
Angin berhembus sangat kencang, pohon pohon berbunyi gemerisik di terpa angin. Serigala terus menyalak memperlihatkan giginya yang bertaring dan tajam, air liur menetes di mulutnya.
Arkana dan Dominic saling berhadapan menatap tajam. Mengukur kekuatannya masing masing, tatapan penuh dengan kewaspadaan.
Sementara Quinsha sudah bersiap siap dengan ilmu bela diri yang di ajarkan Romo. Memasang kuda kuda, di tangannya memegang balok berukuran sedang, siap menyerang serigala.
Hanya dengan satu jentikan jari Dominic, serigala lapar itu langsung menyerang ke arah Arkana dan Quinsha.
"Bukkk!!!"
Quinsha mengayunkan balok kayunya ke arah Serigala yang menerjang hendak menerkam. Satu, dua serigala terpental akibat pukulan balok kayu.
"Bukkk! bukkk!!"
Serigala itu semakin merangsek menerjang dan menggigit pakaian yang Quinsha kenakan. Gadis itu berlari menjauh dari Arkana sambil mengayunkan balok kayunya ke arah serigala.
Tidak bagi Arkana, ia dengan mudah menghabisi serigala itu, melihat Quinsha kewalahan. Arkana berlari ke arah gadis itu, namun Dominic secepat kilat menghadangnya.
"Lawanmu, aku. Arkana!" tantang Dominic.
"Sialan!" umpat Arkana melirik ke arah Quinsha yang berhasil di gigit serigala di kakinya.
Arkana mulai mengeluarkan kekuatannya melawan Dominic, meski ia tidak yakin bakalan menang. Di sisi lain, Quinsha semakin terdesak, ia terpental dan menabrak pohon besar di terjang dua serigala sekaligus.
"Bledaarrrr!!"
Kilat menyambar tubuh serigala secara bersamaan, tubuh binatang tersebut menghitam di hantam petir yang entah datangnya dari mana. Sebelum Quinsha kehilangan kesadarannya, ia masih bisa melihat sosok Bramantio menghampirinya, lalu Quibsha jatuh pingsan.
"Quin.." ucap Bramantio pelan, lalu mengangkat tubuh gadis itu dan menggendongnya.
Darah segar mengalir di bibir Quinsha, membuat Bramantio menatap marah ke arah Dominic, sementara serigala habis tanpa sisa di hantam petir milik Bramantio.
Bramantio berjalan mendekati Arkana yang mulai terdesak. "Ternyata kau membutuhkanku." Ucap Bramantio dengan tatapan tajam ke arah Dominic.
"Jangan besar kepala, semua kulakukan demi Quinsha!" sahut Arkana tangannya terulur ke atas bersiap siap mengeluarkan cahaya merah di telapak tangannya.
"Aku tidak punya banyak waktu meladeni kalian, sebaiknya serahkan gadis itu padaku!" seru Dominic.
"Tutup mulutmu!" Matanya berubah berwarna merah menatap marah ke arah Dominic.
"Mungkin Azura sudah tidak dapat memuaskannya di ranjang, hahahaha!" timpal Arkana.
Bukan rahasia lagi buat Arkana dan Bramantio, kalau Dominic menjalin hubungan dengan Azura, wanita yang lebih tua dari Dominic.
"Menjijikkan!" umpat Bramantio seraya meludah kesamping.
"Tutup mulut kalian!" pekik Dominic lalu mulutnya terbuka mengeluarkan kemampuannya untuk menyedot energi kehidupan Arkana dan Dominic.
Cahaya putih bening, keluar dari mulutnya. Bramantio dengan secepat kilat menendang bokong Arkana hingga terpental jauh untuk menghindari serangan Dominic. Lalu ia mengibaskan jubah hitamnya menutupi tubuhnya dan tubuh Quinsha. Dalam satu kejapan mata, Bramantio hilang dari hadapan Dominic.
"Sialan!" rutuk Dominic. "Kali ini kalian sedang mujur, lain kali kupastikan kalian mati!"
Arkana yang terpental jauh, langsung bangkit lagi dan berlari menyusul Bramantio.
"Kurang ajar, berani sekali dia menendang bokongku." Rutuk Arkana menahan sakit sambil terus berlari.
Sementara Bramantio berlari menjauh secepat mungkin, menuju rumahnya. Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di rumahnya, lalu meletakkan tubuh Quinsha di atas tempat tidur.
"Rupanya perlindunganku mampu di tembus Dominic. Ini tidak akan mudah Quinsha, aku harus menjagamu dengan baik. Tangannya terulur menyeka darah di bibir gadis itu.
"Hah! sialan kau!" umpat Arkana yang tiba tiba muncul di balik pintu balkon lalu duduk di kursi mengatur napasnya.
"Itu belum seberapa Arkana, Dominic akan terus mengawasi kita." Jelas Bramantio.
"Apa yang dia inginkan dari Quinsha?" tanya Arkana.
Bramantio menoleh ke arah Arkana. Ia belum mau mengatakan yang sebenarnya kepada Arkana. Yang di khawatirkan Bramantio, Arkana akan merebut Quinsha darinya.
"Aku tidak tahu!" jawab Bramantio.
Namun Arkana hapal betul dengan musuh bebututannya itu, ia tahu kalau Bramantio tengah menyembunyikan sesuatu darinya.