
Arkana dan Bramantio baru menyadari kalau Quinsha hilang dari pengawasan mereka. Kemudian mereka mencari keberadaan gadis itu, namun yang mereka temukan hanya Jasmin dalam keadaan pingsan, lalu mereka membawa Jasmin ke rumah Bramantio untuk segera di obati.
"Ini semua gara gara kau!" tunjuk Bramantio ke dada Arkana.
"Aku?" tanya Arkana merasa tidak bersalah.
"Iya kau! memang siapa lagi yang sering menggangguku?" balas Bramantio.
"Aku datang kesini bukan mau mengganggumu, tapi menemui cintaku, Quinsha." Jawab Arkana tersenyum tipis
"Apa kau bilang? Quinsha milikku!" Bramantio mencengkram kerah baju Arkana.
"Cukup!!" seru Jasmin yang sedari tadi pusing melihat mereka berdua terus berdebat.
"Maaf Ibu!" jawab mereka serempak menoleh ke arah Jasmin.
"Lebih baik kalian cari Quinsha, aku takut mereka menyakitinya." Kata Jasmin.
"Baik! kami pergi!" sahut mereka serempak, membungkukkan badan sesaat, secepat kilat mereka berdua hilang dari pandangan Jasmin.
"Ya Tuhan, saat seperti ini. Bisa bisa nya mereka santai dan berdebat." Gumam Jasmin.
***
Dominic melepas ikatana di kedua tangan Quinsha yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Darah segar terus menetes dari mulut gadis itu, tetes demi tetes jatuh ke lantai.
"Sialan!" umpat Dominic.
Pria itu kesal karena tidak menemukan cap stempel Naga di lengan Quinsha. Ternyata usaha Bramantio untuk melindungi Quinsha tidak sia sia. Cap stempel di lengan gadis itu berhasil ia tutupi dengan kekuatannya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Raven, salah satu pria terkuat di istana.
"Terpaksa kita harus memaksa Bramantio untk menghilangkan energi yang melindungi gadis ini." Jawab Dominic.
"Itu tidak akan mudah," timpal Ethan.
"Kita harus menggunakan cara halus untuk menjebak Bramantio." Sela Irlac.
"Kau benar!" sahut Dominic menatap ketiga kawannya.
Terdengar suara erangan kecil, mereka menoleh ke arah Quinsha yang baru saja sadar dan membuka matanya, berusaha untuk bangun dan duduk di lantai.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Quinsha tatapan matanya sendu.
"Akhirnya kau sadar, Nona." Sapa Dominic, berjalan mendekati Quinsha, lalu jongkok tangannya terulur menyeka noda darah di bibirnya.
"Jangan sentuh aku!" seru Quinsha memalingkan wajahnya.
"Diamlah, Nona Quinsha." Dominic mencengkram dagu Quinsha, menatap lekat wajah gadis itu.
"Bukkk!!"
Kaki kanan Quinsha menendang dada Dominic hingga terjungkal ke belakang.
"Plakkk!!
Tidak cukup puas Dominic menampar wajah gadis itu, ia menarik rambut Quinsha dan menyeretnya. Lalu di hempaskan ke arah meja kaca.
"Prankkk!!
Tubuh Quinsha terhempas bersamaan dengan pecahan kaca meja. Kemudian Dominic kdmbali menyeret rambut gadis itu hingga pecahan kaca melukai kakinya.
"Dominic cukup!" cegah Ethan.
Dominic berhenti menyeret tubuh Quinsha lalu memaksanya untuk duduk di lantai.
"Sakit kah?" tanya Dominic menatap bulu mata Quinsha yang lentik basah oleh air mata.
Namun gadis itu hanya diam, ia menundukkan kepala seraya mencabuti pecahan kaca di telapak kakinya.
"Kau cantik, tapi sayang-?" ucapan Dominic terputus, tiba tiba tubuhnya terseret jauh dan membentur dinding.
"Wussss!!!!
"Bramantio? Arkana?" ucap Ethan dan kedua temannya mundur ke belakang.
"Iblis!" hardik Bramantio menatap Dominic dan ketiga temannya, lalu pandangannya ia alihkan pada Quinsha yang di penuhi noda darah di wajah dan kakinya. "Quin!"
Bramantio berlari menghampiri Quinsha lalu mengangkat tubuhnya dan menggendong gadis itu.
"Maaf, aku terlambat datang." Kata Bramantio menatap sedih wajah Quinsha.
"Aku tahu kau pasti menjemputku, bodoh." Quinsha tersenyum samar.
Bramantio biasanya tertawa mendengar umpatan Quinsha, kali ini ia hanya diam dengan perasaan menyesal karena terlambat datang.
"Dasar pecundang! kalian beraninya hanya dengan wanita saja! ayo maju!!" tantang Arkana geram melihat Quinsha di siksa seperti itu, kemarahanya tidak dapat di tahan lagi.
Arkana melipat kedua tangannya, matanya terpejam, memusatkan pikiran. Begitu juga dengan Bramantio, matanya terpejam.
"Wussss!!!"
Tiba tiba angin besar memenuhi ruangan itu. Dominic dan tiga kawannya sama sama memusatkan pikiran, mengeluarkan energi mereka masing masing.
Di dalam tubuh mereka keluar cahaya hitam, begitu juga dalam tubuh Arkana dan Bramantio, mengeluarkan cahaya putih dan merah.
"DUARRRR!!!
"BLEDDAARRR!!!"
Cahaya dalam tubuh mereka menenuhi ruangan, dan terjadi ledakan dahsyat. Tubuh Domonic dan tiga temannya terpental jauh bersamaan dengan ruangan tersebut hancur.
Sementara Dominic dan Arkana berhasil menghindar, kemudian mereka pergi menjauh supaya bisa mengobati Quinsha terlebih dahulu.
"Bramantio dan Arkana seperti orang gila melihat gadis itu terluka, dan kekuatan mereka? dari mana kekuatan itu berasal?" gumam Dominic heran.