
Happy reading!!!
Rasa sedih yang sudah kutahan beberapa hari ini dan penantian yang tak kunjung datang. Kuraih HPku dari dalam tas. Rasa harap ketikaku buka pesan yang ternyata tidak satupun pesan dari orang yang ku tunggu-tunggu.
"Ela simpen HPnya! Kak Zahra sudah datang," Lifi menyenggol lenganku agar aku segera menyimpan HP.
Kulihat Kak Zahra berjalan ke arah kami dengan anggun. Pakaiannya yang di kenankannya saat ini terlihat sederhana tetapi bagus.
Kak Zahra lalu duduk didepan kami bertiga. Kami berjabat tangan dan cipika cipiki terlebih dahulu kemudian melanjutkan materi kemarin yang sedang dibahas.
Setelah dua jam mendengarkan sekaligus tanya jawab dan review materi kemarin kak Zahra menutup dengan doa.
Setelah datang sang romeo kak Zahra izin pulang terlebih dahulu karena Khodijah anak pertama kak Zahra sedang aktive-aktivenya tidak mau diam, sekalinya di tinggal sudah berubah tempat. Biasanya Kak Zahra bawa khodijah ke tempat pengajian tetapi hari ini tidak katanya khodijah sedang ingin dengan romeonya kak Zahra.
"Ela, Lifi! Jadikan main ke kosanku?" seru Uni memandang kedua sahabatnya secara bergantian.
"Jadi dong. Kitakan udah lama gak berantakin kosan Uni," Lifi melirik kearah Uni. "Walaupun sebenarnya udah berantakan, iyakan Ela!" Lifi melirikku lalu kuangguki dan kukedipkan sebelah mataku.
Uni yang tidak terima lalu berkata, "Enak aja! Tadi sebelum kesini aku sudah merapikan kamar! Sekarang kamarku sudah kinclong," kata Uni membanggakan kamarnya yang sudah bersih.
Aku hanya menyunggingkan senyum melihat tingkah kedua sahabatku. "Kamu ikutkan Ela?" tanya Uni yang melihatku tersenyum.
"Iya aku ikut,"
Kami berjalan kaki ke rumah Uni yang memang dekat dari musholah tempat kami mengaji. Hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.
Kosan Uni bergabung dengan pemilik rumah. Jadi lantai atas digunakan untuk tempat kos putri sedangkan lantai bawah untuk pemilik rumah.
Di lantai atas ada berdered kamar kosan yang saling berhadapan. Kamar yang Uni tempati berukuran 6 x 4. Walaupun barang-barangnya juga lumayan banyak karena kumpulan buku-buku dari buku kuliah sejak semester 1 sampai semester 7 sampai buku penambah wawasan dan pengetahuan tentang kisang para nabi, sahabat, istri2 nabi dan lain sebagainya. Ruangan Uni di bilang cukup luas tapi karna dia kurang bisa menatanya makanya terlihat sempit.
Sampainya di kosan Uni. Kami menaiki tangga menuju ke kamarnya. Ketika membuka kunci kamar aku dan Lifi kaget karena kamarnya seperti yang dia katakan.
"Itu mah bukan kinclong tapi emang kamu sudah merapikan tumpukan bukumu yang telah tersusun rapi di lemari yang kelebihan di kamarmu sejak teman kamarmu Kak Riya pindah karena menikah beberapa minggu yang lalu," kata Lifi melihat deretan buku yang biadanya berserakan di lantai. "Kamu juga sedang menjemur kasur makanya di kamar gak ada kasur, bantal dan seprei biasanya berantakan," lanjutnya karena saat kami menaiki tangga kami melihat ada kasur di jemur dan Uni mengambil bantal dari atas kasur tersebut.
Lalu kami melihat ke arah lemari Uni yang memang pintu lemarinya sudah rusak. Terpangpang tumpukan pakaian yang rapi.
"Pasti baru disetrika kemarin," gumang Lifi yang didengar Uni. Dia terlihat menyengir.
"Udahlah yang pentingkan rapi dan wangi. Cape loh aku ngebersihinnya kemarin seharian," katanya pura-pura sedih. "Padahal hanya untuk kalian nyaman mainnya," lanjutnya lebay.
"Iya iya," seru Lifi.
Lifi dan Uni langsung melepaskan baju gamis mereka meninggalkan baju lengan pendek dan celana panjang.
"Terus kita mau masak apa Uni?" tanya Lifi yang saat ini duduk di lantai sambil melepas kaos kakinya.
"Masak seblak dong. Kitakan udah lama enggak makan seblak," serunya dengan nada alay. Lalu rebahan disamping Lifi dengan bantal yang ada diatas kepalanya.
