
Penobatan pewaris tunggal Bangsawan tinggi Salman Cakra Nagara akan di laksanakan hari ini. Hawa intimidasi sangat terasa menyelimuti kerajaan, dan penjagaan ketat di seluruh sudut kerajaan.
satu persatu tamu undangan berdatangan, dari berbagai klan berbeda. Baik itu dari klan manusia atau klan dari mahluk dimensi lain yang telah berbaur dengan manusia sejak berabad abad lamanya.
Pemimpin klan dari dimensi lain, sudah di ketua oleh Bramantio Anderson. Sementara yang akan memimpin klan manusia akan di berikan kepada pewaris tunggal putri Salma Cakra Nagara yang seharusnya milik Quinsha.
Salman Cakra Nagara duduk di kursi kebesarannya, di sampingnya Azura dan Lexi putri mereka yang akan naik tahta dan menjadi pemimpin klan manusia.
Dominic dan ketiga temannya berdiri tegap di samping Salman mengawasi setiap pergerakan tamu undangan.
Klan werewolf berada di kursi jajaran depan yang di ketuai oleh Alexander.
Di barisan kedua di isi ketua Demigod yang di pimpin Altarik.
Barisan ketiga dari klan Vampire yang di pimpin Arkana Devin.
Barisan ke empat di isi Alama, ketua klan manusia.
Barisan utama di isi pemimpin seluruh klan yaitu Bramantio Anderson di sampingnya Quinsha duduk dengan santai memperhatikan semuanya.
Bramantio sengaja mengajak Quinsha, untuk menggagalkan penobatan putri palsu tersebut.
Arkana yang duduk di barisan ketiga, beranjak berdiri. Lalu melangkahkan kakinya mendekati Bramantio dan Quinsha. Duduk di samping Quinsha membuat Bramantio matanya mendelik tidak suka.
"Hei tenanglah, bukan saatnya kita bertengkat. Aku di sini bermaksud melindungi Quinsha," ucap Arkan pelan.
"Kau selalu mencari alasan dan kesempatan, sedikitpun kau tidak membiarkanku tenang bersama kekasihku," jawab Bramantio menatap tajam Arkana.
"Siapa bilang Quinsha kekasihmu? bukankah kau di tolak?" Arkana mengerutkan dahinya.
"Kalian bisa diam tidak?" timpal Quinsha geram. "Bisa bisanya di saat seperti ini kalian bertengkar."
"Maaf Quin, baiklah aku akan diam." Arkana kembali duduk dengan tenang.
Bramantio kembali ke posisi duduknya, sesekali melirik ke arah Arkana yang selalu menggoda Quinsha.
Arkana hanya melirik seraya mengangkat jempolnya ke arah Bramantio.
"Siap Bos!"
"Tuan dan Nyonya! selamat datang di kerajaan Salman Cakra Nagara!" sambut seorang pria yang selama ini menjadi ketua Dewan istana.
"Hari ini, putri Lexi. Akan kami nobatkan sebagai pewaris tunggal kerajaan Salman Cakra Nagara. Pemimpin seluruh klan manusia yang akan membawa perdamaian kepada seluruh mahluk. Mengemban misi perdamaian bahwa manusia bisa hidup selaras bersama mahluk dari dimensi lain tanpa ada yang mengganggu batasan satu sama lain. Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, pemimpin klan manusia akan bersanding dengan pemimpin klan seluruh klan dari dimensi lain yaitu Bramantio Anderson."
Mendengar pernyataan dari Dewan Ketua, Bramantio hanya tersenyum sinis. Ia tidak khawatir lagi untuk membantah peraturan itu, karena pemilik darah murni bukanlah Lexi tetapi Quinsha selaku putri yang asli.
Kemudian Salman Cakra Nagara berdiri, di ikuti Lexi berpindah duduk di kursi paling depan. Dewan ketua mengambil mahkota dari tangan Salaman Cakra Nagara. Pada saat mahkota itu hendak di pakaikan di kepala Lexi. Salah satu ketua klan werewolf berdiri dan angkat bicara.
"Tunggu dulu!" serunya lantang.
Semua orang mengalihkan pandangannya kepada Alexander.
"Kami tidak percaya lagi dengan cap stempel. Setahu kami, pewaris tunggal Cakra Nagara memiliki darah murni. Tunjukkan kepada kami kalau Tuan Putri Lexi pemilik darah murni itu!"
"Benar!" timpal Arkana Devin berdiri. "Darah murni mampu memberikan kekuatan besar bagi yang memiliki apalagi meminum darahnya walau setetes. Bahkan darah murni mampu mengembalikan hidup mahluk lainnya. Buktikan kepada kami!"
"Aku setuju!" sahut Atalarik pemimpin klan Demigod, setengah manusia setengah dewa. "Kami tidak mau melihat ketidakadilan dan kesalahan seperti tragedi eksekusi mati Luciana!!"
Semua yang hadir tercengang mendengar penuturan Atalarik. Mengingatkan kembali pada seorang wanita yang di tuduh penipu yang ingin menjatuhkan kedudukan Salman Cakra Nagara.
"Betul! kami setuju!" di timpali yang lain.
Ketua Dewan kembali meletakkan mahkota ke dalam wadah. Lalu meminta Lexi untuk menunjukkan kalau dia lah pemilil darah murni itu. Namun Lexi hanya bisa diam, karena bukan dia pemilik darah murni itu.
Semua tamu undangan matanya tertuju kepada Lexi, menunggu gadis itu mengeluarkan kemampuannya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" gumam Lexi dalam hati.