
"Aku lelah sekali ibu.." rutuk Quinsha lalu turun dari atas sepeda dan menuntunnya.
Ia kembali melanjutkan langkahnya karena pulau terpencil itu sudah semakin dekat.
"Gusrakk!"
Terdengar suara gemerisik di atas pohon, Quinsha tengadahkan wajahnya menatap pohon. Terlihat bayangan hitam, rambutnya tertiup angin dan memberikan kesan horor kepada gadis itu.
"Hantuuuu!!"
Quinsha naik ke atas sepeda lalu mengayuhnya dengan cepat, namun bayangan itu semakin mengejarnya membuat gadis itu tidak fokus ke jalan.
"Gubrakkk!"
Sepedanya oleng kesamping lalu tubuh Quinsha terjatuh ke jalan aspal bersamaan dengan sepeda yang menimpanya.
"Aww sakit sekali." Gadis itu mencoba menggeser sepedanya.
"Hahaha!
Quinsha menoleh kebelakang, menatap seseorang yang ia kenal tengah tertawa terbahak bahak. Ia bangun lalu berdiri tegap menatap marah.
"Arkana? kau selalu membuatku gila, kau membuat aku kesusahan!!"
"Kau menyalahkanku? bukankah kau sendiri yang kabur?" jawab Arkana dengan santai.
"Jadi, dari tadi kau yang mengikutiku? yang diatas pohon juga kau?!"
"Diatas pohon? aku?" tunjuk Arkana ke dadanya sendiri.
"Iyalah kau! memang ada hantu lagi selain kau!"
Arkana terdiam, kedua alisnya bertaut memperhatikan sekitar. Tiba tiba Arkana bereaksi berbeda, ia menarik tangan Quinsha dan menyembunyikannya di belakang tubuh Arkana.
"Selamat malam Arkana, Nona Quinsha." Sapa seseorang berambut putih, alisnya putih, tetapi wajahnya masih muda dan ketampanan wajahnya hampir sama dengan Arkana.
"Dominic?" Arkana balas menyapa.
"Hantu dari mana lagi dia?" bisik Quinsha pelan, menatap ke arah Dominic.
"Sembarangan, dia bukan hantu. Tapi salah satu orang terkuat di sisi Salman Cakra Nagara." Jawab Arkana pelan.
"Hem!" Dominic berdehem.
"Aku tidak memiliki kepentingan denganmu Arkana, aku hanya menginginkan gadis itu." Tunjuk Dominic ke arah Quinsha.
"Aku?" tunjuk Quinsha ke hidungnya sendiri. "Aku tidak mengenalmu. Dan aku tidak ada kepentingan denganmu!"
"Hahaha!" Arkana tertawa di ikuti oleh gadis itu.
"Jangan paksa aku berlaku kasar!" ancam Dominic.
Arkana dan Quinsha terdiam saat melihat puluhan serigala berada di belakang Dominic dalam sekejap mata.
"Arkan.."
"Hem!" Arkana menoleh ke arah Quinsha.
"Coba kau cubit pelan hidungku, apa aku sedang bermimpi?" pinta gadis itu.
Arkana mengulurkan tangannya mencubit hidung Quinsha dengan sangat gemas.
"Awww sakit bodoh!!" umpat Quinsha memukul tangan Arkana.
"Kau yang minta bukan?" sahut Arkana tertawa kecil.
"Berhenti bercanda! aku tidak punya waktu!" bentak Dominic membuat Arkana dan Quinsha terdiam menatap tajam ke arahnya.
"Ada masalah apa, kau dengan dia?" tanya Arkana.
"Jangan banyak bicara, serahkan gadis itu padaku." Kata Dominic.
Arkana tertawa kecil, melirik ke arah Quinsha sesaat. "Langkahi dulu mayatku."
"Arkana, kau jangan mempersulitku. Kau tahu akibatnya jika Tuan Salman mengetahui kalau kau mencoba menghalangi tugasku." Ancam Dominic.
"Oya? benarkah Tuan Salman yang memerintahkanmu? atau jangan jangan..?" Arkana menatap tajam Dominic, coba menelisik isi pikiran pria berambut putih itu.
"Jangan coba coba bermain main denganku, Arkana." Balas Dominic menatap tajam, menelisik seberapa kuat kehebatan Arkana.
Sementara serigala yang berada di belakang Dominic, terus menyalak seakan alan tidak sabar untuk mencabik cabik tubuh Arkana.
Arkana sendiri sudah tahu kehebatan Dominic. Yang lebih menakutkan dari Dominic, pria tersebut memiliki kekuatan menarik energi lawannya hingga mati.
"Bram..Bram, datanglah..kali ini aku membutuhkanmu.." ucap Arkana dalam hati, berkali kali menyebut nama Bramantio.