"Memangnya udah ada bahannya?" tanyaku lalu duduk tanpa melepas gamis maupun kaos kakiku terlebih dahulu sedangkan kerudung sudah kulepaskan saat sampai di kamarnya.
"Enggak ada hehehe," kata Uni nyengir memperlihatkan giginya yang rapi.
"Yaudah jadi siapa yang beli kerupuk sama telornya!" timpal Lifi.
Lalu mereka berdua melihat ke arahku dengan senyum-senyum menandakan sesuatu. "..." aku berfikir kemudian aku memahami maksud tatapan mereka.
"Hahaha kebiasaan pada mager ya pake baju sama kaos kakinya lagi," ketawa garing kuberikan pada mereka yang menyambut dengan cengiran.
"Kalau Uni mah emang magar!" seru Lifi yang diangguki Uni. "Kalau aku sama... mager juga!" lanjutnya kemudian mengikuti Uni tiduran dilantai.
"Iya, aku yang beli bahannya. Tapi nanti yang masak siapa?"
"Tenang aja soal masak-memasak," kata Uni dengan bangga yang ku angguki.
Kemudian kukenakan kembali kerudukung lalu keluar rumah. Kulangkahkan kakiku ke arah warung yang ada dibelakang kosan Uni.
Setelah membeli beberapa bahan sepeti kerupuk, telor, bakso dan bumbu lainnya yang di pesan oleh Lifi aku kembali ke kosan.
Sampai di kosan aku mengucapkan salam terlebih dahulu baru menuju kamar Uni yang tidak jauh dari pintu. Mereka sedang menonton film India yang disukai oleh Uni dengan sangat serius.
"Jadi siapa yang masak?" tanyaku membuyarkan keseriusan Lifi sedang Uni masih tetap focus.
"Lifi!" perntah Uni pada Lifi yang saat ini memandang tajam ke arah Uni yang masih melihat kelayar Laptop.
"Iya Ela, aku yang masak. Nanti yang cuci piring sama bersih-bersih Uni!" serunya yang tidak didengeri oleh Uni karena saking focusnya.
Memasaklah kami di dapur. Tetapi bisa di bilang Lifi yang masak karena aku hanya sedikit membantu saja. Seperti mengaduk, memotong bakso, cabe dan beberapa sayuran. Sedangkan soal bumbu dan membumbui itu Lifi yang memang jago masak.
Diantara kita bertiga Lifi lebih jago masak entah itu kue maupun lainnya, kecuali masakan laut. Itulah kelemahannya tidak suka yang amis-amis, tapi kalo udah dalam bentuk makanan so pasti Lifi suka.
Setelah itu Uni, dia paling jago memasak masakan laut. Dia bisa membedakan ikan segar dan tidak karena rumahnya yang ada di pinggir pantai. Kalau kita mau memasak ikan pasti kita akan mengajak Uni untuk memilihkan ikan.
Baru aku, yang biasa saja. Bagiku yang penting kenyang masalah enak nomor dua.
Walaupun kita bertiga dari berbagai macam daerah tetapi kita satu. Lifi adalah orang madura yang dimana ayahnya merantau ke Jakarta lalu menikah dengan ibunya yang orang sunda. Dia perawakannya tinggi besar, putih, cantik dan lembut. Baru-baru sekarang dia terlihat mulai tidak lembut sejak berteman dengan aku dan Uni yang notabenenya aku berasal dari medan sedang Uni dari NTT yang biasa bersuara keras.
Sedangkan Uni ayahnya orang padang sedangkan ibunya orang NTT. Tinggallah Uni di Flores bersama ibu dan ayahnya. Walaupun begitu Uni tidak pernah melupakan suku bapaknya yang dimana berasal dari padang. Dia merantau ke Jakarta untuk kuliah.
Setelah masak-memasak selesai aku menyiapkan piring, sendok dan gelas di kamar Uni. Kemudian Lifi membawa wajan yang dia gunakan untuk memasak tadi lalu menaruhnya diatas lantai dengan beralaskan kain lap.
Uni yang mencium bau makanan langsung mengalihkan pandangan kearah aroma tersebut.
"Wah udah matang ya. Cepat juga kamu masaknya Lifi," Uni menekan pause(berhenti) lalu duduk diantara aku dan Lifi.
"Iya dong namanya juga master,"
Lalu kami makan bersama tanpa ada percakapan karena rasa lapar dan nikmatnya makanan tersebut.
Selesai makan kami merapikannya lalu Uni mencucinya di dapur. Sedangkan kami duduk sambil menyender ke tembok dan menyelonjorkan kaki ke depan karena kekenyangan.
