Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 21



Keesokan paginya Bramantio sudah bersiap untuk ke kantor. Tidak lupa Bramantio membawa Quinsha kemanapun ia pergi. Karena ia tahu kalau Quinsha sering melarikan diri. Oleh sebab itu Bramantio menggunakan rantai besi berukuran kecil untuk mengikat tangan Quinsha ke tangan Bramantio.


Quinsha yang tidak mengerti sikap berlebihan Bramantio yang menganggap dirinya tawanan, tidak berhenti mengumpat dan berteriak. Akhirnya Bramantio membungkam mulut Quinsha menggunakan lakban.


Terkesan sadis dan berlebihan namun saat ini hanya itu yang bisa Bramantio lakukan kepada gadis itu supaya tidak di culik Dominic.


Selama di kantor, Quinsha terpaksa mengikuti setiap pergerakan Bramantio. Kalau pria itu berjalan, maka Quinsha mengikuti dari belakang. Bramantio tidak perduli dengan bawahannya yang menganggap dia sebagai atasan yang mengerikan, dari pada di pecat mereka memilih diam dengan tatapan aneh.


Hari semakin siang, pekerjaan Bramantio belum juga selesai, ia masih fokus menatap layar monitor. Sementara gadis itu sudah merasakan kelaparan.


"Bagaimana caranya memberitahu pria gila ini, kalau aku lapar sekali." Ucap Quinsha dalam hati.


"Aha, aku punya ide!"


Gadis itu menggeser duduknya lebih dekat dengan Bramantio, tangannya ia angkat lalu.


"Plakkk!!"


Quinsha menampar kepala Bramantio hingga merunduk. Bramantio menoleh ke arah Quinsha dengan tatapan tajam.


"Puk puk puk!"


Gadis itu menepuk nepuk perutnya sebagai tanda kalau dia lapar. Bramantio menggelengkan kepalanya, lalu ia menghubungi bawahannya untuk membawakan dia makanan ke ruangannya. Setelah itu, ia kembali fokus menatap layar monitor.


Tak lama kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan membawakan dua kotak makanan lalu di letakkan di atas meja, setelah itu ia kembali meninggalkan ruangan.


Hanya menggunakan satu tangan, Quinsha membuka kotak makanan itu. Tetapi ia lupa, bagaimana bisa makan kalau mulutnya di beri lakban, ia berkali kali membuka lakban di mulutnya tetapi Bramantio selalu menggagalkannya. Lalu gadis itu kembali memukul kepala Bramantio cukup keras.


Bramantio mulai kesal, lalu berpindah posisi duduknya menghadap Quinsha dengan tatapan tajam. "Ada apa lagi?"


Quinsha hanya bisa menggunakan kode, dengan memajukan wajahnya supaya di buka lakbannya.


"Baiklah!" Tangan Bramantio terulur membuka lakban di mulut gadis itu tanpa perasaan.


"Apalagi?" tanya Bramantio tanpa ada rasa bersalah.


"Kau memang keterlaluan, tidak punya perasaan, kau gila!!" umpat Quinsha marah.


Bramantio hanya tertawa kecil lalu membungkam mulut Quinsha dengan tangannya. Menatap kedua bola mata gadis itu yang berkaca kaca akibat kesakitan saat di lakban di mulutnya di lepas.


"Kau menangis?" tanya Bram, menurunkan tangannya.


"Tentu saja bodoh!" rutuk Quinsha geram.


"Hahahaha!! Bramantio tertawa terbahak bahak tiap kali Quinsha memanggilnya bodoh, entah mengapa tiap kali Quinsha marah dan memanggilnya seperti itu, ia sangat menyukainya.


"Ya Tuhan, selamatkan aku dari pria bodoh dan gila ini." Ucap Quinsha.


"Jangan banyak bicara, ayo makan!" perintah Bramantio. Lalu ia mengambil kotak makanan di atas meja.


"Buka mulutmu!" perintahnya lagi.


Sesaat Quinsha terdiam, ia sudah kehilangan selera makannya. Namun Bramantio terus memaksa dengan mendekatkan sendok ke mulut gadis itu.


"Ayo cepat makan!" bentaknya.


Akhirnya Quinsha membuka mulutnya dan membiarkan Bramantio menyuapinya hingga suapan terakhir.


"Wow, satu kotak makanan habis. Banyak sekali porsi makanmu." Goda Bramantio lalu meletakkan kotak makanan yang sudah kosong ke atas meja.


"Sebentar lagi kita pulang."


Tiba tiba Bramantio mematikan ponselnya, raut wajahnya yang santai berubah waspada dan cemas. Lalu ia beranjak dari kursi di ikuti Quinsha. Mereka berjalan bersama dengan tergesa gesa keluar dari dalam gedung.