
Sejak penyelamatan Quinsha, Arkana dan Chimol dan Salman Cakra Nagara berhasil di sembuhkan Dr Kucay, meski cara pengobatannya terkesan sadis namun berhasil menyembuhkan luka dalam dengan cepat.
Di ruang pertemuan, Salman Cakra Nagara berkumpul bersama Quinsha dan yang lain. Salman memutuskan untuk memberitahu Quinsha tentang rahasia besar yang selama ini tidak di ketahuinya, setelah itu Salman akan merebut kembali istana yang telah di kuasai Azura dan Dominic.
Salman Cakra Nagara menceritakan asal usul Quinsha dengan sangat hati hati. Ia khawator kalau Quinsha marah dan lepas kendali menggunakan kekuatan gelapnya dan bisa menghancurkan dunia manusia juga dimensi lain.
"Lusiana, nama ibumu. Dia cantik sepertimu, tapi bodohnya aku telah menyia nyiakan ibumu dan tidak mempercayainya. Quin, aku harap kau mau memaafkanku." Ucap Salman cakra Nagara melipat kedua tangannya, menghiba kepada putri kandungnya untuk memaafkan kesalahannya di masa lalu.
Quinsha enggan untuk berkomentar, saat ini perasaan dan fikirannya menjadi kacau. Rasa rindu ingin memeluk ayah kandung yang selama ini di carinya ternyata telah menyebabkan ibu kandungnya di eksekusi mati. Entah harus bahagia atau marah, tapi Quinsha memilih diam.
Salman Cakra Nagara mengerti situasi yang di rasakan putrinya saat ini. Kemudian ia memilih bersimpuh di kaki Quinsha.
"Aku tahu kau bingung sayang. Kalau kau mau, lakukan apapun yang ingin kau lakukan padaku. Aku rela, asalkan kau tidak mengacuhkanku." Kata Salman Cakra Nagara penuh penyesalan.
Namun Quinsha berdiri, air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya. Rasa sesak di dalam dada semakin bergejolak antara rindu dan benci.
"Kau tukar nyawamu sekalipun tidak merubah apapun, aku tetap saja kehilangan ibuku. Bahkan aku tidak bisa melihatnya walau sebentar saja," ucap Quinsha dengan nada serak.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kau mau memaafkanku," ucap Salman lagi, tengadahkan wajah menatap nanar putrinya.
"Aku tidak tahu!" Sahut Quinsha lalu beranjak pergi dari ruangan kemudian di susul Bramantio.
"Quin!!" panggil Salman.
"Tuan, tenanglah. Berikan Quinsha ruang dan waktu." Arkana mencoba menenangkan Salman Cakra Nagara.
"Tidak, aku tidak bisa tenang." Kata Salman Cakra Nagara, lalu berdiri.
"Kau mau kemana Tuan?" tanya Arkana.
"Semua ini gara gara kau Azura, aku balas atas semua kecuranganmu." Gumam Salman Cakra Nagara meninggalkan kediaman Bramantio tanpa sepengetahuan siapa siapa.
Sementara Quinsha tengah resah dengan apa yang di rasakan saat ini. Hatinya hancur setelah tahu semua kebenaran dalam dirinya. Ibunya mati karena kelemahan ayahnya memperjuangkan cinta dan putrinya. Di sisi lain ia juga sangat merindukan ayahnya, tapi yang lebih menyakitkan dalam tubuhnya mengalir darah Iblis dan manusia.
"Kau manusia, sama seperti yang lain Quin." Kata Bramantio memeluk tubuh Quinsha dari belakang.
Quinsha membalikkan tubuhnya, memeluk Bramantio dengan erat dan menangis di dadanya.
"Setiap orang pernah melakukan kesalahan, maafkan ayahmu. Dia sangat merindukanmu, kau tahu? ayahmu sama tersiksanya sepertimu, bertahun tahun lamanya ia pendam sendirian. Apa kau tidak ingin memeluknya?" ungkap Bramantio panjang lebar.
Namun Quinsha enggan menjawab, ia hanya menangis. "Kau sangat berarti buat ayahmu, andai saja kau tidak ada, mungkin ayahmu sudah menyusul ibumu." Bramantio terus berusaha membujuk dan menenangkan Quinsha.
"Aku sangat merindukan ibuku, ayahku..." ucap Quinsha pelan.
"Aku tahu." Kata Bramantio terus memeluk Quinsha. "Jangan biarkan ayahmu berjuang sendirian."
Quinsha tengadahkan wajahnya menatap Bramantio lalu menganggukkan kepalanya.
"Kau tidak sendirian, ada aku dan mereka yang menyayangimu."
Bramantio tersenyum, mengusap air mata di pipi Quinsha. Usahanya tidak sia sia, Quinsha mau memaafkan ayahnya.
Dari jauh, Arkana memperhatikan mereka. Seketika hatinya patah melihat Bramantio terlihat sangat lembut memperlakukan Quinsha.
"Bertahun tahun kita bersiteru, siapa yang lebih unggul. Aku baru sadar, kau selalu lebih unggul dari pada aku, Bram." Gumam Arkana pelan.