
Salman Cakra Nagara berhasil merebut kembali istananya dan menghukum Azura dan Dominic dengan hukuman yang setimpal. Lalu memerintahkan semua anak buah dan Arkana untuk mencari Lexi sampai dapat.
Tak butuh waktu lama, Lexi berhasil di tangkap dan di jebloskan ke dalam pengasingan di dimensi lain. Kemudian Salman Cakra Nagara mengangkat Quinsha sebagai pimpinan terakhir di kerajaan bersamaan dengan resminya hari pernikahan Quinsha dan Bramantio.
Namun Quinsha menolak tinggal di istana setelah ia menikah dengan Bramantio. Ia memilih kembali ke dunia manusia dan hidup layaknya manusia pada umumnya bersama Jasmin dan Bramantio.
Awalnya Salman Cakra Nagara menolak keinginan Quinsha. Namun pada Akhirnya ia mengizinkan Quinsha tinggal di dunia manusia bersama Jasmin di bawah pengawasan Bramantio dan Arkana dan Kucay
Di perumahan elit, di tempat itu Quinsha tinggal bersama Jasmin. Tak jauh dari rumah Quinsha tinggal hanya bersebrangan, Bramantio, Arkana dan Kucay tinggal untuk mengawasi Quinsha dan segala aktifitasnya.
Arkana dan Kucay berdiri sejajar memperhatikan Bramantio dan Quinsha di taman.
"Sekian lama aku berseteru, pada akhirnya aku kalah dalam segala hal." Kata Arkana menundukkan kepala sesaat, lalu menoleh ke arah Kucay yang sedari tadi tertawa kecil menanggapi setiap ucapan Arkana.
"Mengalah bukan berarti kalah, kau adalah pemenang. Merelakan segalanya demi wanita yang kau cintai. Anggap saja Bram lebih beruntung dari pada kau." Timpal Kucay.
"Bukk!!"
Arkana menepuk perut Kucay hingga terbatuk pelan.
"Uhuk!! sialan!" umpat Kucay.
"Mungkin aku akan pergi dari kehidupan mereka, aku tidak mau terluka setiap detiknya melihat kebahagiaan mereka," ucap Arkana.
Kucay menoleh ke arah Arkana, matanya melebar tidak percaya dengan ucapan sahabatnya.
"Kau mau meninggalkan Quin?" tanya Arkana.
"Aku percaya, Bram mampu melindungi dan menjaga keluarga kecilnya tanpa kehadiranku." Arkana balik badan, melangkahkan kakinya di ikuti Kucay.
"Kau serius?" tanya Kucay sekali lagi untuk meyakinkan ucapan Arkana.
"Apa aku pernah main main?" balas Arkana.
"Jika itu sudah keputusanmu, baiklah. Aku tidak akan mencegahmu."
Keesokan paginya Quinsha terkejut mendapati sepucuk surat yang di tinggalkan Arkana untuk dirinya dan Bramantio.
"Surat apa yang kau baca?" tanya Bramantio, berjalan menghampiri Quinsha yang tengah terisak setelah membaca surat dari Arkana.
Quinsha memberikan surat itu kepada Bramantio. "Dari Arkana."
Bramantio mengambil surat dari tangan Quinsha lalu membacanya pelan. Kemudian ia tersenyum dan menarik bahu Quinsha dan memeluknya erat.
"Tenanglah, Arkana baik baik saja. Aku tahu betul bagaimana sosok Arkana." Kata Bramantio menenangkan.
"Aku pasti merindukannya.." ucap Quinsha
"Aku juga, dia musuh, sahabat juga adik yang paling kubenci sekaligus aku sayangi." Timpal Bramantio.
"Rumah ini sepi tanpa dia.. " Quinsha masih belum bisa merelakan Arkana pergi dari kehidupannya setelah sekian lama bersama, suka duka bersama. Tapi kini, Arkana memilih pergi dan mengubur rasa cintanya terhadap Quinsha.
"Hei, sebentar lagi kita punya bayi. Rumah ini akan ramai dengan suara teriakan anak anak kita." Kata Bramantio melepas pelukannya lalu mengusap perut rata Quinsha.
"Kau benar..." sahut Quin.
"Aku percaya, suatu hari nanti Arkana akan kembali ketengah tengah kita."
Quinsha mengangguk pelan, lalu memeluk erat Bramantio.
Kucay yang memperhatikan dari jauh begitu juga Arkana, tersenyum mendengar mereka akan segera memiliki bayi.
"Kau sudah siap?" tanya Arkana menepuk perut Kucay pelan.
"Ayo!" sahut Kucay lalu berlari secepat kilat mendahului Arkana.
"Tunggu!" seru Arkana berlari mengejar Kucay dan berhasil mensejajarkan. Kecepatan berlari mereka berdua menyaingi angin. Tertawa dan saling mengumpat, seperti biasa yang mereka lakukan. Pergi sejauh mungkin membawa cintanya yang tak terbalaskan. Meninggalkan Bramantio dan Quinsha beserta semua kenangan yang akan terus menemani Arkana hingga waktu yang akan menghapus semua itu.