Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 45



"Naomi!!" teriak Quinsha, memperhatikan seisi dapur mirip kapal pecah. Asisten rumah tangga yang berada di dapur, wajahnya di penuhi dengan tepung.


"Bukankah dia nakal, mirip denganmu?" bisik Bramantio di telinga Quinsha.


Quinsha menoleh, "tapi sayang, aku tidak seperti Naomi. Di mana ada dia,pasti terjadi kekacauan." Ujar Quinsha menarik napas kesal.


"Sudahlah sayang, biarkan putri kita mencoba hal hal yang baru di luar sana." Bela Bramantio, selalu senang dengan kenakalan Naomi. Putri satu satunya, buah cintanya dengan Quinsha.


Quinsha membalikkan badannya, melipat kedua tangan di dada. Menatap jengah Bramantio yang berdiri di hadapannya.


"Sayang, Naomi memiliki kekuatan yang belum bisa ia kendalikan. Aku khawatir terjadi sesuatu di luar sana." Protes Quinsha.


"Tenanglah sayang, percaya saja." Bramantio kembali membujuk Quinsha untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Naomi.


"Baiklah, kalau begitu kita siap siap menemui ayahku. Ada hal penting yang ingin di sampaikan."


"Baiklah sayang." Kata Bramantio. Merangkul bahu Quinsha, melangkah bersama menuju kamar pribadinya untuk bersiap siap.


Tak lama kemudian, mereka sudah selesai. Bramantio melirik Quinsha, tangannya saling menggenggam erat.


"Apa kau sudah siap?" tanya Bramantio.


Quinsha menganggukkan kepalanya.


"Tentu!"


"Wusssss!!!"


Mereka berdua menggunakan kemampuan berlari cepat, bersamaan dengan angin berhembus kencang. Mereka berdua berlari secepat kilat menuju kerajaan Salman Cakra Nagara.


****


"Nona tunggu!"


Naomi menoleh ke belakang. "Ayolah paman, lambat sekali!" protes Naomi menatap jengah Chireng.


"Nona awas!" teriak Chireng.


Naomi mengalihkan pandangan ke arah jalan raya, Stroller bayi meluncur dengan cepat, di belakangnya seorang wanita paruh baya berlari dan berteriak minta tolong. Naomi berlari mengejar kereta bayi tersebut.


"Ciiiittttttt!!"


Bersamaan dengan sebuah mobil mewah berhenti mendadak tepat di depan Naomi.


Kedua pria di dalam mobil itu matanya melebar, hampir saja sang sopir menabrak Naomi dan bayi dalam kereta tersebut, tatapan matanya tertuju pada Naomi yang mengarahkan dua jarinya ke arahnya.


Kemudian kedua pria di dalam mobil keluar untuk memastikan kalau Naomi dan bayi itu baik baik saja. Namun saat melihat bemper depan mobilnya penyok. Salah satu pria yang menggunakan kaca mata, matanya semakin melebar. Bagaimana mungkin mobilnya bisa penyok seolah olah habis menabrak beton. Pria itu melirik ke arah Naomi. Rambut panjangnya berantakan seperti habis tertiup angin.


"Tuan, mobilnya." Kata sang sopir.


"Hey, bukannya aku yang kalian tanyakan. Bukan mobil kalian!" seru Naomi, kaki kanannya menendang mobil tersebut.


"Bagaimana mungkin mobilku bisa rusak seperti ini..." ucap pria itu memperhatikan Naomi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada yang aneh.


"Ah sudahlah. Males!" Naomi balik badan, mendorong kereta bayi lalu di berikan pada ibunya. Setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya di ikuti Chireng dari belakang.


"Siapa gadis itu?" tanya pria tersebut memperhatikan langkah Naomi hingga hilang dari pandangannya.


"Bagaimana ini, tuan?" tanya sang sopir.


"Tentu saja ke bengkel. Sial!" rutuk pria tersebut lalu jongkok di hadapan mobil mililnya. Tangannya mengusap usap mobilnya. Ia masih bingung, mengapa mobilnya bisa rusak seperti itu.