
Entah sudah berapa lama Quinsha duduk di dahan pohon besar. Menatap ke bawah, memperhatikan Arkana dan Chi Reng perlahan membuka matanya lalu bangun dan duduk di atas tanah. Meremas rambutnya masing masing karena pusing, efek dari obat yang mereka konsumsi lalu saling memandang satu sama lain.
"Apa yang kau lihat?" tanya Arkana mengerutkan dahi menatap wajah Chi Reng serius.
"Tidak ada," jawab Chi Reng menggeleng pelan.
"Kenapa kita tidur di sini?" tanya Arkana memperhatikan sekitar.
"Aku tidak tahu," sahut Chi Reng.
"Quin? dimana dia?" tanya Arkana menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Mungkin di dalam rumah." Chi Reng berusaha untuk bangkit di ikuti Arkana, tangan mereka saling berpegangan satu sama lain untuk membantu menopang tubuh mereka masing masing.
Namun saat Arkana melangkahkan kakinya, ia tersandung kakinya sendiri akibat pusing di kepala. Alhasil Arkana terjerambab dan jatuh ke tanah, telentang di susul Chi Reng jatuh tepat menimpa tubuh Arkana.
"Cup!"
Bibir mereka saling beradu, mata Arkana melebar menatap wajah Chi Reng yang tertawa.
"Brengsek! menyingkir dari tubuhku!" seru Arkana lalu menggeser tubuh Chi Reng ke samping.
Keduanya bangkit dan berdiri tegap bersamaan. Arkana mengusap bibirnya, menatap wajah Chi Reng membayangkan tubuhnya berada di atas tubuhnya, lalu begidik.
"Fuih fuih!!" Arkana berkali kali mengusap bibirnya. Sementara Chi Reng hanya tertawa kecil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hahahahaha!!!"
Arkana dan Chi Reng mendongakkan kepala menatap ke arah Quinsha yang tengah tertawa terbahak bahak di atas pohon.
"Quin!" Panggil mereka serempak. "Ayo turun!"
"Baiklah!" sahut Quinsha lalu ia turun dari atas pohon dengan mudah, berdiri tegap di hadapan mereka.
"Hei! jangan menatapku seperti itu!" seru Quinsha memperhatikan Arkana dan Chi Reng yang menatapnya tajam, meminta pertanggungjawaban. "Baiklah, aku minta maaf."
"Aku akan memaafkanmu, tapi ada syaratnya." Kata Arkana berjalan lebih dekat dengan Quinsha.
"Apa?" tanya Quinsha menatap wajah culun Arkana.
"Bibirku sudah ternodai Chi Reng, maukah kau menciumku untuk membersihkan noda dari bibirku?" pinta Arkana, alisnya naik turun tersenyum tipis.
"Buk!" Quinsha menepuk perut Arkana cukup keras.
"Awww!" erang Arkana memegang perutnya.
Keduanya terdiam, telinga mereka menangkap sebuah pergerakan yang mencurigakan dari berbagai arah.
"Ada apa?" tanya Quinsha menatap raut wajah serius kedua pria di hadapannya.
"Kita di kepung Quin!" Seru Arkana menarik tangan Quinsha supaya mendekat, tangan kirinya terulur ke atas mengeluarkan portal cahaya putih, lalu menyebar ke semua penjuru untuk melindungi manusia.
"Apa kabar Quinsha!" sapa Lexi dari arah belakang.
Quinsha dan yang lain berbalik badan, mencari sumber suara. "Lexi?" ucap Quinsha.
"Apa maumu?!" tanya Arkana menatap benci ke arah Lexi.
"Tenanglah Arkana, kenapa kau sekarang berubah? bukankah aku masih tunanganmu? seharusnya kau berada di pihakku, bukan di pihak dia!" tunjuk Lexi marah ke arah Quinsha.
"Itu dulu, sekarang tidak lagi. Karena aku tahu, kau adalah putri palsu!" jawab Arkana tegas.
"Rupanya kau sudah termakan fitnah, aku lah putri yang asli!" seru Lexi.
"Cih! Pembual! yang asli bukan kau, tapi Quinsha!" tunjuk Arkana ke arah Quin.
"Apa maksudmu?" tanya Quinsha mendengar pernyataan Arkana.
"Upss celaka, aku keceplosan." Gumam Arkana dalam hati.
"Apa kau sudah gila?" bisik Chi Reng. "Bramantio sudah berpesan supaya tidak mengatakan apapun soal Quin?"
"Arkana, hari ini aku sedang tidak ingin bermain main. Tapi lain kali, tidak akan kubiarkan kalian hidup!" ancam Lexi.
Setelah bicara seperti itu, Lexi meninggalkan tempat. Namun Arkana dan Chi Reng masih terus waspada karena mereka tahu, tempat itu sudah di kepung pihak musuh.
"Apa yang membuat mereka tidak menyerang kita?" bisik Chi Reng.
Arkana menggelengkan kepalanya, tengadahkan wajahnya menatap langit dan berharap Bramantio hadir.
"Sebaiknya kau bawa Quinsha masuk ke dalam." Perintah Arkana.
"Baiklah!" sahut Chi Reng.
"Ada apa?? kenapa kalian selalu membuatku kebingungan?" tanya Quinsha bingung melihat perubahan sikap kedua pria itu.
"Quin, sebaiknya kita masuk!" Chi Reng menarik pelan tangan gadis itu menjauh dari Arkana.