Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 50



Bab 50


Setelah selesai mengantarkan Naomi pulang. Alrick memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan ia memikirkan kejadian di taman. Bau amis darah yang berasal dari jari jemari Naomi rasanya begitu manis dan Alrick sangat ingin menghisapnya, andai saja ia tidak menahan dirinya.


Sesampainya di rumah, langkah Alrick tertahan di ruang tamu. Ia menatap kearah Raven, papa kandungnya dan ketiga saudara laki lakinya, yang berdiri berjajar di depannya.


"Papa?" Sapa Alrick.


"Jauhi gadis itu." Ucap Raven.


"Gadis?" Kata Alrick, kedua alisnya bertaut menatap tajam Raven.


"Kau mau mengelabui papa?" Tanyanya.


Alrick terdiam sesaat, lalu ia ingat dengan Naomi.


"Naomi, maksud papa?"


Raven berjalan mendekati Alrick, menatap tajam kedua bola mata putranya dengan tatapan intimidasi.


"Jauhi, lenyapkan gadis itu sebelum dia membunuh kita semua." Jelas Raven.


"A, appa?" Alrick masih belum paham maksud kata kata papa nya.


"Gadis itu bukan manusia." Timpal Ernes kakak pertama.


"Bukan manusia?" gumam Alrick pelan.


"Ya!" Sahut Sihomay, kakak kedua.


"Jangan jangan, kau menyukai gadis itu?" Tanya Jiho kakak ketiga.


Alrick memandang satu persatu ketiga kakaknya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Raven.


"Bagaimana kalian bisa tahu? Apakah sebenarnya kalian juga bukan manusia?" Tanya Alrick.


Raven membuang muka ke samping.


"Jauhi dia, atau papa akan membunuhnya." Ancam Raven.


"Pa, apa alasannya aku harus membunuhnya? Jelaskan." Pinta Alrick.


Sementara Arkana yang berada di kantor. Tiba tiba matanya memerah, kupingnya berubah panjang. Di luar kantor kilat berkali kali menyambar.


"Arrghh!"


Arkana merasakan aliran darah di dalam tubuhnya mendidih. Ia beranjak dari kursinya mendekati kaca jendela kantor, matanya menatap ke arah langit.


"Apa yang terjadi dengan Bram dan Quinsha?" Gumamnya pelan.


"Bleddar!!"


Arkana memejamkan matanya, dan memusatkan pikiran pada Bramantio dan Quinsha. Namun hanya gelap dan suara riuh yang tertangkat.


"Mereka dalam bahaya!" Batin Arkana, lalu membuka matanya.


Arkana terdiam sejenak menatap langit lalu ia membuka kaca jendela. Perlahan ia naik ke atas jendela bersamaan dengan kedua sayap keluar dari punggungnya berwarna hitam, lalu tubuhnya melesat terbang tinggi ke angkasa menuju dimensi lain.


Sepanjang perjalanan, Arkana terhubung pada Basreng, Dr Khucay dan Chireng. Ia memberitahu kalau Bram dan Quinsha dalam bahaya. Arkana juga meminta mereka untuk menjaga ketat Naomi selama ia pergi.


Sesampainya di dimensi lain. Tubuh Arkana menukik tajam dari ketinggian. Tak lama kakinya menginjak bongkahan es. Ia berdiri tegap menatap ke arah pintu gerbang yang tertutup rapat.


Arkana melipat kedua tangannya di dada. Mulutnya komat kamut membaca mantra, dari kedua telapak tangannya keluas bola api berwarna merah, awalnya hanya berukuran kecil. Lama lama bola api itu membesar, kedua tangannya ia angkat lalu melepaskan bola api itu ke pintu gerbang.


"Bleddarr!!"


Suara keras berdentum bersamaan dengan sebuah kilat menyambar ke arah pintu gerbang tersebut.


"Hmm!" Arkana bergumam lalu membuka matanya dan melihat pintu gerbang itu sudah terbuka walau hanya seukuran tubuhnya.


Arkana melangkahkan kakinya memasuki gerbang tersebut. Ia mengedarkan pandangan keseluruh tempat tersebut.


"Seperti habis terjadi peperangan, apa yang terjadi dengan Bram dan Quinsha?" Ucapnya pelan, raut wajah Arkana jelas terlihat khawatir.


"Bram!" Panggil Arkana melalui pikirannya.


"Quinsha!" Panggilnya lagi.


Namun berkali kali Arkana memanggil, tak satupun yang menjawab. Arkana semakin yakin kalau Bram dan Quinsha dalam bahaya.