Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 6



Quinsha duduk di belakang meja bartender, memperhatikan mereka bermain kasino. Sementara temannya yang bernama kangsiomay duduk di lantai karena sudah mulai mengantuk. Berkali kali Quinsha melirik jam tangan yang ia kenakan hasil pemberian Jasmin. Waktu menunjukkan pukul 01:20 menit. Waktu terasa lambat berputar, Quinsha mulai menguap dan menyandarkan kepalanya di atas meja, Quinsha mencoba menahan kantuk, namun akhirnya ia tertidur pulas.


Namun baru saja beberapa menit Quinsha tertidur, ia di kejutlan dengan suara barang pecah ke lantai.


"Prankkk!!!


"Gubarakkk!!


Suara terdengar keras membentur meja, Quinsha terbangun dan mengangkat kepalanya. Matanya melebar mulutnya menganga, melihat botol minuman berserakan di lantai, meja kasino terguling dan terpental membentur tembok.


Nampak dua pria sama sama berambut gondrong berdiri saling beehadapan dengan kedua tangan sama sama terulur menggerakkan semua benda yang ada di dalam kelab, satu persatu melayang ke arah kedua pria itu.


"Apa aku sedang bermimpi? mereka memiliki kekuatan seperti itu? bukankah itu Bramantia Anderson dan Arkan Devin?" gumam Quinsha sambil mencubit pipinya sendiri. "Aw sakit, ternyata ini bukan mimpi!"


Quinsha berlari mendekati Bramantio, dan berniat melerai pertarungan mereka. Jika di teruskan semua barang yang ada di dalam kelab bisa hancur berantakan, dan dia akan terkena marah atasannya.


"Hentikan!!!" teriak Quinsha berdiri di hadapan Bramantio dengan kedua tangan di rentangkan.


"Gadis bodoh, kau cari mati!" seru Bramantio dengan tangan kirinya menarik tangan Quinsha bersamaan dengan pecahan gela bak panah melesat ke arah Quinsha.


"Srettt srett!"


Tangan kanan Bramantio terulur ke depan lalu di buang ke kanan bersamaan dengan pecahan gelas itu mengenai dinding.


Quinsha matanya melotot melihat pertunjukan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Belum rasa terkejutnya hilang, ia merasakan tubuhnya di lempar Bramantio ke atas lalu melayang dan berputar2. Bersamaan dengan sebuah meja hampir saja menghantam Bramantio dan Qyinsha andai pria itu tidak bergerak cepat menggerakan tangannya lalu membuang meja ke arah lain.


"Brakkk!


"Turunkan aku!!" jerit Quinsha yang masih berputar di atas.


"Bersabar gadis bodoh!" Bramantio menurunkan tangan kirinya ke bawah bersamaan dengan tubuh Quinsha yang meluncur ke bawah.


"Grep!!" gadis itu jatuh tepat di pangkuan tangan Bramantio.


"Duarrrr!!"


Dua sinar putih saling beradu lalu membentur meja bartender. Kangsiomay yang kaget dengan keributan, bangun dan menyembulkan kepalanya di balik meja. Ternyata bagu kangsiomay pemandangan itu bukanlah hal yang pertama yang di lakukan oleh kedua pria yang saling bermusuhan entah sejak kapan dan apa masalahnya dia tidak tahu. Tapi bagi Qyinsha ini adalah hal baru yang ia lihat, meski sang Romo pengasuh Quinsha pernah membenarkan adanya kekuatan supranatural yang di miliki oleh segelintir orang yang beruntung mendapatkannya. Tak lama kemudian pertarungan berhenti. Kedua pria itu saling menatap tajam.


"Urusan kita belum selesai Bram, dan tidak akan pernah selesai!" seru Arkana Devin menatap wajah Bram dengan tatapan benci, lalu beralih menatap Quinsha dan tersenyum.


"Hei Nona, kita bertemu lagi di sini. Maaf sepertinya pertemuan kita belum tepat." Selesai bicara seperti itu, Arkana Devin berlalu di hadapan Bramantio.


"Kau mengenalnya?" tanya Bram menoleh ke arah Quinsha yang masih ada dalam pangkuannya


"Bukan urusanmu Tuan, sekarang tirunkan aku!!" pekik Quinsha.


"Bukkk!!


Bram melepaskan tangannya begitu saja hingga gadis itu terjatuh ke lantai.


"Seperti maumu, Nona. Sekarang aku mau pergi, kau bereskan tempat ini."


Bramantio melangkahkan kakinya, mendekati kangsiomay yang masih bersembunyi, lalu ia meletakkan dua tumpuk uang di atas meja sebagai pengganti kerugian atas kerusakan yang di buat olehnya. Setelah itu ia bernajak pergi meninggalkan kelab.


"Dasar pria gila, seenaknya menjatuhkanku ke lantai." Umpat Quinsha lalu berusaha untuk bangkit dan berdiri.


"Hahahaha!"


Quinsha menoleh ke arah Kangsiomay yang mentertawakannya, lalu ia mencopot sepatu kirinya lalu di lempar ke arah Kangsiomay.


"Dukk!


Sepatu melayang dan mengenai lemari besi. Quinsha hanya diam menatap kesal Kangsiomay


"Ayo bersihkan tempat ini sebelum pagi! ajak Kangsiomay.