
Happy reading!!!
Setelah bersedih-sedih Uni mengganti topic pembicaraan kami. Memanglah hanya Uni yang bisa membuat perkataan yang awalnya tidak lucu berubah menjadi lucu jika dia yang mengatakannya entah mengapa membuat orang yang mendengarnya akan tertawa.
"Ela! Lifi! Aku baper bangat nich!" seru Uni dengan nada alaynya.
"Baper sama Pak Nanda! Gara-gara sering negur kamu? Beliau tuh mau kamu jadi calon menantunya kalau enggak... Jadi bini keduanya," jahil Lifi membuatku tertawa kecil sedang Uni mengetuk pelan kepalanya dua kali dengan tangan lalu mengetuk lantai.
"Bukan itu Lifi...! Aku baper karena dengar cerita pernikahan Kak Zahra!," jelas Uni membuatku ingat kembali cerita kak Zahra tadi.
"Iya bener! Saya juga baper tadi pas dengar ceritas kak Zahra. Aku fikir perkataan dari laki-laki seperti itu hanya ada di film-film atau sinetron tapi nyatanya... Ada juga laki-laki seperti suami kak Zahra," tambah Lifi yang mulai terlihat baper di wajahnya.
Begitu juga denganku. Kalau ditanya baper apa enggak? Pasti aku jawab baper. Siapa yang enggak baper kalau punya suami layaknya seperti suami kak Zahra.
Sebenarnya kak Zahra enggan untuk bercerita tapi karena kekepoan Uni yang tingkat tinggi, kak Zahra bercerita. Gimana tidak bercerita hampir setiap bertemu Uni selalu bertanya bagaimana awal bertemunya kak Zahra dengan suami dan sebagainya membuatku dan Lifi geleng-geleng kepala.
Biasanya Uni tuh lambeturanya artis tumben jadi lambeturanya kak Zahra. Mungkin karena sikap romantis suami kak Zahra yang selalu menjemput kak Zahra.
Sebenarnya ini tidak boleh tapi entah mengapa kami pernah benar-benar kepo lalu mengintip dari dalam mesjid ke luar untuk melihat kak Zahra dengan suaminya.
Maafkan kami ya Allah karena tindakan tidak sopan kami ini.
Suami kak Zahra dengan lembut memakaian helm dikepala kak Zahra lalu merapikan cadarnya dan terlihat senyum lembut di wajahnya.
Yang bikin kaget adalah perdebatan mereka siapa yang mencuci baju dan memasak. Kak Zahra maunya kak Zahra yang melakukan semuanya sedang suaminya maunya dia.
Wah benar-benar perdebatan yang tidak disangka-sangka olehku yang saat itu masih jomblo.
Tanpa sadar kami mundur tidak ingin mendengar terlalu banyak, bisa-bisa kami yang sudah baper malah tambah baper. Nati jadilah baper kuadrat.
"Kalian baper karena perkataan Suami Kak Zahra setelah menikah atau perilakunya?" tanyaku basa-basi sebenarnya aku mengetahuinya.
"Semuanya Ela...!" seru mereka berbarengan.
"Kamu masih ingatkan Ela perkataan suami kak Zahra setelah menikah? Kalau masih ulangin dong! Aku mau bikin hasteg suami idaman!" pinta Uni padaku untuk mengulang perkataan suami kak Zahra.
Aku menghela nafas berat terlebih dahulu baru berkata, "Sekarang kamu sudah menjadi tulang rusuk saya. Saya ingin kamu berhenti dari pekerjaanmu sekarang untuk beralih mengurus semua keperluanku. Lalu kita mencetak dan mendidik anak-anak kita supaya menjadi Mujahid dan Mujahidah. Kenakanlah cadar untuk menutupi wajahmu, agar hanya aku yang dapat memandang wajah cantik nan elokmu," kataku sedih. Sedangkan mereka terlihat baper dari ekspresinya.
Sebenarnya aku gak mau ngulang dan juga gak mau ingat perkataan yang mengiang-ngiang dikepalaku. Tapi karna muka memelas Uni dan Lifi aku jadi harus mengulangnya.
Sekarang mereka terlihat sibuk dengan HP masing-masing. Entah apa yang mereka ketik?
Saat ini aku merasa sedih. Kupandangi foto pernikahanku dengan Rafiq.
"Andaikan Rafiq seperti..." gumamku pelan yang langsung ku hentikan lalu beristigfar meminta maaf pada Allah.
Kulirik mereka berdua yang masih tetap focus dengan HP di gengaman mereka. Untung saja mereka tidak mendenar perkataanku barusan.
Aku telah berfikir seperti itu. Aku tidak ada sedikitpun rasa menyesal menikah dengan Rafiq. Hanya saja rasa mewanitaanku ingin di sayang dan di perhatikan oleh suami. Seperti halnya kak Zahra yang di perhatikan suaminya.
Apakah salah jika aku mengharapkan itu dari suamiku sendiri? Kalau aku ngarepin dari laki-laki lain baru dilarang.
Tersungging senyum tipis di wajah ketika masuk notifikasi dari storinya Lifi dan Uni.
"Sudah bikin statusnya,"
Entah mengapa aku merasa ngantuk. Ku baringkan tubuhku di atas lantai dengan bantal diatas kepala.
Lifi yang melihat kutiduran menyenggol kaki yang ada di sekatnya. "Ela kamukan baru makan. Nanti buncit loh perutnya," aku yang mendengar perkataannya hanya membalas dengan cengiran.
"Biar aja Lifi. Ela buncit juga udah laku. Ya Kita!" seru Uni.
"Kita juga laku! Tapi nanti," balas Lifi.
Mereka berdua bisa di bilang badannya tidak ada yang segemuk aku. Uni yang badannya selalu langsing walaupun makan banyak dan Lifi walaupun badannya bongsor tetapi tetap ideal karena makannya sedikit sejak pertama ketemu.
Setalah cape cerita panjang kali lebar kali tinggi dan dapatlah luas persegi panjang. Alhasil mereka berdua sudah tepar di lantai.
Tersisalah aku yang masih terjaga, setia memandang wajah sang pujaan hati yang tidak kunjung membalas pesanku. Boro-boro di balas di baca aja enggak.
Saat membuka pesan yang aku kirim pada Rafiq tertulis bahwa Rafiq sekarang sedang online.
Kembali kugerakan dengan cepat jariku diatas keyboard.
Ela : Rafiq hari ini aku akan ke rumah mama.
Sejak kemarin mama selalu menanyakan
Kenapa kamu tidak ikut ke rumah setia
aku pulang.
Aku selalu bilang kalau kamu sibuk
kuliah.
Tapi ini sudah 3 minggu sejak kamu
pergi.
Aku minta maaf Rafiq telah berbohong.
Aku sangat merindukanmu honey.
Setelah terkirim hanya ada dua ceklis yang terlihat tapi tetap tidak ada balasan dari Rafiq.
Sebenarnya bisa saja aku menelponnya sekarang. Tetapi dia pasti akan marah layaknya seminggu yang lalu aku menelponnya dan dia langsung memblokir nomorku. Sehingga aku tidak bisa mengirim pesan maupun menelponnya.
Kalau aku menelpon kenomor biasa aku takutnya dia akan mengganti nomor membuatku tidak dapat menghubunginya sama sekali.
Tidak berapa lama mataku terpejam dan aku tertidur didekat tembok samping Lifi.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Terimakasih.