
Esok harinya Bramantio mengajak Quinsha bekerja di perusahaannya sebagai asisten pribadi yang harus ngikutin kemanapun Bramantio pergi, meskipun Quinsha tidak tahu apa saja yang harus di kejakan. Namun semua itu hanyalah cara Bramantio supaya selalu bisa menjaga dan mengawasi gadis itu.
Hari ini ada acara penting tiga perusahaan besar. Perusahaan raksasa milik Salman Cakra Negara yang di pimpin oleh Valeri, putri Azura. Mengundan Bramantio dan Arkana untuk bekerjasama di perusahaan milik Salman Cakra Negara.
Suatu kehormatan bagi perusahaan bisa bekerjasama. Tapi itu dulu, sewaktu Quinsha belum hadir di kehidupan mereka berdua. Tapi kini, setelah mengetahui tentang Azura dan Valeri. Bramantio dan Arkana menjadi setengah hati ikut bergabung.
"Selamat datang Bramantio, Arkana!" sapa Azura.
Kedua pria itu membungkuk hormat, kemudian mereka duduk di kursi yang telah di sediakan. Sementara Quinsha duduk di antara Bramantio dan Arkana. Sehingga menimbulkan kecemburuan Valeri saat melihat Arkana dan Bramantio yang terus menggoda Quinsha.
"Hem!" Azura berdehem, mengalihkan perhatian Arkana dan Bramantio.
"Maaf Nyonya Azura, silahkan di mulai." Bramantio mengalihkan pandangannya, mempersilahkan Azura untuk memulai rapat itu.
Saat Azura tengah berbicara kepada semua ceo yang hadir dalam rapat itu, Quinsha merasa ingin buang air kecil. Ia berdiri lalu bergegas keluar ruangan tanpa bicara terlebih dahulu. Tak lama, Valeri mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di depan pintu toilet. Quinsha membuka lebar pintu itu, tapi dari arah belakang Valeri menarik tangan Quinsha mundur ke belakang.
"Plakk!!" satu tamparan keras mendarat di pipi Quinsha.
"Apa maksudmu??" tanya Quinsha, menegang pipinya terasa sakit dan panas.
"Jangan kegenitan, jangan dekati tunanganku Arkana, apalagi Bramantio. Kau paham?!" tunjuk Valeri ke wajah Quinsha.
"Kau cemburu? kasihan sekali." Sahut Quinsha tersenyum sinis.
"Jangan kurang ajar! kau tidak tahu siapa aku!" seru Valeri dengan nada angkuh.
"Aku perduli? tidak!" sahut Quinsha kesal.
"Rupanya kau mesti di kasih pelajaran!" ancam Valeri.
"Uhuk uhu!!" Quinsha berkali kali batuk, ia mulai merasakan sesak, dadanya panas serasa mau pecah.
"Le, lepaskan, aku!"
"Hahahaha! sepertinya kalau kau mati, itu lebih baik. Tidak ada lagi yang mengganggu tunanganku.
Valeri yang memiliki kekuatan supranatural, yang ia pelajari sejak kecil. Seringkali di salah gunakan untuk menyakiti orang lain.
Tubuh Quinsha semakin tinggi terangkat ke atas, matanya melebar, mukanya memerah.
"Hahahahaha!" Valeri terbahak bahak melihat Quinsha kesulitan bernapas.
Di saat genting, bayangan wajah Romo terlintas di benaknya. Ia teringat semua pesan dan apa yang sudah di ajarkan.
Quinsha memejamkan mata, berusaha tenamg dan tidak melakukan perlawanan lagi. Perlahan tangannya terulur ke samping, bersamaan dengan air yang ada di dalam bak ikut terangkat mengarah ke tubuh Valeri.
"Bekulah!" perintah Quinsha, mata nya terbuka lebar. Menatap tajam wajah Valeri.
"Byurr!!" air membasahi tubuh Valeri dan dalam hitungan detik berubah menjadi beku. Bersamaan dengan tubuh Quinsha kembali turun dan berpijak di lantai.
"Aku tidak percaya bisa melakukan ini semua." Gumam Quinsha pelan.
"Kau akan menyesal!" pekik Valeri, tubuhnya terbungkus es, hanya menyisakan kepalanya saja.
"Salahmu sendiri menggangguku!" balas Quinsha. "Es itu akan mencair, satu jam dari sekarang. Selamat menikmati tuan Putri!" Sindir Quinsha lalu beranjak pergi meninggalkan Valeri terbungkus es.
"Sial!!" jeritnya kesal.