UHIBBUKI

UHIBBUKI
Prawedding



Happy read


#########


Sebelum melanjutkan cerita. Aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Alula Zahra Misela. Biasanya teman-teman memanggilku Ela. Namaku misela bukan karena aku orang bule ataupun keturunan bule ya. Tapi... Karena bapakku ingin mengenang mantan pacarnya yang dari swiss katanya sihh...


Perawakanku bisa di bilang biasa aja. Aku tidak secantik kakak ku dan juga tidak sekurus abangku. Kata orang sih... Aku cantik. Asalkan berat badanku turun 25 KG. Ya kalian bisa bayangkan ya seberapa berisinya badanku.


Saat ini aku kuliah di universitas swasta yang ada di jakarta. Aku mengambil jurusan bahasa inggris, bukan karena suka dan juga bukan karena pintar tetapi karena aku bingung mau ngambil jurusan apa. Yaa... Tapi sejak kecil aku ingin mengikuti jejak bapakku menjadi guru bahasa inggris. Setidaknya aku sudah mulai ahli lah berbaha Ingris walau masih minim kosa kata.


Aku terlahir sebagai anak bontot Bapakku yang bernama Handan dan ibuku yang bernama maryam.


Jujur dulu aku biasa aja jika berbicara dengan lawan jenis, kadang aku senyum dan tertawa. Tetapi ketika mengaji aku tau kalau ada batasan yang harus kita lakukan ketika berinteraksi dengan lawan jenis.


Aku juga mulai menahan ekspresiku yang awalnya selalu tersenyum atau memperhatikan ada laki-laki apa lagi yang ganteng ketika lewat di depan sebisa mungkin aku menundukan pandanganku. Alhasil terlahirlah wajah dinginku. Tetapi tenang saja ini hanya khusus untuk para lelaki bujang tapi untuk yang lebih tua tentu saja aku tetap memberikan senyuman yang, ya... tipis.


Aku membaringkan tubuh diatas kasur memandang langit-langit kamarku. Perasaanku saat ini tidak seperti motipseprai di kamarku yang berbunga-bunga karna baru di lamar. Bukan juga love-love seperti bantal yang kupeluk. Tapi perasaan bingung, kaget, dan tidak menyangka dengan tindakan yang diambilnya.


Flasback on


Saat itu aku sedang membaca buku, yaa... bisa dibilang novel dalam bentuk buku. Yang penting sama-sama baca buku. Kulihat HP ku berbunyi pertanda masuknya panggilan dari nomor tidak dikenal.


Aku itu bukan tipe orang yang mengacuhkan panggilan dari nomor gak dikenal. Siapa tau dia teman saya yang baru ganti nomor karena mau move on dari pacarnya atau kakak prempuan saya yang suka gonta ganti nomor karena membeli kartu internet perdana, bisa juga nomor nyasar yang ngajak nikah yahh walaupun itu gak mungkin.


Saat aku mengangkatnya terdengar suara laki-laki berbicara, "Gue mau jadi suami kakak!" mendengar itu aku terkejut dan terheran-heran. Gak ada hujan gak ada petir tiba-tiba aja ada yang mau jadi suami.


Tanpa pikir panjang aku langsung mematikan telepon dari laki-laki yang tidak tau dari mana asal-usulnya itu.


Tindakanku yang mematikan teleponnya merupakan bukanlah jalan yang bagus. Karena orang tersebut tidak henti-hentinya menelponku.


Ini sudah hari ke 5. Tetapi dia masih setianya menunggu aku menjawab panggilannya. Aku sudah seperti orang yang di tagih hutang, malah lebih para dari itu. Sehari dia bisa menelponku sampai 50 kali membuat kepalaku pusing. Aku sempat berfkir apa jangan-jangan ini prank yang dilakukan laki-laki jaman sekarang. Ya kali ni orang gak nyerah-nyerah buat ngeprank aku. Kayak gak ada orang lain aja yang bisa di usilin.


Sempat terbesit untuk mengganti nomor untuk terhindar dari ni lelaki yang gak tau asal usulnya darimana.


"Hahhh," aku menghela nafas kasar saat baru memegang HP panggilan dengan nomor yang sangat aku kenal menelpon. Dengan sangat terpaksa aku mengangkatnya teleponnya.


"Assalmualaikum kak kok baru diangkat telponnya. Gue berkali-kali nelpon kakak. Jadi gimana kak mau jadi pacar gue sekarang?" cerocosnya membuat ku kesal. Baru aja ngangkat udah nyerocos aja nih orang.


"Walaikumsalam. Maaf sebelum itu mas. Saya itu enggak kenal sama mas. Walaupun saya kenal mas, saya enggak akan pernah pacaran sama mas. PAHAM!!" kata ku dingin dengan memperjelas akhir kalimatku.


