Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 43



Sejak mengetahui asal usulnya. Quinsha berusaha memaafkan Salman Cakra Nagara. Di bantu Bramantio, Arkana dan Chimol. Mereka menyerang kerajaan yang sudah di kuasai Azura dan Dominic.


Quinsha di gendong Bramantio dengan kecepatan tinggi, menyaingi kecepatan angin dan sunyinya malam.Tatapan matanya tajam memancarkan kilat amarah. Ia terlihat tenang tapi dari dalam dia bagaikan gunung berapi yang siap meletus dan menghancurkan segalanya. Quinsha marah dan geram terhadap orang yang sudah melenyapkan keluarganya dan siap membalaskan dendam pada mereka yang telah melenyapkan ibunya.


Tak lama mereka telah sampai di pintu gerbang utama kerajaan Salman. Quinsha dan Bramantio memerintahkan seluruh klan yang masih memiliki loyalitas tinggi terhadap Bramantio untuk menyerang kerajaan.


"Hancurkan seluruh kerajaan salmandor sayang," ucap Quinsha lembut mengusap puncak kepala naga emas.


Tanpa menunggu aba aba lagi, naga emas itu menukik tajam dan menyemburkan bara api keistana. Lalu berputar meliuk liuk menyemburkan api disemua penjuru kerajaan, Quinsha mengulurkan tangannya kebawah dan melemparkan bola api berwarna biru didominasi warna merah yang mampu menghancurkan dinding sekeras apapun.


Api tidak hanya membakar istana tapi juga pos pos keamanan dan gudang persenjataan, hanya dalam hitungan menit kerajaan porak poranda.


Nampak dari atas kepanikan para prajurit yang tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak. Apalagi yang menyerang mereka bukan manusia atau kaum dari ras lainnya.Tapi semburan api yang membara dari seekor naga yang dikendalikan oleh seorang wanita yang dipenuhi rasa dendam. Mereka telah menciptakan Wanita yang dulu lemah lembut menjadi malaikat kematian buat mereka sendiri.


Aroma bau gosong yang menyengat bercampur asap tebal begitu menusuk hidung, mayat dan darah ada di dimana mana.


Quinsha melangkah pergi menuju aula besar kerajaan untuk mencari keberadaan Azura dan Dominic, dengan pedang naga yang ada ditangan kanannya. Nampak diaula kerajaan dibalik reruntuhan istana suara erangan kesakitan, ia hanya menatap sebentar lalu beranjak pergi.


Mata Quinsha tertuju pada sosok yang sangat familiar sedang menantinya disebuah ruangan besar yang belum tersentuh api.


"Azura! seru Quinsha menatap Azura dan Dominic yang berada di sampingnya.


"Kemarilah mahluk lemah,biar aku permudah jalan kematianmu!" pekik Quinsha.


Salmandor mendekat dan terkekeh menatap quel geram. "Aku menyesal dulu tidak membunuhmu dengan tanganku, kesalahanku tidakmengetahui kalau Luciana telah melahirkan anak manusia sepertimu, tapi meskipun begitu, kau tetap akan mati juga wanita iblis, karena kehadiranmu di dunia hanya akan merusak keseimbangan alam!" seru Azura murka


Dominic menggeram marah, tangan Dominic terulur membentuk sebuah pola, seketika tanah terangakat ke atas bersamaan sulur yang menjalar hendak mencengkram tubuh Quinsha


Dengan sigap Quinsha meloncat ke atas tanah yang terangkat. Lalu menukik tajam membabat sulur yang semakin lama semakin banyak mendekat dengan pedang naganya.


"Hisap! hisaplah semua energi kehidupan yang ada!!" seru Quinsha meloncat turun ke bawah. Quin dapat merasakan setiap hisapan pedang naga itu yang membabat habis sulur sulur buatan sihir hitamnya.


Dominic terhenyak merasakan dadanya sesak, lehernya terasa ada yang mencengkram kuat. Dominic terhuyung kebelakang berusaha tetap berdiri ditopang tongkat trisulanya.


Quinsha menoleh ke arah Dominic sesaat yang mulai lemah karena pedang penghisap jiwa miliknya. Lalu beralih memperhatikan Bramantio dan Salman tengah menghadapi Azura dan kaki tangannya yang lain.


Quinsha tersenyum menyeringai mendekati Dominic. "Ini untuk ibuku!" ucap Quinsha lalu menerjang dada Dominic hingga terseret jauh dan membentur dinding istana. Darah segar mengalir dari mulutnya. Dominic mengerang menekan dadanya yang terasa remuk mencoba untuk bangun.


Melihat Dominic bisa bangun lagi, Quinsha melesat dengan cepat dan meraih tubuhnya dan mengangkat melemparkannya ke dinding istana.


"Bukkkk!!!


Tubuh Dominic melayang dan menabrak dinding istana, matanya melotot merasakan sakit disekujur tubuh, seluruh persendiannya terasa remuk, dadanya semakin sesak dan sulit untuk bernafas. Perlahan pandangannya mulai mengabur, dan gelappun menyambutnya. Quinsha segera memanggil Chimol untuk mengikat Dominic dan di jebloskan ke dalam penjara.


Sementara Bramantio dan Salman Cakra Nagara berhasil menekan Azura dan kaki tangannya. Kemudian mereka menahan Azura dan yang lain menggunakan sulur yang sudah di rapalkan mantra hitam oleh Bramantio.


Quinsha dan Salman Cakra Nagara bernapas dengan lega berhasil merebut kembali kerajaan dan memberikan hukuman untuk Azura dan yang lain. Namun tanpa mereka sadari, Lexi luput dalam penangkapan. Meski sudah di cari keseluruh penjuru istana. Lexi hilang bak di telan bumi.