Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 13



Entah sudah berapa lama Quinsha tak sadarkan diri. Ia terbangun sudah berada di dalam kamar mewah. Matanya melirik ke arah Bramantio dan Arkana, lalu menoleh ke arah Salman Cakra Negara dan istrinya Azura.


"Kau sudah sadar?" tanya Bramantio lalu menarik pelan tangan gadis itu. Mengangkat tubuhnya lalu menggendongnya.


"Sebaiknya kau bawa pulang sahabatmu yang kampungan itu!" sela Azura menatap tidak suka ke arah Quinsha.


"Apa yang terjadi?" tanya Quinsha coba mengingat kapan terakhir sebelum dia pingsan.


"Kau tak sadarkan diri di lapangan istana, kenapa kau bisa berada di sana?" tanya Bramantio pelan.


"Aku tidak tahu!" jawab Quinsha.


"Sebaiknya kau bawa pulang gadis itu, mungkin dia butuh istirahat." Timpal Salman Cakra Negara.


"Terima kasih Tuan!" Bramantio menundukkan kepalanya sesaat, lalu berpamitan undur diri dari ruangan tersebut.


"Karena hari ini kau terlihat kurang baik, sebaiknya aku juga pulang. Ada hal yang harus kukerjakan." Ucap Arkana menatap cemas ke arah Quinsha.


"Bagus, itu lebih baik dari pada kau terus menggangguku!" usir Bramantio di sela langkahnya.


"Kau jangan senang dulu, besok aku akan kembali merebut Quinsha dari tanganmu!" ancam Arkana lalu berlari secepat kilat meninggalkan Bramantio.


"Kurang ajar, berani sekali bicara seperti itu di depanku." Umpat Bramantio.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah. Bramantio segera memasuki kamar pribadi yang selalu di gunakan Quinsha. Lalu menghempaskan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur.


"Bisa tidak? kau tidak kasar padaku, bodoh!" umpat Quinsha kesal.


Bramantio tertawa kecil, menunjuk ke arah Quinsha. "Sayangnya, kau tidak akan mendapatkan perlakuan istimewa dari ku."


"Oya?" Quinsha bangun lalu bertolak pinggang di hadapan Bramantio dengan kedua kaki di tekuk di atas tempat tidur. "Lalu? selama ini yang kau lakukan padaku apa? menggendongku, memberikanku tempat tinggal, memperlakukanku layaknya seseorang yang berarti dalam hidupmu, itu apa namanya!! seru Quinsha lantang.


Bramantio terkejut mendengar pernyataan gadis itu. Menggaruk rambut dengan satu jari, lalu mengusap dagunya sendiri.


"Kau benar juga." Tunjuknya ke arah Quinsha. "Kau siapa?" tanyanya balik.


"Ah sudahlah!" Bramantio mengibaskan tangan di wajah gadis itu. Lalu berjalan mendekati lemari pakaian, mengambilkan baju tidur untuk Quinsha, lalu ia lemparkan mengenai kepala gadis itu. "Ganti pakaianmu, kau terlalu banyak bicara. Aku pusing mendengarnya."


"Tapi, aku lapar." Kata Quinsha menurunkan pakaian di kepalanya lalu duduk mengusap perutnya.


"Gadis rewel sepertimu ternyata lapar juga, kau tunggu di sini. Aku ambilkan kau makanan." Bramantio melangkahkan kakinya meninggalkan Quinsha di kamarnya.


"Apa yang di katakannya benar juga, kenapa aku membawa gadis itu ke kehidupanku? aneh?" tanyanya pada diri sendiri sambil tertawa.


"Itu namanya suka, setelah suka lalu cinta, setelah cinta, Tuan pasti menginginkannya." Timpal seorang pria paruh baya, tersenyum ke arah Bramantio.


"Paman!" sapa Bramantio menoleh ke arah pintu. Nampak seorang pria paruh baya berjalan menghampirinya. Pria tersebut bernama Sumsum, yang selama ini merawat Bramantio dari kecil, sejak kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Sumsum.


"Tidak ada Paman, aku mencari Burjo." Kata Bramantio. "Paman Burjo!"


"Saya Tuan!" sahut Burjo.


"Buatkan aku makan malam, cepat!" perintah Bramantio.


"Baik Tuan!" sahutnya, Burjo bergegas ke dapur dan membuatkan makan malam.


"Untuk Quinsha?" tanya Sumsum.


"Benar Paman, kasihan dia belum makan." Kata Bramantio.


Sumsum tersenyum, menganggukkan kepalanya. "Baiklah Tuan, aku kembali kembali ke kamarku."


"Iya Paman!" sahut Bram.


Tak lama kemudian, Burjo telah selesai menyiapkan makan malam di atas nampan lalu di berikan kepada Bramantio. Setah itu, Bram kembali ke kamar Quinsha. Namun sayang, sesampaimya di kamar, Quinsha telah tertidur pulas karena terlalu lama menunggu.


"Gadis bodoh, tadi bilangnya lapar. Baru saja di tinggal sebentar sudah tidur pulas." Kata Bramantio lalu beranjak pergi dari lamar Quinsha. Dan membiarkan gadis itu tidur dengan tenang.