Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 23



Penobatan pewaris tahta, harta kekayaan bangsawan tinggi tinggal menunggu satu bulan lagi. Segala persiapan sudah di lakukan, semua orang yang ada di istana itu menyambut gembira. Namun tidak bagi Azura, wanita itu tidak bahagia. Justru ia orang yang paling gelisah dan ketakutan.


Mendengar kegagalan Dominic merebut Quinsha dari tangan Bramantio, Azura memanggil 3 orang terkuat di istana itu selain Dominic untuk menculik Quinsha.


Jasmin yang bekerja di istana tersebut, mendengar pembicaraan mereka secara tidak sengaja. Wanita itu diam diam meninggalkan istana dan memutuskan untuk mencari Quinsha. Ia sendiri belum tahu kalau Quinsha adalah gadis yang ia tolong dulu.


Sementara Jasmin sendiri adalah adik kandung Luciana. Namun tidak ada satu orang pun yang tahu seisi istana itu kalau Jasmin saudara Luciana.


"Kakak, putrimu masih hidup..putrimu masih hidup.." ucapnya pelan, pipinya basah oleh air mata. "Aku harus mencari putrimu, dan mengatakan semua kebenaran ini."


***


Di taman bunga kediaman Bramantio. Quinsha tengah menikmati bunga yang bermekaran dj sore hari bersama Bramantio.


"Quin, aku harap kau tetap di dekatku, jangan coba coba untuk melarikan diri lagi. Di luar sangat berbahaya untukmu." Pinta Bramantio.


"Mereka itu siapa? kenapa menginginkan nyawaku?" tanya Quinsha tidak mengerti.


"Apa kau tahu, kenapa mereka ingin membunuhmu?" tanya Bramantio lagi.


Quinsha matanya melebar, menatap kesal. "Kalau aku tahu, buat apa aku bertanya padamu. Bodoh!"


"Hahahahaha!" Bramantio tertawa lebar tiap kali Quinsha mengumpatnya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Quinsha heran.


"Aku menyukaimu, aku suka kau memarahiku, mengumpat dan aku menyukai segala hal tentang dirimu." Ungkap Bramantio.


"Apa maksudmu?" tanya Quinsha tiba tiba saja pria di hadapannya mengungkapkan perasaannya.


"Aku mencintaimu. Quin.." ucap Bramantio meraih kedua tangan gadis itu dan mrnggenggamnya erat.


"Cinta? tapi aku tidak!" sahut Quinsha kesal.


"Kenapa?" tanya Bramantio menautkan kedua alisnya.


"Sebab Quinsha hanya menyukai pria tampan sepertiku!" seru Arkana Devin, tiba tiba saja muncul di tengah tengah mereka berdua.


"Kau lagi!" Bramantio menepuk keningnya sendiri, menatap jengah ke arah Arkana.


"Hey kau lupa? ada aku yang akan merebut Quinsha dari tanganmu!" Arkana tertawa lebar melihat raut wajah marah Bramantio.


"Kalau di luar sana ada yang ingin membunuhku, tidak menutup kemungkinan kalau mereka berdua pada akhirnya sama sama ingin membunuhku. Aku harus pergi dari sini sekali lagi." Ucap Quinsha dalam hati.


"Lariii!!" pekik gadis itu dalam hati.


Quinsha berlari menuju gerbang rumah Bramantio bersamaan dengan Jasmin yang baru saja sampai di depan pintu gerbang.


"Bukkk!!"


Quinsha menabrak tubuh Jasmin hingga keduanya terjatuh ke jalan. Kemudian mereka bangun dan saling tatap.


"Ibu!" seru Quinsha.


"Quin? kaukah itu?" balas Jasmin senang.


"Ibu!" Quinsha memeluk erat tubuh Jasmin. "Aku mencarimu Bu.."


"Aku juga mencarimu sayang, ayo kita pergi dari sini!" Ajak Jasmin, lalu mereka berdiri dan bergegas pergi menjauh dari rumah Bramantio.


Namun baru saja di ujung jalan, tiba tiba mereka di hadang empat sosok pria tak di kenal. Salah satunya. Quinsha mengenali pria itu.


"Kau lagi?" Quinsha menggelengkan kepalanya, berjalan mundur bersama Jasmin.


Dominic tertawa terkekeh melihat mangsanya tidak dalam pengawasan Bramantio dan Arkana.


"Apa kabar Quin?" sapa Dominic.


"Pergilah kau ke neraka!" pekik Quinsha.


Namun dengan hanya satu jentikan jari, Dominic mengangkat tubuh Quinsha ke atas dan melayang layang kemudian menghempaskannya ke jalan.


"Bukkk!!"


Tubuh Quinsha terjatuh ke jalan aspal. Darah segar mengalir dari bibirnya yang mungil.


"Quin!" jerit Jasmin berlari ke arah gadis itu.


Namun Dominic melemparkan tubuh Jasmin ke arah pohon di tepi jalan raya.


"Bukkk!!"


Tubuh Jasmin membentur pohon, lalu ambruk tak sadarkan diri. Kemudian Dominic memerintahkan tiga temannya untuk membawa pergi Quinsha dan mrninggalkan Jasmin tergeletak di bawah pohon.