
Fourty Three
Happy Reading!!!
"Apa kamu mencitai Ela?" tanya Mama. Sambaran petir, seperti menyerang hati terdalamku. Aku seperti mengingat pertanyaan Mama yang sama saat aku ingin menikahi Ela.
Saat ini aku benar-benar gugup akan pertanyaan Mama yang tak kusangka-sangka. Karna sejak awal aku berfikir Mama pasti akan menanyakan perihal keberadaan Ela saat ini, yang tentu jawabannya sudah kusiapkan sedemikian rupa.
Dengan pintarnya aku menutupi kegugupanku dengan ekpresi dan suara yang kubuat santai. "Aku kan sudah mengatakannya pada Mama saat akan menikahi Kak Ela. Kenapa Mama menanyakannya kembali?"
Mama terdiam mendengar perkataanku. Matanya yang awalnya menatap kearahku, sekarang menatap kearah meja yang ada didepannya.
Kugeser dudukku mendekati tubuh mama. Kumiringkan kepalaku agar dapat melihat sisi depannya. "Mama kenapa?" tanyaku melihat ekspresi yang entah, tidak dapatku definisikan. Wajahnya terlihat termenung menatap meja.
Mama memiringkan kepalanya yang tertunduk kearahku. Beliau menatapku sejenak. Kemudian beliau menegakkan kembali kepalanya yang awal tertunduk.
"Mama tidak apa-apa!" jawabnya dengan senyum tipis. Bisa dibilang sangat tipis. Tidak seperti tadi saat datang maupun seperti biasanya yang selalu murah senyum.
Kulihat Mama melirik jam yang ada dipergelangan tangannya. "Mama harus kembali kerja, sekarang!" seru Mama dengan mata masih menatap kearah jamnya.
Beliau lalu menoleh kearahku. "Jangan lupa datang ke rumah ya! Mama menyayangimu!" ucap Mama. Beliau lalu mencium keningku lembut.
Aku mengantar Mama sampai ke depan pintu apartemenku. Setelah mengucapkan salam Mama pergi meninggalkanku.
Kembali aku memasuki rumah, setelah mataku tak dapat melihat sosok Mama yang sudah berbelok kearah lift.
Tiba-tiba aku teringat pada sesuatu. "Mama kok tumben, tidak menanyakan Ela. Biasanya setiap bertemu, Mama pasti selalu menanyakan tentang wanita itu.." gumamku pelan. "Tapi...bukankah lebih baik seperti ini. Tak ada pertanyaan dari Mama, jadi gak perlu bohong. Terus dosa gak bertambah.." gumamku senang.
@@@
Tidak terasa, akhirnya awal semester baru datang. Dengan langkah ringan aku melajukan motorku ke kampusku yang jaraknya tidak jauh dari apartemenku.
Sampainya di parkiran. Aku langsung mermarkirkan motorku. Kulepas helem merahku laou kutengkerkan diatas kaca spionku kemudian kulepas jaket hitamku lalu menaruhnya didalam jok motor. Setelah itu aku melangkahkan kakiku menuju ke kantin kampus.
Di kantin
Suasana kantin kampus pagi ini masih terlihat sepi. Kuarahkan kakiku menuju Ibu penjual nasi uduk.
"Bu beli nasi uduk ayamnya satu! Makan disini ya Bu," ucapku pada ibu kantin yang menjadi langgananku setiap ada mata kuliah pagi.
"Siap Mas," jawabnya. Aku lalu duduk di kursi yang tak jauh dari tempat ibu langgananku tadi.
Aku lalu meraih HPku dari dalam tas selempangku yang isinya hanya leptop, satu buku, dan satu pulpen.
"Dorr!" kaget seseorang dari arah belakangku. Dengan reflek aku menjatuhkan HP yang ada digenggamanku.
Kutatap orang yang mengagetkanku dengan tajam. Sedang orang tersebut hanya cengar-cengir bagai anak kecil.
"Sorry bro, gua cuma bercanda.." ucapnya lalu duduk didepanku.
"Up to you!" seruku kesal lalu mengambil kembali HP yang terjatuh diatas meja.
"Mas ini nasi uduknya!" ucap Ibu penjual nasi uduk. Dia lalu meletakkan nasi uduk yang kupesan diatas meja. Dia juga memberikan segelas teh hangat padaku.
