
"Nona, jangan buat kekacauan lagi. Ini dunia manusia, ingat pesan ibu dan ayah, nona." Kata Chireng mengingatkan Naomi.
"Paman tenanglah, aku tidak akan membuat kekacauan." Sahut Naomi, kakinya terus melangkah menuju sebuah gedung perusahaan Moon Silver.
Langkah Naomi terhenti tepat di depan kaca jendela gedung perusahaan tersebut. Menatap lurus ke dalam gedung, terlihat seorang pria berambut gondrong tengah memegang dokumen. Pria tersebut menyadari sedang di perhatikan, menoleh ke arah Naomi. Mengerutkan dahi, menggelengkan kepalanya tersenyum.
"Arkana!" panggil seorang Dokter berambut lurus ke atas.
Naomi mengalihkan pandangannya ke arah Dokter tersebut, lalu tertawa sendiri melihat Dokter tersebut.
"Nona!"
Naomi menoleh ke arah Chireng, meletakkan satu jari di bibirnya sendiri. "Sssttt!"
Chireng melirik ke arah telunjuk Naomi. Mata Chireng melebar saat melihat sosok pria yang tengah berbincang dengan seorang Dokter.
"Arkana! Kucay!!" seru Chireng berlari menubruk kaca jendela yang terlihat sangat transparan.
"Jedukkk!!"
Kepala Chireng terbentur hingga terjungkal ke belakang.
"Hahahahaha!!" Naomi tertawa terbahak bahak melihat Chireng, dan menarik perhatian pria yang ada di dalam gedung yang tak lain Arkana dan Kucay. Mereka berdua keluar dari dalam gedung menghampiri Chireng yang duduk di bawah memegang keningnya sendiri.
"Chireng!!" panggil Kucay, berlari menghampiri Chireng lalu menarik kerah bajunya supaya berdiri lalu memeluknya dengan erat.
"Hahaha, akhirnya kita ketemu lagi!" Kucay sangat senang sekali bertemu teman lamanya.
"Arkana!" Panggil Chireng, lalu melepaskan pelukan Kucay. Merentangkan kedua tangannya, menyambut Arkana memeluknya dengan erat.
"Apa kabar Quinsha?" tanya Arkana pelan di telinga Chireng.
"Baik, mereka sudah memiliki seorang putri." Jawab Chireng lalu melepas pelukannya, menunjuk ke arah Naomi.
Arkana dan Kucay mengalihkan pandangannya ke arah Naomi. "Mirip dengan Quinsha." Kata Kucay.
"Hey paman! kalian sudah saling mengenal?!" tanya Naomi berjalan menghampiri mereka.
"Tentu saja, nona. Mereka sahabat ibu dan ayahmu." Jawab Chireng.
"Wah, kebetulan sekali." Naomi bergelayut manja di tangan Arkana. "Aku sudah mengenalnya." Naomi melirik nakal ke arah Arkana.
Arkana menarik napas dalam dalam, menepis tangan Naomi dari lengannya.
"Kau dengar nona kecil. Aku sahabat ibu dan ayahmu. Jadi, kau harus memanggilku paman."
Chireng dan Kucay, menatap Naomi heran.
"Kenapa?!" tanya mereka serempak.
"Aku menyukainya!" sahut Naomi tersenyum lebar menatap Arkana.
Kucay, Chireng dan Arkana menepuk keningnya sendiri.
"Ya ampun, dulu aku yang gila mengejar ibunya. Sekarang, putrinya tergila gila padaku." Gumam Arkana lewat telepati.
Kucay dan Chireng yang bisa membaca pikiran, tertawa terbahak bahak mendengar celotehan Arkana.
"Hahahahaha!"
"Hey! kalian mentertawakan apa?" tanya Naomi.
"Tidak ada nona!" sahut Chireng menurunkan volume suaranya.
"Bagaimana kalau kau datang ke rumahku? aku undang makan malam. Mau?" tawar Naomi, kepada Arkana.
Sesaat Arkana terdiam, apa salahnya menerima tawaran Naomi? ia juga sangat merindukan Bramantio dan Quinsha, setelah sekian lama tidak bertemu.
"Boleh!" sahut Arkana.
"Yeeeyy!!" Naomi bersorak gembira.
"Ada kabar apa di sana?" tanya Arkana kepada Chireng lewat telepati.
"Aku dengar, Lexi melarikan diri dari pengasingan. Begitu juga dengan Dominic. Sampai sekarang mereka dalam pengejaran pasukan kerajaan Salman." Jelas Chireng.
"Berita buruk!" timpal Kucay.
"Kau benar!" Sahut Arkana.
"Hey! kalian kenapa bengong?" tanya Naomi, kebingungan melihat ketiga pria aneh di hadapannya terlihat bengong. Meski Naomi memiliki kekuatan tanpa batas, namun anak itu belum mengerti bagaimana cara menggunakannya dan belum menyadari kekuatan yang ia miliki.
"Tidak apa apa nona, sebaiknya kita pulang. Sepertinya ayah dan ibu nona memanggil." Kata Chireng.
"Ah baiklah!" sahut Naomi.
"Kami ikut!" kata Kucay.
"Baiklah, ayo!" Chireng tidak menolak, apalagi Naomi sangat senang. Arkana ikut bersamanya ke rumahnya di dimensi lain.