Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 10



Entah sudah berapa lama Quinsha duduk termenung di tepi tempat tidur. Ia memikirkan hidupnya yang semakin jauh dari kata mendapat petunjuk tentang orangtuanya. Berkali kali ia menghela napas panjang, tangannya meraba gaun yang ada di atas tempat tidur.


"Ceklek!"


Suara pintu di buka dari luar, Quinsha mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Nampak Bramantio berdiri di ambang pintu menatap tajam ke arah Quinsha.


"Kau mau apa??" tanya Quinsha lalu berdiri, menatap waspada ke arah Bramantio yang berjalan mendekatinya.


"Aku menunggu sudah terlalu lama, mengapa kau masih berpakaian seperti ini?" tanya Bramantio melirik ke arah gaun sesaat.


"Kenapa aku harus menuruti apa maumu? kau siapa?" Quinsha tersenyum sinis dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Aku memang bukan siapa siapa kau, tapi apa kau tahu kesukaanku?" tanya Bramantio balik.


"Apa?"


"Memaksamu!" jawab Bramantio.


Detik berikutnya Quinsha merasakan tubuhnya terangkat ke atas dan sudah berada di pundak pria tersebut.


"Apa kau sudah gila? turunkan aku!" seru Quinsha.


Namun Bramantio tidak memperdulikan teriakan dan umpatan gadis itu, ia terus berjalan menuju kamar mandi dan menurunkan tubuh Quinsha ke dalam bak mandi besar yang penuh dengan air.


"Byurr!!"


"Kau memang sudah gila!" pekik Quinsha tengadahkan wajah menatap Bramantio yang bertolak pinggang.


"Jangan banyak bicara, cepatlah kau mandi. Aku tunggu dalam waktu 15 menit."


Bramantio bergegas keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


"Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan pria seperti itu." Gumam Quinsha kesal.


Akhirnya mau tidak mau, Quinsha mulai membersihkan diri. Melepas satu persatu pakaiannya yang basah lalu ia lemparkan sembarangan ke lantai kamar mandi.


Selintas mata, Quinsha melihat bayangan hitam. Mata Quinsha melebar, mulutnya menganga, menatap sosok hitam di depan matanya. Belum sempat ia bereaksi, satu tangan kekar menarik paksa tangan Quinsha untuk berdiri. Dengan secepat kilat, sosok hitam itu menarik handuk lalu di lilitkan ke tubuh gadis itu.


"Hantuuu!!!" jerit Quinsha, namun ia merasakan tubuhnya terangkat dan sudah berada dalam gendongan sosok tersebut.


"Kita pergi, sayang!" ucap sosok hitam yang tak lain Arkana Devin yang menyelinap masuk ke dalam kamar dan melarikan Quinsha dari rumah Bramantio.


"Kau lagi, kau lagi!!" umpat Quinsha kesal dan berusaha untuk turun dari gendongan Arkana, namun usahanya sia sia.


"Diamlah sayang, aku akan membawamu ke tempat paling aman." Jawab Arkana tertawa terkekeh.


"Turunkan aku!" pinta Quinsha.


"Diamlah, sebentar lagi kita sampai." Kata Arkana terus membawa tubuh Quinsha berlari menggunakan kekuatan supranaturalnya.


"Apa kau liat liat?! bentak Quinsha memperhatikan Arkana yang tengah menatapnya tak berkedip.


"Kau cantik, seksi.." ucap Arkana pelan.


"Dasar otak mesum!!" seru Quinsha tangan kanannya menampar wajah pria tersebut namun itu semua tidak berarti apa apa.


"Apa yang kau inginkan dariku??!" tanya Quinsha menatap marah Arkana.


"Bersikap manislah sayang!" Arkana menyentuh dagu Quinsha namun gadis itu menepisnya.


"Oke, sekarang kau gunakan pakaian yang ada di sana!" tunjuk Arkana ke arah tempat tidur, terdapat gaun berwarna merah. "Aku menunggumu di luar."


Selesai bicara seperti itu, Arkana bergegas keluar dari dalam kamar. Quinsha duduk di kursi, mengusap wajahnya kasar.


"Ya Tuhaaan, apa maunya mereka. Kenapa mereka melibatkanku!" ucapnya geram.


"Tok tok tok!


"Quin, cepatlah!"


Terdengar suara ketukan pintu dan peringatan dari Arkana. Rupanya pria itu menunggunya di balik pintu.


"Ahhkk! terserah, memang dia siapa harus memaksaku?" ucapnya tertawa kecil. Lalu ia berdiri, menghampiri tempat tidur mengambil gaun berwarna merah.


"Terlalu seksi, aku tidak suka!" Gaun itu di lemparnya kembali ke atas tempat tidur. "Tapi, aku pakai baju mana lagi?" pikirnya.


Quinsha menoleh ke arah lemari yang ada di dalam kamar itu, krmudian ia berjalan mendekati dan memeriksa lemari pakaian. Apa ada yang baju yang pantas bisa di gunakannya.


Matanya berbinar saat melihat satu kemeja dan celana pendek. Lalu diambilnya pakaian itu dan di gunakannya. Meski kemejanya terlalu besar ukurannya di tubuh Quinsha. Namun kemeja itu lebih baik dari pada gaun yang seksi tadi.


"Aha! ini lebih baik!" ucap Quinsha tertawa lebar.


Setelah menggunakan pakaiannya, Quinsha mencari akal bagaimana caranya kabur dari rumah Arkan.


"Sepertinya ini kesempatanku untuk melarikan diri."


Quinsha bergegas mendekati pintu balkon kamar, membukanya lebar lalu menatap ke bawah.


"Tinggi juga.." ucapnya pelan. "Tapi aku harus mencobanya."


Gadis itu kembali berlari ke dalam kamar, lalu menarik sprei. Setelah itu ia kembali berlari ke balkon kamar, mengikatkan ujung sprei ke pilar kecil, lalu menurunkan sprei itu ke bawah setelah terikat dengan kuat.


Perlahan Quinsha naik ke atas tembok, memegang kuat sprei tersebut, perlahan ia mulai turun bergelayutan. Semakin lama, tubuh Quinsha sudah berada di tengah tengah dan ternyata sprei itu tidak cukup sampai ke bawah.


"Aku harus melompat." Gumam Quinsha pelan.


Beruntung, Quinsha menguasai kemampuan bela diri yang di ajarkan Romo sewaktu di pengasingan. Hanya dengan satu hentakan kaki ke dinding lalu tubuh gadis itu meluncur ke bawah.


"Bukk!!"


Mata gadis itu melebar, mulutnya menganga. Tubuhnya mendarat dengan sukses. Tubuhnya jatuh tepat di dalam gendongan Bramantio.


"Hmm.."


"Kau!!" pekik Quinsha. "Ya Tuhan, lepas dari sarang macan, masuk ke dalam mulut buaya!" umpat Quinsha merutuki nasibnya.


"Kita pulang!" kata Bramantio.


"Lama lama aku bisa gila!" ucap Quinsha dalam hati.