"...kakak masa lupa sama gua. Orang seganteng gua masa di lupain. Apa saking gantengnya kakak hanya memperhatikan wajah gua aja tanpa mengenali suara gua yang indah," aku yang mendengar perkataannya mendadak merinding, narsi benar in orang muji diri sendiri. Tapi rasanya suara laki-laki ini memang familiar ditelingaku.


...tunggu kayaknya benar aku kenal nada suara ini. Tapi kenalnya dimana ya... Aku langsung memelototkan mata setelah mengingat siapa laki-laki di sebrang sana.


"Wah sepertinya kakak udah ingat siapa gua. Jadi gimana kak?" katanyanya setelah mendengar aku bersuara pelan.


Aku menghembuskan nafasku kasar kemudian berkata, "Maaf langsung saja ke intinya. Apa tujuan anda menelpon saya?"


"Tujua gue... mau ngajak kakak pacaran," jawabnya dengan nada menggodanya dari sebrang telpon.


Aku yang mendengar perkataannya merinding mendadak. Aku berfikir jangan-jangan ni bocah udah biasa ngegoda cewe. Tapi sayangnya itu tidak mempan denganku.


"Kalau tidak ada sesuatu penting yang mau dikatakan akan ku matikan teleponnya," kataku judes karena sudah kesal dengan tingkah laki-laki itu lalu kuputudkan telepon secara sepihak.


Setelah aku mematikan telepon secara sepihak. Teleponku bunyi kembali dengan nomor yang sama. Sesaat setelah mengangkat telepon suara laki-laki disebramg sana sudah berbicara dengan nada yang membuat kupingku sakit karena terdengar seperti bencong.


"Ihhh kakak jangan di matiin dong. Gue kan belum selesai ngomong,"


"Hem.. jadi gini kak kalau kakak masih gak percaya perkataan gua. Minggu depan gua akan bawa nyokap gua kerumah kakak buat ngelamar kakak. Jangan lupa WA alamat kakak atau share lock!" katanya yang mulai serius. Aku yang mendengar pernyataannya tentu kaget dan tidak percaya.


Lalu aku menjawabnya dengan nanda santai, " Oh yaudah," kemudian aku mematika telepin kembali secara sepihak.


Jujur sebenarnya sekarang aku bingung harus percaya dengan perkataannya atau tidak tetapi siapa tau dia benaran akan datang walaupun aku tidak percaya. Aku mengetik sesuatu di layar HP lalu mrngirimkannya.


Ela : Assalamualaikum, ini alamat


rumah kakak jalan... gang...


nomor... cat tembok.....


Ini juga kakak kirimin lokasi rumahKakak,


Karna Kakak udah kirimin alamat lengkap,


jadi gak ada alasan gak datang ya.


Oh iya, Biasakan kalau ngomong dengan


yang lebih tua pake aku kamu biar


keliatan sopan. Kamu pahamkan!


 


PS: jangan lupa minggu depan


waktu kamu ngelamar kakak.


bawa seserahan ya....


Kakak tunggu...


 


Kataku mengakhiri pesan. Aku juga tidak lupa share lock alamat. Supaya dia tidak ada alasan ke kasasar ataupun alamatnya ke hapus. "Paling dia tidak akan datang," gumamku dalam hati kemudian manaruh HP ku.


Falasback off


"Ukhhhh, Aku bener-bener tidak menyangka dia akan datang. Yang paling membuatku kaget dia bener-bener membawa seserahan lamaran yang padahal hanya candaan untuk membuatanya kesal," seruku pelan memandang seserahan yang dibawa oleh Rafiq.


Aku memperhatikan kue tradisional yang di bawa oleh Rafic tadi. "Dia orang jawa ya? Tapi mukanya tidak seperti orang indonesia asli terlihat dari rahangnya yang kecil tetapi kokoh dan matanya yang sipit tetapi tajam? Malah dia terlihat seperti orang china campuran barat walau sedikit tapi keliatan hudungnya yang sangat mancung. Tapi.. Pas aku tanya mama, katanya tante Ika orang Sunda? Mungkin bapaknya Rafiq yang orang jawa campuran luar?" gumamku dalam hati memikirkan dia sebenarnya keturan apa.


Aku menyesal kenapa tadi tidak menanyakan saat ada orangnya langsung. Dia suku apa? Bapaknya tadi kenapa gak ikut? Dan beberapa pertanyaan lainnya. Aku menghembuskan nafas beratku kembali.


Aku meraih ponselku yang ad di kasur kemudian menggerakan jariku dari huruf satu ke huruf lainnya dengan cepat. Lalu ku pencet tanda kirim yang ada di sampingnya.


Ela : Assalamualaikum, Rafiq


Aku mau saat pernikahan, kamu


Membaca surat Al-Kahfi untukku.