Bisa dibilang porsi yang tadi dimasak banyak. Kami ingin makan bersama Kak Mirzani dan Kak Anti yang merupakan teman kosan Uni dan juga teman kuliah kami. Tapi karena saat ini mereka sedang keluar mengikuti pengajian. Kami menyisihkannya untuk mereka.
"Iya! Tapi jangan lupa skripsian dulu baru wisuda," katanya dengan senyuman sedang aku lemas seketika.
Setidaknya saat ini aku ingin melupakan sejenak tetang skripsi dan dia yang masih setia mengabaikanku.
Saat kami sedang bercakap-cakap mengingat masa lalu, Uni datang membawa beberapa cemilan yang dia punya.
"Kalian sedang membicarakan apa?" dia menaruh cimilannya didepan kami yang sudah Lifi lipat kakinya sedangkan aku menggesernya kesisi lain, kemudian dia duduk menghadap kami. Dia menajamkan matanya menatap kami curiga, bibirnya sedikit di kerucutkan, "Kalian pasti ngomingin aku dibelakang ya! Jujur"
Aku dan Lifi saling bertatapan memudian bersamaan menaikan bahu kami.
"Ada orang yang kepedean," kata Lifi melirik kearah Uni.
"Iya," sahutku.
"Hahaha bercanda mas bro," dia tertawa sedangkan kami membalasnya dengan tawaan garing.
"Jadi kalian ngomongin apa?" tanyanya kembali lalu mengambil cemilan untuk dimakannya.
Kami berdua yang melihatnya makan merasa mual. Begitulah Uni walaupun sudah makan sebanyak apapun dia pasti selalu nyemil. Tetapi itu tidak membuat badannya lebar karena sehabis makan dia pasti selalu nyetor ke kamar mandi (Taulah ya apa maksud aku).
"Ini kita lagi ngomongin masa-masa dulu. Awal pertemuan kita," kataku.
"Oh iya ingat!" Uni memegang dagunya dengan tangan kirinya sambil mengenang dan mengingat. "Dulu pas awal kita ketemu, aku nganggap kamu ibu-ibu karena pakaian dan kerudung besarmu," lanjut Uni dengan senyuman yang kubalas dengan anggukan.
"Benar. Diantara kita bertiga dulu hanya Ela yang sudah berbaju syar'i," tambah Lifi.
"Terus lambat laut aku dan Lifi juga berbaju seperti kamu yang awalnya kami kira pasti panas, gerah, susah jalannya. Tetapi ternyata tidak malah kami merasa nyama," timpal Uni.
"Aku berterima kasih pada Allah karena menunjukan Kak Rahma. Kalau saat itu Allah tidak mempertemukan aku dengan Kak Rahma mungkin aku belum hijrah sekarang," terlihat senyum bahagia tersungging di wajah Lifi begitu juga Uni yang mendengarnya.
"Benar Lifi. Saat itu Kak Rahma selalu mengejarku dan mengajakku mengaji. Setiap kali ada Kak Rahma aku selalu menghindarinya. Tetapi Kak Rahma tidak pantang menyerah dan terus berusaha mengajakku. Lalu Lifi yang selalu bersamaku juga diajak oleh kak Rahma," cerita Uni.
Aku memandang kedua sahabatku. Sejak awal masuk kuliah Lifi dan Uni memang dekat. Kemana-mana selalu berdua. Layaknya induknya ayam dan anaknya.
"Kalian taukan awalnya pakaianku seperti apa," sahut Lifi mengingat pakaian awalnya dulu.
Uni dan aku reflek tertawa ketika mengingat pakaian Lifi yang dulu. Lifi mengerutkan dahi tatapannya kesal.
"Hei tidak baik menertawakan seseorang seperti itu,"
"I..iya maaf Lifi," kata kami berbarengan.
Aku ingat sekali pakaian Lifi setiap kuliah, Seperti orang yang gak niat kuliah. Dia selalu mengenakan celana kain, baju kaos, sepatu jalan-jalan, dan kerudung putih langsungan yang sampai lengannya seperti kerudung anak SD.
Kampus kami memang bebas. Membiarkan mahasiswanya bebas berpakaian yang terpenting tertutup tidak terbuka pakaiannya.
"Tapi yang terpenting sekarang aku sudah berubah dalam hal pakaian dan......" Lifi memutus perkataannya dan menyentuh kepalanya dengan jari telunjuk lalu mengetuknya pelan dua kali. Kami lalau tersenyum.
Terlihat rahut wajah Lifi tiba-tiba berubah menjadi sedih membuat aku dan Uni saling berhadapan. Kami bingung kenapa wajahnya berubah.
"Kamu kenapa Lifi?" tanyaku lembut.
"Iya kamu kenapa? Kalo ada masalah cerita-cerita jangan di pendam kayak dulu. Nanti jadi penyakit hati loh," timpal Uni.
