Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 11



"Gunakan gaunmu, kita makan malam." Perintah Bramantio. "Satu lagi, mulai sekarang kau akan tinggal di sini, bekerja di perusahaanku dan kau harus berhenti bekerja di kelab."


Mata gadis di hadapannya melebar, mulutnya menganga, menatap tidak percaya ke arahnya.


"Ada apa? kau keberatan?" tanya Bramantio.


"Tentu saja bodoh!" sahut Quinsha kesal. "Memangnya kau siapa? berani sekali mengatur hidupku!"


"Kau lupa? apa kesukaanku?" tanya Bramantio.


"Masa bodoh!" teriak Quinsha marah.


"Katakan apa kesukaanku!" bentak Bramantio.


"Memaksa! puas kau!" jawab Quinsha terpaksa.


"Bagus, anak manis. Sekarang cepatlah, aku sudah lapar!" perintahnya lagi, lalu duduk di sofa. 'Kenapa kau masih berdiri di sana? cepat ganti pakaianmu!"


"Apa kau sudah gila? mana mungkin aku ganti pakaian di depanmu!"


"Hmm, kau terlalu banyak bicara. Aku pusing mendengarnya." Bramantio beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati Quinsha. Mengambil gaun di atas tempat tidur lalu memakaikan gaun itu dengan paksa bersamaan dengan handuk yang gadis itu kenakan melorot ke bawah.


"Kau, benar benar sudah membuatku gila." Umpat Quinsha menatap wajah rupawan di hadapannya.


"Aku tidak butuh penilaianmu, sekarang juga duduk di kursi!" perintah Bramantio, seraya menarik paksa tangan Quinsha untuk duduk di kursi menghadap cermin.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Quinsha.


"Diam!" Bramantio mulai melepas ikatan rambut gadis itu dan mulai merapikannya dan di biarkan tergerai indah.


"Kau tidak perlu menggunakan make up, kau sudah sangat cantik." Kemudian Bramantio mengambil kotak di dalam laci meja.


Quinsha hanya diam menatap pantulan wajahnya di cermin, membiarkan Bramantio memakaikan kalung berlian di lehernya.


"Berdiri!" perintah Bramantio.


"Apalagi?!" bentak Quinsha berdiri tegap.


"Bisa tidak? kau bersikap manis?"


"Tidak!" sahut Quinsha kesal.


"Wanita selalu bersikap menyebalkan dan lambat!" rutuknya lalu mengangkat tubuh Quinsha dan menggendongnya. "Diam, atau ku lempar kau ke jendela."


"Angkuh!" kata Quinsha pelan.


"Apa katamu?" tanya Bramantio di sela sela langkahnya.


"Tidak ada!" sahut Quinsha malas. "Kau mau ajak aku kemana?" tanya Quinsha ragu.


"Restoran mewah, kita makan malam. Apa kau tidak dengar?" jawab Bram.


"Bisa tidak kau tidak membentakku?"


"Terserah!"


"Menyebalkan." rutuk Quinsha dalam hati.


***


Sesampainya di restoran, Bramantio menurunkan tubuh Quinsha. Namun ada hal yang di lupakan Bramantio ataupun Quinsha. Saat mereka tengah berjalan bersama memasuki restoran. Quinsha menarik tangan Bramantio.


Quinsha mengangkat gaunnya yang hampir menyapu lantai. Nampak kaki Quinsha tidak memakai sepatu.


"Ow ya ampun, kau benar benar teledor," bisik Bramantio menepuk keningnya sendiri.


"Kau menyalahkanku?" tanya Quinsha balik.


"Sudahlah! Bram kembali menggenggam erat tangan gadis itu dan memintanya duduk di kursi yang sudah di sediakan, khusus untuk mereka berdua.


Berbagai macam hidangan lezat tersaji di atas meja. Dua gelas minuman segar, dan beberapa lilin menyala di tengah tengah meja. Di tambah iringan musik mengalun syahdu menambah situasi malam semakin romantis.


Satu persatu pengunjung restoran beranjak pergi. Kini, tinggallah Quinsha dan Bramantio saja.


"Aha! kau tidak menungguku, sahabat macam apa kau ini!"


Tiba tiba saja, Arkana Devin muncul di hadapan mereka berdua, menarik kursi lalu duduk di sebelah kanan Quinsha


"Kauuu!!" seru Bramantio menatap jengah Arkan Devin.


"Hey sayang, kau terlihat seksi dan cantik. Malam ini kau terlihat menggoda!" ucap Arkana menatap genit wajah Quinsha dan mengabaikan Bramantio.


"Dasar otak mesum!" Quinsha mengambil 3 buah anggur diatas wadah lalu di lemparkan ke tubuh Arkana Devin yang tertawa terkekeh.


"Kau selalu mengganggu kesenanganku." Ucap Bramantio geram.


Arakan Devin mengalihkan pandangannya ke arah Bram dan tertawa terkekeh.


"Bukankah sudah kukatakan, aku akan mengambil apapun yang kau sukai." jawab Arkana. "Termasuk gadis ini."


"Apa kau bilang? kau pikir aku mainan?!" bentak Quinsha marah. "Aku bisa gila terus terusan ada di sini!" Quinsha beranjak berdiri namun Bramantio dan Arkana Devin sama sama menarik tangan gadis itu supaya duduk kembali.


"Kita makan!" perintah Bram. "Aku lapar sekali."


Quinsha kembali duduk di kursi. Memperhatikan kedua pria itu mengambil garpu dan pisau. Kemudian sama sama mengambil steak di letakkan di atas piring. Gerakan mereka cepat dalam sekejap mata mereka memotong steak itu menjadi potongan kecil.


"Makanlah Quin!" ucap keduanya menyodorkan potongan steak ke mulut Quinsha.


"Aku dulu!" kata Arkana.


"Enak saja kau!" balas Bramantio.


"Tepp!!" Tangan Arkana menepis garou di tangan Bramantio. Dia pun tidak mau kalah, membalas menepis garpu di tangan Arkana. Hidangan di meja yang tertata rapi, seketika menjadi berantakan. Buah berjatuhan ke lantai, kemudian piring dan gelas minuman segar tumpah membasahi meja.


Saat mereka tengah berebut siapa yang lebih dulu menyuapi gadis itu. Diam diam Quinsha turun dari kursi, lalu berjalan merangkak ke bawah kolong meja. Kemudian berdiri tegap, mengangkat gaunnya ke atas setinggi lutut, lalu berlari kencang keluar dari restoran.


Di rasa cukup jauh, Quinsha berhenti berlari. Menarik napas dalam dalam, mengatur detak jantungnya yang tak beraturan.


"Akhirnya aku selamat juga.." ucapnya pelan. "Mereka benar benar gila, dan aku tidak menyukainya."


Setelah beberapa menit beristirahat, lalu kembali melangkahkan kakinya menyusuri tepi jalan. Sejenak ia membalikkan badan menatap ke depan untuk memastikan mereka berdua tidak mengejarnya. Quinsha tersenyum, lalu kembali balik badan dan melangkahkan kakinya


"Bukk!!" Kepalanya membentur dada bidang milik Bramantio.


"Hantuuuuu!!!" jerit Quenby balik badan hendak berlari.


Namun tanganya di tarik mundur Bramantio, lalu tubuhnya diangkat ke atas di letakkan di pundaknya.


"Kita pulang, makan dirumah saja. Si brengsek selalu saja mengganggu kesenanganku." Umpat Bramantio di sela sela langkahnya.


"Sial!" rutuk Quinsha.