Dan satu lagi Aku suka dengan


Kaki ke mesjid untuk menunaikan


sholat lima.


Itu saja yang ingin aku


sampaikan. Sampai jumpa di hari


pernikahan.


PS: Jaga kesehatanmu


supaya dapat hadir di hari


pernikahan nanti.


Aku meletakkan HP ku di atas rak buku. Ku pejamkan mataku, berharap alam mimpi cepat menghampiriku. Sayangnya selama aku memejamkan mata alam mimpi tidak datang-datang menghapiriku.


Kubuka mataku lalu melihat layar HP yang menadakan sekaram jam 1 malam. Selama 2 jam memejamkan mata pikiranku melayang entah kemana.


Aku beranjak dari kasur kemudian menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kulaksanakan sholat tahajut.


Aku mengangkat tanganku setinggi setinggi wajahku kupanjatkan doa ku, "Ya Allah engkaulah yang maha pemilik segalanya. Hanya kepada Engkaulah tempat kami mengadu, bercerita, menumpahkan segala gunda gulana yang saya rasakan saat ini. Hanya engkaulah yang tau isi setiap hati manusia. Jika memang keputusan saya menerima lamaran ini yang terbaik. Mengapa hati saya masih begitu tidak tenang? Mengapa saya masih belum yakin dengan keseriusannya menikahi saya?" air mataku mulai jatuh di pipiku. Kutahan isakanku supaya tidak terdengar oleh mama yang sedang tidur. "Jika memang Keputusan saya tepat kokohkanlah. Jika memang dia yang terbaik untuk saya, mudahkanlah kami dalam segala urusan. Jika memang dia... Yang akan menjadi suami hambamu ini... Jadikanlah dia suami yang dapat sama-sama mencari ke ridhoanmu,"


Aku hapus air mataku. Aku pandang mamaku yang masih pulesnya tertidur sambil memeluk selimut. Kurebahkan kembali tubuhku ke kasur setelah menggantung mukena. Kupejamkan mataku kemudian berdzikir. Tidak lama kemudian aku terlelap.


2 minggu kedepan merupakan hari terberatku. Karena aku belajar bagaimana menjadi istri sholeha yang di ridhoi Allah dan suami.


Biasanya setiap hari libur aku selalu tidur sehabis sholat subuh. Tetapi kali ini aku memanfaatkannya untu berolahraga mengurangi lipatan-lipatan lemak di beberapa bagian tubuhku. Setelah itu aku meminta mama mengajarkan ku cara memasak makanan 4 sehat 5 sempurna. Kalau masalah cuci mencuci dan merapikan rumah itu merupakan rutunitasku jadi...biasa saja.


Pagi ini sebelum berangkat ngampus aku memasak terlebih dahulu. Masakan sedehana yang biasa mama masak di pagi hari. Bening labu dengan wortel, tempe goreng, dan telur rebus.


Entah mengapa keluargaku tidak bisa yang namanya tidak makan nasi di pagi hari. Jika tidak makan nasi pasti cacing di perut kami menuntut untuk diberi makan makanan pokok tersebut.


Hari ini dosen untuk mata kuliah simentic tidak masuk. Aku menggunakan kesempatan ini untuk membaca buku yang telah ku beli kemarin.


"La tumben baca buku. Biasanya juga baca komik kalau gak novel," tanya Uni yang sedang duduk di depan bangkuku lalu melihat cafer buku yang kupegang.


"Lifi liyat dah. Ela baca buku cara menjadi istri yang dicintai Allah,"


Lifi yang sedang sibuknya membuat PPT untuk persentasi mata kuliah TEFL meninggalkan kegiatannya lalu menghampiri aku yang duduk lumayan jauh dari tempatnya yang ada di bangku belakang.


"Kamu mau nikah El? Makanya baca buku itu," tanya Lifi kemudian dia menarik bangku yang ada di sampingku lalu mendudukinya.


"Iya aku mau nikah," jawabku singkat membuat mereka tertawa saling pandang kemudian tertawa.


"Hahaha sama siapa emang kamu mau nikah? Dekat sama cowok aja enggak," aku melirik wajah Uni dengan kesal sedankan orang yang dilirik masih saja terus ketawa.


"Siapa tau Ela emang mau nikah ni. Intinya kalau Ela nikah kamu dilangkahin sama dia," kata Lifi senyum menepuk pundak Uni.


Diantara kami bertiga Uni lah yang lebih tua dua tahun dari aku dan Lifi. Tentunya dia ingin menikah terlebih dahulu.


"Pokoknya aku duluan yang nikah baru kalian. Makanya suruh abangmu cepat ngelamar aku, keburu aku di lamar sama laki-laki di sebrang sana,"


"Benaran yaa. Entar ku suruh abangku ngelamar kamu,"


"Enggak bercanda El. Kamu mah seriusan nanggepin aku," kata Uni melihatku yang sedang menelpon abangku.


