Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 35



Arkana berlari lalu terbang tinggi dan menginjakkan kakinya di tanah tepat di samping Quinsha.


Quinsha terkejut dengan kehadiran Arkana, ia menoleh dan tersenyum kecut.


"Sejak mengenalmu, hidupku sudah seperti buronan." Kata Quinsha dengan nada kesal.


Namun Arkana hanya diam, mengabaikan kata kata Quinsha. Tatapan nya tajam dan waspada memperhatikan gerakan musuh yang semakin lama semakin banyak dan tak terhitung jumlahnya. Angin berhembus dengan kencang, debu beterbangan membuat Arkana dan Quinsha menyipitkan mata.


"Apa yang mereka inginkan sebenarnya?" tanya Quinsha mulai bersiap siap mengepalkan tangan dan fokus ke depan memperhatikan musuh.


"Simpan pertanyaanmu, bukan saatnya kau bertanya. Memangnya kita sedang sekolah? apa kau tidak lihat?" jawab Arkana dingin.


Quinsha mengerutkan dahi menoleh ke arah Arkana sesaat. Untuk pertama kalinya Quinsha melihat pria itu terlihat sangat serius.


"Terserah!" balas Quinsha.


"Auuuuuu!!!"


Lolongan dari ribuan klan werewolf yang semakin banyak berdatangan, mata merah menyala, gigi taring yang runcing, siap mengoyak tubuh Quinsha dan Arkana.


"Hahahaa!" suara tertawa terbahak bahak membahana, namun sosok itu belum nampak.


"Tep!"


Suara kaki menginjakkan tanah. Tepat di hadapan mereka, Dominic, Altarik dan Alexander berdiri, tersenyum menyeringai.


"Arkana, kau di pihak mana? seharusnya kau berada di pihak kami untuk mendapatkan gadis itu!" seru Altarik lantang.


"Tutup mulutmu!" bentak Arkana maju selangkah berada di depan Quinsha.


"Rupanya kau membelot terhadap Klan mu sendiri tuan muda Arkana!" ucap Akexander menatap tajam Arkana.


"Bukan urusanmu!" balas Arkana.


"Bleddaarrr!!"


"Bleddaarrr!!


Tiba tiba saja langit terlihat mendung, angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya. Gemuruh guntur terdengar bersahutan sedangkan tiada hujan.


Arkana tersenyum, tengadahkan wajahnya menatap langit. Ia tahu, kehadiran Bramantio akan di sertai gemuruh guntur yang saling bersahutan.


"Sungguh kalian tidak punya malu! aku masih pemimpin kalian!"


Semua ketua klan yang ada di tempat tersebut mencari sumber suara yang sangat familiar.


"Tep! sosok Bramantio tiba tiba hadir di antara mereka, menatap tajam, matanya berubah menjadi iris memancarkan energi yang sangat kuat.


"Rupanya kau sudah merasa hebat, berani sekali meminta Quin kepadaku!" ucap Bramantio marah.


Bramantio mengulurkan tangannya ke atas bersamaan munculnya petir menyambut telapak tangannya yang terbuka.


Altarik, Dominic, Alexander mundur beberapa langkah dan memerintahkan para sekutu menyerang.


"Bleddarrr!!"


Petir berwarna biru menyambar klan werewolf, Bramantio mundur ke belakang, menarik tangan Quinsha lalu memeluknya dengan erat.


"Jangan pergi dariku, tetap di sampingku. Mereka semakin banyak," ucap Bramantio terus mengayunkan tangannya melemparkan petir berwarna biru. Quinsha menuruti apa kata Bramantio, memeluk tubuh pria itu dengan erat. Meski hawa panas dalam tubuh Bramantio sangat terasa di tubuh Quinsha.


Sementara Arkana berlari dengan kedua tangan di hempaskan ke kiri dan kekanan bersamaan dengan bola api ke arah klan Vampire.


"Duarrrr!


"Bleddaarrr!!"


Angin berhembus kencang, asap tebal membumbung tinggi. Pohon satu persatu tumbang terkena sambaran petir. Aroma daging terpanggang sangat menyengat. Lolongan serigala terdengar memekakkan telinga ketika mereka meregang nyawa akibat bola api dan sambaran petir.


Sementara Dominic diam memperhatikan jalannya pertarungan, mencari celah bagaimana menculik Quinsha dari dekapan Bramantio.


Beberapa menit berlalu, pertarungan belum menunjukkan tanda tanda ada yang menyerah. Namun detik berikutnya, Bramantio yang mulai panik melihat Quinsha kepanasan akibat energi petir yang ia keluarkan. Akhirnya merubah formasinya, matanya yang berwarna irish berubah menjadi hitam gelap.


Wajahnya tengadah menatap langit, tatapannya tajam bersamaan dengan bola api berwarna biri dari atas langit berjatuhan menghantam musuh. Bramantio mengeluarkan energi berwarna biru dari tubuhnya untuk melindungi Quinsha dari bola api biru.


"Duarrr, Duarrr, Duarrr!!"


Mendapat serangan ribuan bola api, satu persatu musuh mati terbakar lalu meledak, sebagian mencoba melarikan diri.


Atalarik diam diam meninggalkan tempat, begitu juga Alexander menyusul Atalarik. Sementara Dominic menggunakan energi pelindung, lalu ia berlari secepat kilat meninggalkan tempat pertarungan.


Bramantio menggendong tubuh Quinsha ke bawah pohon yang tak jauh dari tempat itu. Melihat Quinsha lemas dan tak sadarkan diri, Bramantio menggigit bibir bawahnya sendiri. Darah segar menetes dari bibirnya. Lalu ia dekatkan wajahnya, mencium bibir Quinsha dan memberikan darahnya supaya tertelan oleh Quinsha.


Beberapa menit kemudian ia telah selesai memberikan darahnya, ia menyeka sisa sisa darah di bibir Quinsha dengan ujung pakaiannya.


"Maafkan aku, Quin. Aku terpaksa melakukan ini.." gumam Bramantio pelan, lalu memeluk tubuh gadis itu dengan erat. "Aku harap, suatu hari nanti kau bisa menerimaku dan darahku yang sudah mengalir di dalam tubuhmu."


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Arkana dari arah belakang.


"Sebaiknya kita pulang." Bramantio berdiri tegap menggendong tubuh Quinsha.


"Baiklah!" sahut Arkana.


Keduanya menghilang dalam satu kedipan mata, dan kembali ke dimensi manusia.