
Salman Cakra Nagara yang sudah merasa yakin dengan Quinsha adalah putrinya, memerintahkan Dominic dan pengawalnya untuk menjemput Quinsha. Namun perintah Salman Cakra Nagara kali ini, di tentang Dominic dan Azura. Mereka terang terangan mengkhianati Salman Cakra Nagara. Lalu ke duanya menjebak Salman Cakra Nagara dengan cara memberikannya ramuan tidur panjang kepada Salman. Setelah ramuan itu bereaksi, Salman pun tertidur pulas di atas ranjangnya.
Azura dan Dominic membawa tubuh Salman Cakra Nagara ke dimensi lain untuk di sembunyikan di pulau es. Setelah Salman di sembunyikan dengan sangat rapi dan tidak di ketahui yang lain. Azura mengumumkan kalau Salman Cakra Nagara sakit keras dan memutuskan untuk mengangkat Lexi sebagai penerusnya dalam beberapa hari ke depan. Di setujui atau tidak, Azura dan Dominic berencana untuk memberikan tampuk kekuasaan itu kepada Lexi.
***
Sementara Bramantio yang sibuk di dunia manusia bersama Arkana. Tidak mendapatkan undangan pengangkatan Lexi menjadi pemimpin klan manusia. Menjadi geram dan khawatir, karena kabar yang ia terima kalau Salaman Cakra Nagara telah menghilang.
Bramantio akhirnya memutuskan untuk mencari tahu keberadaan Salman Cakra Nagara di dimensi lain dan menitipkan Quinsha kepada Arkana dan Chi Reng untuk menjaganya dengan baik.
Quinsha yang mulai gerah dengan dua pengawalnya yang selalu bertingkah konyol dan buat kesal gadis itu. Akhirnya Quinsha memutuskan untuk keluar dari perusahaan Bramantio dan memilih untuk membuka usaha sendiri di bidang obat obatan.
Hari demi hari, Quinsha merintis usahanya dan mendapat pasokam obat obatan dari salah satu perusahaan farmasi terbesar di kota tersebut.
Dari hari ke hari, usaha Quinsha semakin berkembang. Namun di sisi lain, Quinsha sudah masuk ke dalam jaringan mafia paling kejam.
Pemilik perusahaan farmasi tersebut, seorang mafia kejam yang memiliki kekuatan supranatural hingga sepak terjangnya tak terdeteksi oleh pihak berwajib. Tetapi namanya di kenal di seluruh kota itu dan di Negara lainnya.
Ferro Belucci, pria yang selama ini berdiri di belakang perusahaan farmasi tersebut. Pria blasteran, tinggi besar berwajah rupawan. Setiap hari memperhatikan sepak terjang Quinsha dalam mengembangkan usahanya.
***
"Quin, ayolah..percaya padaku. Obat obatan ini palsu." Kata Arkana memperhatikan sebutir pil di tangannya.
"Kau bisa diam tidak? setiap hari hanya menggangguku, membuat mataku sepet!" umpat Quinsha kesal.
"Apa yang di katakan Arkana benar, kau harus menghentikan usaha ini sebelum hal besar akan menimpa kita," timpal Chi Reng.
Quinsha melipat kedua tangannya di dada, menatap jengah kedua pria di hadapannya.
"Oke, kita buktikan. Kalau memang benar obat ini palsu dan berbahaya. Aku minta salah satu dari kalian untuk mencobanya, bagaimana?" usul Quinsha tersenyum lebar menatap Arkana dan Chi Reng.
"Apa? tidak, tidak! aku tidak mau." Chi Reng menolak untuk di jadikan bahan percobaan.
"Hei ayolah, kalau bukan kau? siapa lagi?" tanya Arkana mencoba menghindari.
"Kau saja! bukankah dari awal kau yang mengatakan kalau obat ini palsu?" bantah Chi Reng menatap tajam Arkana.
"Kau saja, aku belum menikah.." ucap Arkana tertawa kecil.
"Apa bedanya dengan aku?" tunjuk Chi Reng ke hidungnya sendiri. "Kalau kau mau, kita coba berdua."
"Quin?!!" ucap mereka serempak menatap tajam gadis di hadapannya.
"Kalian tunggu di sini." Quinsha balik badan, melangkahkan kakinya ke dapur lalu mengambil dua gelas air mineral.
Tak lama ia kembali, meletakkan dua gelas air mineral di meja, lalu membuka laci dan mengambil satu botol kecil obat yang berupa pil. Kemudian Quinsha memberikan mereka berdua masing masing dua butir.
"Quin? kau serius?" tanya Chi Reng tidak yakin menatap dua butir pil di tangannya.
"Ayolah Quin sayang, aku hanya bercanda.." ucap Arkana merajuk, menyenderkan kepalanya di bahu Quinsha.
"Otak mesum!" rutuk Quinsha menggeser tubuhnya. "Cepat minum!"
Arkana tertawa lebar, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Baiklah Quin, jika aku mati karena obat ini. Aku ingin mengatakan sesuatu. aku sangat mencintaimu!"
"Hih, otak mesum!" Quinsha menepuk pipi Arkana kesal. "Jangan banyak bicara, ayo makan!"
Arkana dan Chi Reng menarik napas dalam dalam, lalu keduanya memasukkan dua pil ke dalam mulutnya sekaligus. Quinsha memberikan air mineral dalam gelas lalu di berikan kepada dua pria itu.
Arkana dan Chi Reng menghabiskan air mineral dalam gelas sampai kosong lalu di letakkan kembali di atas meja. Ketiganya diam saling menatap satu sama lain.
Arkana dan Chi Reng saling pandang lama. Lalu kedua nya tertawa lebar, karena obat itu tidak bereaksi apa apa. Kemudian mereka berdua saling mengapit tangan menari dengan satu tangan masing masing di atas, berputar dan tertawa terbahak bahak.
Quinsha tertawa kecil memperhatikan mereka, ternyata tuduhan mereka tidak terbukti. Namun detik berikutnya Quinsha terdiam memperhatikan mereka yang terus tertawa terbahak bahak dan menari berputar dan terus berputar.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" ucap Quinsha pelan, menatap cemas keduanya. "Ternyata apa yang mereka katakan benar, obat ini terlarang dan bisa merusak manusia. Aku harus menghentikannya."
"Hahahahahaha!!"
Arkana dan Chi Reng terus tertawa dan berputar seperti orang gila yang hilang kewarasannya. Detik berikutnya mereka saling dorong satu sama lain, berjalan sempoyongan dan berhalusinasi kalau mereka sedang berhadapan dengan musuh. Keduanya menoleh ke arah Quinsha dengan tatapan tajam.
Quinsha matanya melebar, berjalan mundur lalu balik badan dan berlari keluar rumah.
"Quin jangan lari!!" seru mereka berdua mengejar Quinsha dengan langkah sempoyongan.
"Aaaaaaaaa!" teriak Quinsha terus berlari mencari tempat bersembunyi. Beruntung ada pohon besar tak jauh dari rumahnya. Quin memanjat pohon itu lalu duduk di atas dahan besar memperhatikan Arkana dan Chi Reng yang berada di bawah.
"Selamaattt.." Quinsha mengusap dadanya sendiri.
Tak lama kemudian Arkana dan Chi Reng ambruk ke tanah, tidur terlentang dalam keadaan mabuk.