Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 29



Bramantio terus berlari membawa tubuh Quinsha dalam gendongannya. Namun klan serigala tidak mrmbiarkan Bramantio lolos. Kini Bramantio telah di kepung ratusan serigala berwarna coklat.


Arkana yang menyadari keanehan itu, berlari menyusul Bramantio. Dan seperti dugaannya. serigala itu memburu Bramantio karena mencium aroma darah yang berasal dari luka di tubuh Quinsha.


Tep!"


Arkana menginjak tanah tanpa menimbulkan suara di belakang Bramantio.


"Ini aneh." Bisik Arkana di telinga Bramantio.


Bramantio menoleh ke arah Arkana sekilas, tatapannya kembali waspada memperhatikam pergerakan serigala yang menggeram.


"Kau benar, mereka bukan menginginkan nyawa kita. Tetapi aroma wangi darah Quinsha." Jawab Bramantio.


"Berhati hatilah, aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka. Ada kesempatan pergilah bawa Quinsha dari sini." Usul Arkana.


"Terima kasih!" sahut Bramantio.


Arkana mengulurkan tangannya, menepuk bahu Bramantio. "Aku melakukannya bukan untukmu, tapi buat Quinsha!"


"Apakah saat ini waktu yang tepat untuk kita bertengkar?" sungut Bramantio kesal.


"Hah, kalau tidak di katakan sekarang, nanti kau salah paham!" balas Arkana seraya mengkat tangannya lalu melemparkan bola api ke arah dua serigala yanv hendak menerjang Bramantio.


Bramantio tidak tinggal diam, ia merubah posisi tubuh Quinsha ke pundaknya. Hanya dengan satu tangan, pria itu mengeluarkan kemampuannya untuk melenyapkan semua serigala yang menatap tubuh Quinsha.


"Bleddarrr!!"


Satu persatu serigala tewas, hancur dan menjadi cahaya hitam melesat ke angkasa. Namun bukannya berkurang, serigala tersebut. semakin banyak berdatangan membuat Arkana dan Bramantio terheran heran.


"Ada apa ini? mengapa mereka semakin banyak?" ucap Bramantio dalam hati.


"Bram! awas!!" pekik Arkana memperingatkan Bramantio yang lengah.


Bramantio tidak sempat mengelak terjangan dua serigala akibat lengahnya kewaspadaan.


"Bukk!!"


Bramantio terpental, namun tubuh Quinsha tetap dalam pelukannya.


"Quin, maafkan aku..." ucap Bramantio lalu mengangkat tubuh gadis itu kembali ke pangkuannya.


"Bleddarr!"


Arkana tidak memberi kesempatan serigala itu melukai Quinsha atau Bramantio lagi. Menyadari musuh semakin banyak, Bramantio mengeluarkan kabut putih dari telapak tangannya. Semakin lama semakin tebal menyelimuti tubuhnya dan Quinsha termasuk Arkana.


Arkana yang memahami maksud Bramantio mengeluarkan kabut putih untuk mengelabui musuh. Segera berlari menyusul Bramantio yang lebih dulu melarikan Quinsha.


****


"Sudah lebih satu jam, tapi Quinsha tidak sadarkan diri." Jelas Bramantio kepada Arkana.


"Aku ingin bicara hal penting." Arkana menarik tangan Bramantio menjauh dari Jasmin yang tengah duduk di tepi tempat tidur.


"Ada apa?" tanya Bramantio.


"Apa kau tidak melihat keanehan?" tanya Arkana.


"Apa maksudmu?" Bram menautkan kedua alisnya menatap Arkana.


"Kau tahu? serigala itu berdatangan karena mencium aroma darah Quinsha. Tidak hanya itu, sebagian anak buahku mencoba mengambil kesempatan menghirup darah milik Quinsha." Ungkap Arkana.


Sesaat Bramantio hanya diam, selanjutnya ia terkejut dengan pemikirannya sendiri namun tidak ia ungkapkan kepada Arkana.


"Ini tidak akan mudah, mereka tidak hanya menginginkan nyawa Quinsha. Jika klan yang lain mengetahui darah murni milik gadis itu, mereka akan memburunya." Ungkap Bramantio.


"Ini tidak mungkin!" seru Arkana mengusap wajahnya kasar.


Keduanya terdiam, larut dalam pemikirannya masing masing.


"Kita harus menjaga dan melindungi Quinsha. Siapapun yang mencoba melukai Quinsha maka nyawanya aku ambil!" Bramantio mengepalkan tangannya.


"Apakah ini ada hubungannya dengan kematian ibu Quinsha?" tanya Arkana.


"Kita harus menyelidikinya." Usul Bramantio.


Arkana terdiam, ia tidak mengakui kepada Bramantio. Sejak mencium aroma darah Quinsha. Arkana pun sangat menginginkan darah Quinsha dan menghirupnya. Namun keaadaran Arkana masih kuat, sehingga ia mampu mengendalikan darah Vampire yang ada di dalam tubuhnya.


"Ah, darah vampire yang kumiliki seakan menjadi kutukan saat aku mulai menyayangi Quinsha." Batin Arkana.


"Bramm!"


Terdengar suara panggilan Jasmin dari dalam kamar. Bramantio dan Arkana bergegas masuk ke dalam kamar.


"Ada apa Bu?" tanya Bram.


"Lihat, Quin sudah sadar!" tunjuk Jasmin ke arah Quinsha, matanya perlahan terbuka.


"Ibu.." ucap Quinsha pelan menatap wajah Jasmin.


Pandangannya ia alihkan ke arah dua pria yang berdiri di samping, tersenyum. Quinsha teringat kejadian di lapangan rumput.


"Rupanya mereka sudah berubah menjadi manusia lagi." Ucap Quinsha dalam hati.


Arkana yang selalu memperlihatkan tampang lucunya, Bramantio dengan gaya cool nya. Perlahan gadis itu bangun dan duduk di atas tempat tidur.


"Ibu buatkan kalian teh hangat." Jasmin berdiri, lalu melangkah keluar dari ruangan.


"Apakah kau masih merasakan sakit?" tanya Bramantio duduk di samping Quinsha.


"Biar aku obati lukamu." Timpal Arkana tidak mau ketinggalan mencuri perhatian Quinsha, lalu duduk di sebelah kanan.


Namun gadis itu hanya diam menatap wajah kedua pria itu bergantian.


"Jangan dekati aku." kata Quinsha.


"Kau kenapa sayang?" tanya Arkana menyentuh lengan Quinsha.


"Jangan sentuh aku, dasar otak mesum!"


"Tanganmu bisa diam?" Bramantio menepis tangan Arkana. "Mulutmu bicara, tapi tanganmu kemana mana!" sungut Bramantio.


"Hei, kau ini kenapa? cemburu?" tanya Arkana kesal.


"Diammmmmmm!!!!" jerit Quinsha merasa pusing setiap berdekatan dengan mereka yang tak pernah akur.


"Maaf Quin!" sahut mereka berdua.


Kemudian mereka terdiam, Arkana berdiri lalu melangkah mendekati Bramantio. Menarik tangannya supaya berdiri. Lalu keduanya meninggalkan Quinsha di kamarnya sendirian.