Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 28



Dominic berdiri di halaman istana, menatap tajam ke atas langit. Bulan bersinar terang, menerangi malam yang gelap. Terdengar suara lolongan anjing dari kejauhan. Detik berikutnya terjadi perubahan pada wajah Dominic. Giginya mulai bertaring, matanya menyala merah, tubuhnya mulai tumbuh bulu bulu lebat. Pelan tapi pasti, di malam bulan purnama ini. Kemampuan Dominic semakin kuat, tubuhnya berubah wujud dari manusia menjadi serigala hitam yang cukup tinggi dan besar. Mengaum keras, lalu berlari secepat kilat menembus kegelapan malam.


"Auuuuuuuuu!!"


Suara lolongan serigala terdengar sangat menakutkan, memecah keheningan malam. Serigala hitam itu berhenti di tengah lapangan rumput luas. Menatap tajam ke arah dua sosok pria berpakaian serba hitam. Wajah salah satu pria itu terlihat pucat, giginya mengeluarkan taring yang runcing. Tersenyum menyeringai ke arah serigala hitam. Pria berwajah pucat, lebih tepatnya seperti Vampire tak lain adalah jelmaan sosok Arkana.


Sementara pria di sebelahnya, mata hitamnya berubah ubah warna dari merah menjadi biru terang tergantung energi yang ia salurkan di seluruh tubuhnya. Pria itu tak lain adalah jelmaan Bramantio yang berubah wujud menjadi sosok iblis yang rupawan.


Dalam hitungan detik, muncul puluhan serigala hitam dari balik pohon berjajar rapi mengelilingi serigala hitam yang paling besar.


Begitu juga di pihak Arkana yang menjelma menjadi Vampire, puluhan vampire bermunculan di kegelapan. Tiada beda dengan Bramantio, di belakangnya sudah berdiri puluhan iblis berwajah pucat.


Setiap bulan purnama. Mereka bertiga dari klan yang berbeda akan mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi ketua dari semua klan. Selama berabad abad lamanya, ketua klan di pimpin oleh klan iblis yaitu Ayah dari Bramantio yang telah lama berhenti menjadi pemimpin.


Dan malam ini, malam penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin. Maka dia layak mendapatkan loyalitas baik dari semua klan atau dari bangsawan tinggi Salman Cakra Nagara.


"Auuuuuuuuu!!"


Semua serigala itu melolong membuat bulu kuduk berdiri. Bersamaan dengan hembusan angin cukup kencang, membuat daun daunan bergerak dan gemerisik.


Malam ini Bramantio akan melawan Dominic dan Arkana. Untuk menunjukkan apakah dia layak mewarisi tampuk kepemimpinan ayahnya.


"Wussssss!!!"


Masing masing anak buah Arkana dan Dominic saling berhadapan, begitupula Bramantio berdiri tegap di hadapan Arkana dan Dominic yang telah berubah menjadi serigala hitam.


"Auuuuuuuuu!!"


Lengkingan tinggi serigala hitam bersamaan dengan serigala lain dan anak buah Arkana menyerang anak buah Bramantio.


Arkana berdiri tegap, kedua tangannya ke atas. Perlahan sinar putih kecil semakin lama semakin besar membentuk bola api menyala terang di kedua tangan Arkana. Kemudian ia berlari seraya melemparkan bola api di tangan kanannya ke arah Bramantio.


Bramantio menghindari bola api milik Arkana, hingga mengenai sebuah pohon kecil.


"Bledaar!!"


Pohon itu tumbang dan menyala terbakar bola api milik Arkana. Bramantio kembali menghindari bola api berikutnya. Bersamaan dengan serigala hitam menyerang. Gerakannya yang lincah membuat Bramantio harus lebih waspada lagi.


Situasi di lapangan itu menjadi terang, masing masing mengeluarkan kemampyannya. Baik dari pihak Arkana, Domonic atau Bramantio.


"Bledaarrr!!"


Bramantio mengangkat satu tangannya ke atas, bersamaan dengan petir berwarna biru menyambar tangan Bramantio. Pria itu menyambut petir lalu melemparkan tangannya bersamaan petir biru ke arah Arkana dan Dominic.


"Bleddaaarrrr!!!


Arkana berhasil menghindari, namun tidak bagi Dominic. Serigala hitam itu terpental jauh menabrak sebuah pohon besar.