"Hahaha telepon aja El. Biar Uni gak jomblo lagi," Lifi tertawa melihat Uni mencibirkan bibirnya begitu juga denganku.


Intinya selama 2 minggu ini aku mempersiapkan diriku sebaik mungkin untuk menjadi istri sedangkan keluarga ku menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan saat pernikahan.


Saptu ini tante Ika mengajakku untuk mencari cincin pernikahan. Sampainya kami di toko cinci. Tante Ika meminta pelayan toko mengeluarkan desind cincin pernikahan yang harganya lumayan mahal menurutku. Tante Ika memintaku memilih desind mana yang menarik perhatianku.


"Tante apa Rafiq udah pernah kesini untuk memilih cincin," bisikku pada tante Ika.


"Ela kamu jangan panggil tante tapi Ibu paham sayang!" perintahnya padaku yang ku angguki. "Rafiq sudah kemari kemarin katanya dia tertarik dengan cincin ini," Ibu Ika menunjukan 5 desind cincin Yang bagus. Lalu aku memilih cincin dengan warna perak dengan sedikit berlian diatasnya dan motif bunga di cincin tersebut.


Ibu lalu meminta pelayan toko untuk membuat cincin tersebut dengan ukuran cariku dan jari Rafiq yang telah di ukur kemarin saat dia kemari.


Sedangkan untuk baju pernikahan. Ibu meminjamnya entah pada siapa dengan ukuran yang besar untukku karena aku yang memintanya. Sebenarnya Ibu menawarkan membuat baju pengantin atau membelinya tapi aku menolaknya karena kalau membeli pasti mahal sedangkan menjahit waktu tidak cukup. Walaupun meminjam dengan ukuran besar tapi setidaknya biayanya tidak sebesar membeli dan menjahit.


Saat perjalanan pulang Ibu mengajakku mampir di rumah makan padang. Karena memang jujur aku lapar aku menganggukinya.


Saat menunggu makanan datang aku memberanikan diri bertanya tentang tentang hal yang aku pertanyakan kemarin.


"Ibu... Ela boleh tanya sesuatu?" kataku gugup sambil memandang kedua mata Ibu Ika.


"Tentu saja nak," jawab Ibu Ika lembut.


"Kenapa kemarin... ayah Rafiq tidak datang ke rumah bu?" kuperhatikan raut wajahnya yang mulai berubah sedih untuk beberapa saat Bu Ika terdiam kemudian berkata.


"Sebenarnya Ibu dan Bapaknya Rafiq sudah bercerai sejak lama. Rafiq mengukuti Ibu sedangkan bapaknya pergi entah kemana,"


"Apa bapaknya Rafiq orang bule bu? Soalnya wajahnya seperti ada campuran china dengan orang-orang bule gitu," kataku penasaran sambil mencondongkan sedikit badanku ke depan.


"Iya Rafiq memang seperempat bule keturunan dari bapaknya sedangkan seperempat china dari ibu makanya Rafiq terlihat tampan dan rupawan. Terutama matanya yang tajam mirip sekali dengan bapaknya," jawab Ibu Ika dengan bangga.


"Jadi Ibu Ika ada keturunan china jawa dong?"


"Iya lah sayang. Masa kamu gak liat Ibu putih bangatkan kayak Rafiq," kata Ibu Ika sambil menunjukan foto dirinya dan Rafiq saat masih kecil.


Kemudian makanan datang, kami menyantap makanan kami dengan sedikit obrolan yang kadang-kadang dimulai dengan Bu Ika. Dia memang Ibu yang sangat ramah. Aku bersyukur mempunyai Ibu mertua sepertinya.


Hari demi hari kujalani tidak terasa pernikahanku 2 hari lagi. Aku mengambil HP ku yang berbunyi tanda telepon masuk. Aku mengerutkan dahiku saat melihat nama panggilan.


"Kenapa dia menelponku? Mungkin ada sesuatu penting yang ingin dia katakan," gumamku dalam hati. Lalu aku mengangkat teleponnya.


"Assalmualaikum,"


"Walaikumsalam. Kakak sekarang udah mau jadi pacarku?" mendengar perkataannya aku langsung mengerutkan dahi. Tanpa BABIBU aku langsung memutuskan telepon secara sepihak.


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan bocah satu ini. Tidak henti-hentinya dia mengajakku pacaran sejak pertama kali bertemu. Apa saking sukannya dia sama aku manya dia pengin ada status antaranya dengan ku.


Aku menghembuskan nafasku berat. Ku taruh HP ku kembali lalu kubaca buku yang ada di atas meja.


Jangan lupa comment dan like ya supa saya semanga menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Terimakasih.