
Sesampainya di rumah, Arkana membaringkan tubuh Quinsha di atas tempat tidur. Kemudian ia duduk bersila di lantai, mencoba mengobati luka luka di tubuhnya dengan menggunakan kekuatan dalam dirinya. Begitu pula dengan Chi Reng, namun sudah lewat dari satu jam usaha mereka berdua tidak membuahkan hasil. Darah segar terus mengalir di setiap luka cabikan, rasa sakit dan kaku semakin terasa menyakitkan. Keduanya terbatuk memuntahkan darah segar membasahi lantai.
"Uhuk uhuk!!" Arkana terbatuk, kembali memuntahkan darah segar, lalu bersandar ke tepi tempat tidur.
"Hoek!Hoek!" Chi Reng meludahkan darah ke lantai.
"Sepertinya, hari ini malaikat maut mau menjemputku," ucap Arkana tertawa terkekeh.
"Kau saja duluan, aku masih mau hidup. Aku belum menikah," timpal Chi Reng seraya memegang dadanya yang terasa panas terbakar.
"Perempuan mana yang mau dekat dekat dengan manusia setengah Vampir!" ledek Arkana kembali terbatuk. "Uhuk! uhuk!"
"Apa bedanya dengan kau? sama sama apesnya. Hahahah!" Chi Reng tertawa terbahak bahak, dahinya mengernyit menahan sakit.
"Cukup, aku sudah tidak kuat lagi.." ucap Arkana, tubuhnya mulai terasa kaku, bibirnya membiru.
"Arkana!" seru Chi Reng, berjalan merangkak mendekati tubuh Arkana, lalu mengangkatnya supaya duduk dengan benar.
"Aku coba salurkan hawa murni, kau bertahanlah Arkana!"
Chi Reng menempelkan telapak tangan di dada Arkana, mencoba menyalurkan hawa murni, namun usahanya gagal.
"Wussssss!!"
Tiba tiba saja angin kencang berhembus hingga mampu membuka pintu balkon dengan sendirinya.
"Brakk!!"
Arkana dan Chi Reng menoleh ke arah pintu yang terbuka. Mata mereka melebar, menatap sosok pria berdiri di ambang pintu, bertolak pinggang, menggunakan pakaian serba putih, style rambutnya berdiri tegak seperti habis kesetrum listrik. Tertawa terbahak bahak, mentertawakan Arkana dan Chi Reng, di bawah kaki pria itu terdapat koper berukuran besar.
"Hahahahahaha!"
"Ku Cay!!! seru mereka berdua, tertawa mengembang melihat kedatangan Dokter Ku Cay.
"Kalian payah!" umpat Ku Cay, berjalan mendekati mereka berdua, lalu mengangkat tangan kanannya ke atas. Bersamaan dengan tubuh Arkana dan Chi Reng terangkat mengambang di udara.
"Ku Cay! apa yang akan kau lakukan! turunkan aku!" seru Chi Reng, kepalanya pusing karena tubuhnya terus berputar di udara, begitupula dengan Arkana.
"Diam!!" bentak Ku Cay.
Ku Cay jongkok, membuka koper besar di lantai. Mengeluarkan alat alat medisnya, lalu duduk bersila. Merapalkan mantra, matanya menatap tajam alat alat medis, lalu jari jemarinya mulai bergerak, bersamaan dengan empat jarum suntik berukuran sedang melayang ke udara.
"Tep tep!!" ke empat jarum suntik itu menusuk leher Arkana. Kemudian empat jarum suntik lainnya melayang ke udara dan menancap di leher Chi Reng.
"Huwaaaaa!!"
"Langkah terakhir, tahan!" seru Ku Cay.
Kemudian jarum dan benang jahit melayang ke udara, mulai bergerak dan menjahit luka di tubuh Arkana dan Chi reng yang memiliki luka yang sangat lebar.
"Ahhhhhhhhhhhhhhh!!!
Keduanya berteriak kencang saat jarum jahit mulai bekerja. Sementara Ku Cay hanya tertawa terkekeh melihat penderitaan mereka.
'Dasar brengsek! awas kau!" umpat Chi Reng.
"Dokter Gila!!" rutuk Arkana menahan rasa nyeri yang luar biasa.
Namun Ku Cay acuh tak acuh mendengar umpatan mereka berdua, hingga selesai bekerja, membalut lukanya dengan perban dan obat obatan. Kemudian Ku Cay menurunkan tubuh mereka cukup kencang terhempas ke lantai.
"Dokter Gila!!" umpat Arkana lagi memegang bokongnya terasa nyeri. Begitu juga dengan Chi Reng.
"Payah! bisa diam tidak?" bentak Ku Cay, lalu berdiri menghampiri ranjang memperhatikan Quinsha yang tak sadarkan diri.
"Kalian bantu aku, cepat!" perintah Ku Cay.
Arkana dan Chi Reng berdiri, mendekati ranjang, memperhatikan Quinsha.
"Lukanya tidak terlalu parah, tapi mengapa dia masih tidak sadarkan diri?" tanya Ku Cay menoleh ke arah Arkana dan Chi Reng.
"Aku tidak tahu, sebaiknya kita gabungkan kekuatan untuk menyadarkannya." Usul Arkana dan di setujui Chi Reng dan Ku Cay.
Ku Cay memegang tangan kanan Quinsha lalu menyalurkan energinya. Begitu juga Arkana dan Chi Reng, keduanya memegang tangan kiri Quinsha dan menyalurkan hawa murni ke tubuh gadis itu.
Perlahan tapi pasti, mata Quinsha mulai terbuka dan menatap ketiga pria di sampingnya tengah memegang tangannya erat.
"Huwaaaaaa!!" pekik Quinsha menarik tangannya, lalu bangun dan duduk di tempat tidur.
"Quin!" seru Arkana dan Chi Reng tersenyum lebar.
"Apa yang kalian lakukan? di mana Bram?" tiba tiba saja Quinsha bertanya tentang keberadaan Bram.
"Bram? dia belum pulang." Kata Arkana, raut wajahnya berubah masam.
"Bram..aku mimpi buruk tentang dia..atau itu hanya mimpi?" tanya Quinsha menatap ketiga pria di hadapannya.
Arkana yang lain terdiam memikirkan ucapan Quinsha.
Sementara jauh di dimensi lain, Bramantio tengah berjuang di pulau es, untuk menyelamatkan Salman Cakra Nagara.