"BUKKK!!"


Serigala itu langsung berubah ke wujud semula menjadi Dominic lagi. Darah segar menetes dari mulutnya.


"Bleddaarr!!"


Kesempatan lengah Bramantio di ambil Arkana dengan melemparkan bola api ke tubuh Bramantio.


"Bleddaarr!"


"Bukkk!!


Tubuh Bramantio terlempar jauh lalu ambruk di tanah. Bram kembali bangkit, lalu menyerang Arkana menggunakan petir birunya.


Tanpa mereka sadari, dari kejauhan nampak sosok Quinsha tengah menperhatikan jalannya pertarungan hidup atau mati.


"Aku tidak percaya, mereka bukan manusia." Gumam Quinsha pelan.


"Sebaiknya aku pergi, dan aku harus memberitahu Bu Jasmin kalau mereka bukanlah manusia." Ucap Quinsha pelan, berjalan mundur.


Namun langkahnya terhenti saat terdengar suara menggeram. Quinsha balik badan, matanya melebar melihat penampakan serigala berbulu coklat, matanya merah menyala siap mencabik cabik tubuh Quinsha.


"Ya Tuhan, mahluk ini mengerikan." Ucap Quinsha pelan, berjalan mundur.


"Lariiii!!" jerit Quinsha berlari ke tengah lapangan.


Namun serigala itu mengejarnya dan berhasil melampoi Quinsha, berdiri di hadapannya memperlihatkan taringnya yang runcing.


"Bukkk!!


Serigala itu menubruk tubuh Quinsha hingga terpental jauh. Lalu ambruk ke atas rumput, darah segar mengalir dari mulut Quinsha.


Serigala tersebut mengendus, mencium aroma darah segar dari mulut Quinsha. Kemudian serigala itu menerjang tubuh Quinsha dan melukai tangan dan kakinya. Darah segar semakin mengalir deras.


Quinsha mendang serigala itu sekuat tenaga, lalu ia berdiri. Melipat kedua tangannya, cahaya putih mulai berpendar di kedua telapak tangannya, lalu di arahkan ke tubuh serigala tersebut.


"Bukkk!!"


Serigala tersebut terpental jauh lalu hancur menjadi cahaya sinar hitam melesat ke angkasa. Baru Saja Quinsha bernapas lega tiba tiba dari arah belakang, seekor serigala menerjangnya hingga tersungkur ke atas rumput.


Quinsha mencoba untuk bangun lalu duduk di atas rumput. Menatap tiga ekor serigala yang siap mencabik cabik tubuhnya.


"Uhukk!!"


Quinsha terbatuk memuntahkan darah segar, membuat serigala berdatangan mengelilingi tubuh Quinsha.


"Buk buk buk!!"


Dua penampakan iblis, anak buah Bramantio memukul mundur serigala yang mencoba melukai Quinsha.


Napas gadis itu tersengal sengal, memperhatikan dua iblis menghabisi serigala tersebut. Namun dari arah lain, seekor serigala mengintai lalu berlari menerjang tubuh Quinsha.


"Braaaaammm!!" jerit Quinsha bersamaan dengan tubuhnya terpental lalu menabrak pohon besar.


"Bukkk!!"


"Splashh!" cahaya putih menyambar serigala tersebut.


"Bleddaarrr!!" Suara petir menghancurkan tubuh serigala.


"Quin!" Bramantio berlari secepat kilat menghampiri tubuh gadis itu yang sudah tidak sadarkan diri.


"Quin!"


Bramantio mengangkat tubuh Quinsha lalu menggendongnya.


"Biar aku bereskan mereka, kau bawa pergi Quinsha!" perintah Arkana.


Bramantio menganggukkan kepalanya, lalu berlari meninggalkan tempat itu kembali ke rumahnya.


"Aku memang bersaing dengan Bramantio untuk mendapatkan tampuk kekuasaan, tapi kalau menyangkut urusan Quinsha aku tidak akan tingga diam. Matilah kau keparat!!"


"Bleddaarrr!!!"


Cahaya hitam dari telapak tangan Arkana menghantam serigala yang semakin banyak berdatangan.


"Ini aneh, mengapa mereka tertarik dengan darah Quinsha?" pikir Arkana.


"Bukankah Quinsha hanya manusia biasa?"