Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 12



Setelah semalaman berusaha melarikan diri namun usahanya sia sia. Akhirnya Quinsha tertidur pulas di kamar pribadinya yang sudah di sediakan Bramantio.


Quinsha terbangun di pagi hari karena selimutnya di tarik Bramantio, tubuhnya di angkat lalu di gendong ke kamar mandi. Di ceburkan ke dalam bak mandi yang berisi air hangat.


"Byurrrr!"


Baru saja Quinsha hendak mengumpat, Bramantio lebih dulu bicara.


"Cepat, jangan sampai aku menunggu. Kita cari pakaian yang pas buatmu. Karena malam nanti, ada acara pesta ulang tahun Putri Bangsawan." Kata Bramantio, setelah bicara seperti itu beranjak pergi meninggalkan Quinsha di kamar mandi.


"Ahh! Bram membuatku kesal!" rutuk Quinsha. Sambil melepaskan satu persatu pakaiannya lalu di letakkan di atas lantai kamar mandi.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Quinsha telah selesai membersihkan dirinya. Lalu keluar dari kamar mandi menggunakan balutan handuk.


"Apa ini?" Quinsha mengambil pakaian yang ada di atas tempat tidur, dan sarapan pagi yang sudah di sediakan Bramantio selagi Quinsha mandi. "Dia baik, tapi bikin aku kesal. Dan aku tidak menyukainya."


"Cepat pakai pakaianmu!"


Quinsha melonjak kaget, balik badan menatap horor ke arah Bramantio.


"Kenapa kau selalu sesuka hatimu masuk ke dalam kamar, dan memerintahku seolah olah aku ini mainanmu?!" tanyanya.


"Mengapa harus kau pertanyakan lagi? bukankah hal yang aku sukai adalah memaksamu!" balas Bramantio tersenyum lebar.


"Terserah!" ucap Quinsha kesal, lalu mengambil pakaian yang ada di atas tempat tidur, dan berlalu dari hadapan Bramantio menuju pintu.


***


Malam pukul 19:00


Bramantio telah siap untuk menghadiri pesta jamuan makan malam sekaligus perayaan hari ulang tahun putri salah satu Bangsawan tinggi Salman cakra Negara.


Begitu pula dengan Quinsha yang akan menemani Bramantio ke acara itu, sudah terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun pesta mewah berwarna merah tua.


"Apa kau sudah siap?" tanya Bramantio memperhatikan Quinsha dari atas hingga ujung kaki.


"Tentu saja bodoh!" sahut Quinsha ketus.


Bramantio tertawa kecil mendengar panggilan Bodoh yang selalu di sematkan Quinsha saat menjawab semua ucapannya. Ia mengangkat tubuh Quinsha dan menggendongnya.


"Bisa tidak? kau membiarkan aku berjalan sendiri?" tanya Quinsha kesal.


"Kau selalu lambat dan banyak bicara, jadi diamlah biar kita cepat sampai tanpa membuang waktuku karena sikapmu yang lamban."


Kali ini Quinsha tidak lagi menyaut, ia memilih diam dan membiarkan Bramantio menggendongnya sampai di halaman rumah. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.


"Nanti di sana, kau jangan buat aku malu. Oke?" pinta Bram.


Namun Quinsha tidak menjawab, hanya diam dan pura pura tidak mendengarnya. Mobil pun melaju meninggalkan rumah.


Hanya butuh waktu tiga puluh menit saja, mereka telah sampai di sebuah halaman yang sangat luas. Mereka berdua keluar dari dalam mobil, berdiri tegap menatap ke depan.


"Woooww..." Quinsha berdecak kagum melihat rumah megah layaknya istana di depannya.


"Ayo masuk!" Bramantio meraih tangan Quinsha lalu menggenggamnya erat. Lalu mereka melangkah bersama memasuki rumah bak istana tersebut.


Sesampainya di dalam, mereka langsung di samput oleh Salman Cakra Negara dan sang istri yang bernama Azura dan putrinya yang bernama Lexi.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Salman." Sapa Bramantio membungkukkan badan sesaat.


"Selamat datang Bram, silahkan!" Salman menyambut dengan tersenyum.


