusul Basreng.


Sementara di tempat lain.


Naomi tengah mengikuti langkah seorang pria muda berwajah sangan rupawan sedang berjalan santai membawa koper kecil. Aroma maskulin yang berasal dari tubuh pria itu memmbuat Naomi tergoda dan ingin mengikuti langkah pria tersebut.


"Kau mengikutiku?" tanya pria itu.


Naomi menggeleng cepat seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Lalu?" tanyanya lagi.


"Ah, anu..aku..aku.." ucap Naomi terbata bata.


Pria itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya.


"Alrick." pria itu menyebutkan namanya.


Naomi melirik tangan Alrick, jari jemarinya yang lentik mengajaknya berjabat tangan. Naomi dengan ragu ragu tapi akhirnya ia membalas jabat tangan Alrick.


"Naomi."


"Nama yang cantik, apa kau mau ikut minum kopi bersamaku?" tawar A tersenyum tipis, kedua alisnya diangkat menunggu jawaban Naomi.


"Boleh!" sahut Naomi tidak menolak tawaran A.


Alrick dan Naomi berjalan bersama menuju jalan raya. Lalu mereka berdua menyebrang jalan menuju kafe yang berada di sebrang jalan.


Sesampainya di halaman kafe, tangan Alrick menggenggam tangan Naomi, membuat gadis itu seketika melupakan rasa sukanya terhadap Arkana. Kemudian mereka memasuki kafe dan memilih tempat duduk di sudut ruangan dekat kaca jendela kafe.


Alrik menarik kursi dan mempersilahkan Naomi duduk kemudian ia memesan dua kopi. Setelah itu ia duduk seraya meletakkan kopernya di kursi di sampingnya. Tak lama pelayan kafe datang membawakan dua cangkir kopi lalu di letakkan di atas meja, setelah itu pelayan kafe tersebut berlalu dari hadapan mereka.


"Kau masih kuliah atau bekerja?" tanya Alrick membuka pembicaraan seraya mengangkat cangkir kopi miliknya.


Naomi menggeleng cepat.


"Hei, ayolah jangan terlalu formal. Biasa saja, aku tidak suka pembicaraan yang serius, itu sangat membosankan!" sungut Naomi.


Alrick tertawa lebar, ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia merubah alur perbincangan lebih ke hal hal yang ringan, dan ternyata usahanya berhasil. Berkali kali Naomi tertawa dan tidak sungkan membalas candaan Alrick, seolah olah mereka sudah berteman sejak lama.