
Setelah seharian ia menyamar di rumah bangsawan itu. Quinsha tertidur pulas di kamarnya, sementara Bram memperhatikan dan menunggu gadis itu tertidur pulas, selain kecapean, tapi Bramantio memberikannya obat penenang.
Setelah memastikan Quinsha tertidur dengan tenang. Bramantio masuk ke dalam kamar gadis itu, lalu naik ke atas tempat tidur. Memeriksa tubuh Quinsha, apakah gadis itu memiliki tato naga putih sebagai tanda pewaris terakhir keluarga bangsawan itu.
"Di mana tatonya?" ucap Bram sambil membuka pakaian Quinsha dan memeriksanya.
"Ternyata benar dugaanku, gadis ini yang di cari mereka." Gumam Bramantio menatap tato naga di lengan Quinsha.
"Aku harus menyembunyikan tatonya sebelum mereka mengetahuinya lebih dulu."
Bramantio meletakkan telapak tangannya di lengan Quinsha, mengeluarkan kekuatan supranaturalnya untuk menutupi tato di lengan Quinsha. Setelah selesai, ia kembali memakaikan pakaian gadis itu lalu turub dari atas tempat tidur, menperhatikan wajah Quinsha.
"Untung saja Arkana belum mengetahuinya, jika dia tahu. Sudah pasti akan merebut Quinsha dari tanganku. Seingatku dulu, kakek Arkana sudah menjodohkan Arkana dengan putri pewaris terakhir Bangsawan tinggi itu. Andai Arkana tahu kalau lexi bukanlah putri yg di jodohkan kakeknya, dia pasti meninggalkan Lexi. Sebaiknya rahasia ini kusimpan sendiri." Pikir Bramantio.
Setelah puas memperhatikan wajah Quinsha. Pria itu bergegas keluar dari kamarnya dan mencari informasi tentang asal usul Quinsha. Bagaimana mungkin ada dua putri di istana itu. Bramantio berpikir kalau ia harus kembali ke istana itu untuk menggali informasi. Lalu Bramantio mengeluarkan portal pelindung untuk Quinsha supaya Arkana tidak bisa masuk ke dalam rumahnya dan mengambil gadis itu dari tangannya.
***
Tengah malam, Bramantio menyelinap keruang bawah tanah. Diam diam ia membebaskan dua tahanan yang hampir sekarat. Bramantio berpikir, kalau dua orang tersebut mengerahui rahasia yang selama ini di sembunyikan.
Setelah ia berhasil membawa kabur tahanan itu dari penjara bawah tanah. Bramantio menyalurkan energi murninya ke tubuh dua pria itu supaya dapat kembali sadar.
Setelah beberapa menit, kedua pria itu sadar dan memiliki tenaga lagi. Mereka berdua mengucapkan terima kasih kepada Bramantio, kemudian mereka berdua di persilahkan untuk makan makanan yang sudah di sediakan Bram.
"Siapa nama kalian?" tanya Bramantio.
"Aku amir, dan dia saudaraku amar." Jawab Amir, melirik sesaat ke arah Bramantio.
"Kenapa kalian di hukum? apa kesalahan kalian?" tanya Bram lagi.
"Kami tidak memiliki kesalahan, hanya karena kami saksi mata atas kekejian yang telah mereka buat." Sahut Amar sambil mengunyah makanan.
"Mereka? mereka siapa?" tanya Bramantio semakin penasaran.
"Kekejian apa yang mereka lakukan? dan kepada siapa?" tanya Bram lagi sudah tidak sabar.
"Nyonya Luciana." Jawab Amar.
"Siapa Nyonya Luciana?" Bram semakin tidak mengerti.
"Tuan, berjanjilah untuk merahasiakannya. Jangan sampai orang lain tahu. Tuan bisa di bunuh mereka." Pesan Amar.
"Baiklah, aku berjanji." Kata Bram.
"Nyonya Lucian adalah perempuan miskin yang di nikahi Tuan Salman Cakra Negara dan memiliki seorang bayi perempuan. Tapi karena Ayah Tuan Salman sudah menjodohkan putranya denga Nyonya Azura. Terpaksa mereka berdua menyingkirkan Nyonya Luciana. Beruntung bayinya di selamatkan seseorang, entah masih hidup atau tidak." Ungkap Amir ragu ragu.
"Menyingkirkan, maksudmu di bunuh?" tanya Bram lagi.
"Lebih tepatnya di penggal." Sahut Amar.
"Ya Tuhan.." gumam Bramantio, menarik napas dalam dalam. "Lalu?
"Mereka menuduh Nyonya Luciana adalah penipu, hingga ia di jatuhi hukuman penggal. Tapi sayangnya, mereka tidak tahu. Jika stempel terakhir sebagai bukti pewaris tunggal, sudah di berikan kepada bayi Nyonya Luciana yang memang hak nya bayi itu." Jelas amir.
Bramantio menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti. Ternyata Quinsha bukanlah gadis biasa, tetapi pewaris tunggal bangsawan tinggi.
"Baiklah, ada lagi?" tanya Bramantio.
"Mereka memiliki barisan para tetua yang memiliki kemampuan supranatural yang hebat. Dengan cara apapun pasti mencari keberadaan putri nyonya Luciana." Timpal Amar.
"Aku tahu itu, sebaiknya kalian pergi sejauh mungkin dari kota ini." Bramantio mengeluarkan sejumlah uang dari saku celananya, lalu di berikan kepada dua pria itu.
"Terima kasih!"
Bramantio menganggukkan kepalanya, lalu ia berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Amar dan Amir. Ia melangkah pasti dan memiliki tujuan untuk melindungi dan memiliki Quinsha.