"Hey Tuan, ini rumahmu besar sekali!" tanya Quinsha tersenyum lebar menatap Salman Cakra Negar.


"Siapa dia?" tanya Azura tersenyum mencemooh ke arah Quinsha.


"Halo Nyonya!" sapa Quinsha melambaikan tangannya.


"Bram, kau yakin dia sahabatmu?" tanya Lexi tersenyum sinis menatap ke arah Quinsha.


"Sudah, sudah, silahkan!" Salman memotong perbincangan lalu mempersilahkan mereka untuk berbaur.


"Ya Tuhan!" ucap Bram pelan seraya menepuk keningnya sendiri.


"Ada apa? apa yang salah?" tanya Quinsha menoleh ke arah Bram.


"Lupakan!" sahut Bram merasa malu atas sikap Quinsha.


"Hai sayang!"


Bram dan Quinsha terkejut dengan kehadiran Arkana yang tiba tiba saja sudah berada di depan mereka.


"Kau lagi." Ucap Bram menatap jengah.


"Kau lupa? aku salah satu undangan spesial di pesta ini." Bisik Arkana di telinga Bram.


"Terserah." Balas Bram kesal, lalu menarik tangan Quinsha untuk duduk di kursi.


Sementara Quinsha sibuk memperhatikan setiap sudut ruangan yang di dekorasi sangat mewah. Menatap ke arah tamu undangan dengan pakaian mewahnya duduk di kursi dengan elegan. Lalu pandangannya ia alihkan ke arah Salman Cakra Negara, hatinya berdesir. Entah apa yang di rasakannya, tapi yang pasti satu perasaan yang sulit untuk di jelaskan.


"Apa yang kau lihat?" bisik Bram, membuyarkan lamunan Quinsha.


"Tidak ada!" sahut gadis itu.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya!" sapa Salman Cakra Negara memulai acara pesta ulang tahun. Di sambut tepuk tangan para tamu undangan.


Semua orang fokus menatap ke arah keluarga Bangsawan itu, tapi Quinsha memperhatikan salah satu pelayan di antara tamu undangan.


"Wanita itu mirip Bu Jasmin." Ucap Quinsha pelan.


"Plok plok plok!" suara riuh tepuk tangan, para tamu undangan berdiri dan memberikan ucapan selamat kepada Lexi dan keluarganya.


Quinsha ikut berdiri, lalu melangkahkan kakinya menerobos para tamu undangan dan mencari wanita yang mirip dengan Jasmin.


"Itu dia!" serunya pelan.


Quinsha dengan tergesa gesa berjalan mengejar wanita yang mirip dengan Jasmin menyusuri lorong. Karena sepatu dan gaunnya menyulitkan langkah kakinya. Quinsha melepas sepatu lalu di letakkan begitu saja di lantai. Gaunnya di angkat selutut, lalu berlari mengejar wanita itu yang berada di ujung lorong.


"Ibu!" panggil Quinsha terus berlari hingga ujung lorong.


Namun Quinsha kehilangan jejak wanita itu, ia kebingungan harus memilih belok ke kiri atau kekanan.


"Sepertinya dia kesini." Ucapnya pelan.


Quinsha belok ke arah kiri, menyusuri lorong, hingga akhirnya ia tersesat. Ia berada di ruangan yang sama sekali tidak ada orang. Lalu Quinsha kembali berlari dan akhirnya menemukan sebuah pintu. Lalu ia membuka pintu itu, namun bukan ruangan pesta, melainkan lapangan yang cukup luas.


Seketika ia teringat dengan mimpinya. "Aku seperti pernah melihat ruangan ini dalam mimpiku." Gumamnya pelan.


Perlahan Quinsha berjalan menuju lapangan, berputar pelan memperhatikan setiap sudut. Ia merasa seperti ada di dalam mimpi.


Suara teriakan menghiba seorang wanita kembali berputar di otaknya.


"Eksekusi wanita penipu itu!"


"Bunuh! bunuh!"


"Tidak! tidak! aku bukan penipu! aku bukan penipu! percayalah, aku istrinya, aku istrinya!!"


"Tidak!! tidak!!"