"Tidak hanya saja aku sangat bersyukur Allah memberikan kalian sebagai sahabatku," Jawabnya lembut dengan senyuman tipis di wajahnya. "Kalian ingat saat semester 5 aku pernah mengabaikan kalian, sampai pernah aku memblokir WA Ela. Saat itu aku benar-benar sedang down!" terlihat sedih di wajah Lifi yang Biasanya dia tutupi dengan tawa, canda, dan sikap santainya.
Aku ingat sekali kejadian itu. Saat itu dia masih pribadi yang tertutup. Dia hanya akan bercerita pada Uni jika itu ditanya oleh Uni. Jika tidak ditanya dia hanya akan memendanya didalam hati. Tapi yang Lifi ceritakan hanya masalah orang luar tidak dengan masalah keluarganya.
Saat itu kami yang biasanya selalu mengaji bertiga. Tiba-tiba Lifi tidak pernah lagi datang mengaji. Tanpa sebab yang kami ketahui.
Aku dan Uni berulang kali menghubungi Lifi tapi dia tak kunjung menjawab ataupun membalas pesan kami. Dia juga menjauhi ku dan Uni setiap bertemu di kampus.
Saat kami ngobrol dia juga selalu mengalihkan topik pembicaraan. Saat itu Uni sudah mulai kesal jadi dia sedikit mengabaikan Lifi tapi tidak denganku yang masih mengejar Lifi entah di kampus maupun di rumah. Sampai saatnya saat aku mengirim pesan hanya ada tanda ceklis satu di layar HPku, berulang kali aku mengerim pesan tetap sama. Biasanya juga terlihat profil foti Lifi tapi tidak terlihat kembali.
Lalu kupinjam HP kak Anti untuk melihat WA Lifi yang ternyata aktive karena tertulis online diatasnya. Aku sangat kesal melihatnya, besoknya di kampus Lifi seperti biasa menghindariku. Kuhampiri dia yang sedang berjalan pulang dan kutahan tangannya. Awalnya dia hanya belagak gak tau apa-apa. Aku yang biasanya selalu memaksa jika ingin mendapat jawaban. Entah mengapa saat itu aku sangat lembut meminta penjelasan atas sikapnya selama ini.
Lifi yang awalnya tidak ingin cerita tetapi karena tiba-tiba aku menangis dia juga ikutan menangis. Pergilah kami keruangan lain yang kosong. Disana dia menceritakan semuanya.
Lifi dikenal dengan anak yang patuh sama orang tua. Jadi setiap ayahnya atau ibunya berkata Lifi pasti menurutinya. Seperti saat itu ayahnya melarang Lifi untuk mengikuti pengajian karena takutnya pengajian yang dia ikuti tidak baik padahal nyatanya tidak seperti itu.
Aku yang telah mengetahuinya memberi tahu pada kak Zahra yang merupakan guru ngaji kami dan pada Uni setelah itu kami mendatangi keluarga Lifi berunding dan hasilnya Lifi boleh ngaji kembali.
"Terima kasih ya teman-teman," serunya dengan air mata yang sudah menetes di pipi wajahnya.
Kami memeluk Lifi layaknya teletubis. Lalu Uni melepaskan pelukannya begitu juga aku.
"Aku juga mau terima kasih karena Allah telah mempertemukan kita. jika tidak mungkin sampai sekarang aku masih... pacaran denngannya kalian taukan..," kami yang mendengar perkataan Uni entah mengapa langsung tertawa. Pikiran kami satu tertuju pada satu orang yang sama.
Lifi yang awalnya menangis entah mengapa berhenti ketika melihat expresi Uni yang malu-malu saat mengatakan itu.
"Sudahlah jangan ketawin lagi aku kan jadi malu. Nanti aku baper lagi lohhh," katanya dengan nada diimut-imutkan membuatku dan Lifi pura-pura mual.
Begitu juga dengan Uni yang pacaran dengan anak Dosen PPKN. Sampai sekarang entah mengapa setiap Uni ketemu Dosen tersebut, Pak Nanda selalu tersenyum. Entah senyum supaya Uni balik lagi dengan anaknya atau Uni mau jadi istri keduanya.
"Aku juga terima kasih. Jika saja Allah tidak mengerakkan hati kalian saat itu untuk mengajakku ngaji maka sampai sekarang aku akan tetap sama tidak mengetahui haq dan batil," seruku memecahkan canda tawa Lifi dan Uni yang saat ini.
Itulah persahabatan sebenarnya dikala suka maupun duka saling bahu mebahu. Tidak membiarkannya tersesat seorang diri tanpa tahu jalannya.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Terimakasih.