"Terima kasih Bu.." balasku dengan senyum ramah.
"Bu, saya juga pesan makanan yang sama ya.." ucap Pria usil didepanku yang bernama Davin.
"Siap Mas!" kataku Ibu itu lalu pergi mengambil pesanan si usil satu ini.
Dengan santai aku menyantap makan pagiku. Begitu juga dengan Davin yang pesanannya telah datang.
Usai makan kami menuju ke kelas yang ada di jam pagi ini. Aku dan Davin sama -sama pergi ke kelas karna satu jurusan yaitu sama-sama kelas Bisnis.
Selama menuju ke kelas tujuan. Tatapan anak prempuan tertuju padaku dan Davin yang ada disebelahku.
Padahal penampilanku saat ini biasa. Hanya mengenakan celana jeans, Kaos putih, dan kemeja hitam berlengan pendek yang tidak di kancing. Aku juga hanya mengenakan sepatu AlphaBonce sport biasa dan jam tangan hitam. Tidak seperti penampilan Davin yang memang mencolok karna bergaya layaknya oppa-oppa korea.
###
"Udah lama ya kita gak nongki-nongki bareng kayak gini.." kata Davin melihat kearahku maupun Reza.
"Iya udah lama, si Rafiq susah bener sih dihubunginnya.." timpal Reza melirik kearahku. "Kemana aja lo selama ini?"
Aku membalas pertanyaan Reza hanya dengan senyum tipis.
"Gua gak perlu senyuman lo!" katanya kembali. Aku terkekeh mendengarnya yang sedikit kesal.
"Gua sibuk!" jawabku lalu meminum kopi pahit yang kupesan tadi.
"Gayanya lo sibuk!" ujar Davin yang terkekeh mendengar perkataanku.
Matahari yang awalnya tersenyum, sekarang kembali mengumpetkan senyumannya.
Begitu juga kami yang mulai izin pulang ke rumah masing-masing. Tapi kali ini aku pulang tidaklah ke apartemen melainkan ke rumah Mama. Saat ini aku sangat merindukan suasana rumah yang hangat.
Sampainya di rumah Mama. Kuperhatikan halaman yang tidak ada satupun mobil terparkir. Lalu aku memasuki rumah setelah mengucapkan salam. Aku disambut oleh Bibi yang sedang melap meja makan.
"Bi, Mama belum pulang?" tanyaku pada Bibi. Kulihat Bibi terdiam sejenak.
"...Belum, Mas Rafiq.."
"Kalau Rifqi, Bi?"
"...Sama Mas, Mas Rifqi juga belum pulang.." jawabnya kembali. "Mas Rafiq ingin makan sesuatu, Biar Bibi buatkan.." tawar Bibi.
"Tidak Bi, Rafiq mau keatas saja. Nanti kalau makan malam udah siap kabarin Rafiq aja ya Bi.." kataku lalu pergi ke kamar.
Di kamar aku terlebih dahulu membersihkan diri lalu melaksanakan sholat magrib yang telah telat. Setelah itu aku bermain HP dengan masih menggunakan sarung.
'Tok tok' suara ketukan di pintu menghentikan aktivitasku. Lalu menghampiri pintu.
Kubuka pintu terdapat Bibi. "Mas Rafiq, makan malam sudah siap.." ucap Bibi.
"Iya Bi, terimakasih. Bentar lagi Rafiq turun.." ucapku. Lalu Bibi pergi meninggaljan kamarku.
Sebelum turun kebawah aku terlebih dahulu sholat isya karna sejak tadi sudah masuk waktu isya. Setelah itu aku keluar kamar.
Saat menuruni tangga, kuperhatikan meja makan yang kursinya masih kosong. Tidak ada satupun orang disana. Biasanya disana sudah ada Mama dan Rifqi menunggunya makan malam tapi saat ini tak ada.
Kududuki kursi. Kulihat Bibi yang datang menaruh sepiring buah yang telah dipotong.
"Bi, Mama sama Rifqi belum pulang?" tanyaku kembali.
"...Belum Tuan.." ucapnya kembali lalu izin ke dapur.
Kulirik jam dindinh yang ada di ruang TV. "Tidak seperti biasanya. Biasanya Mama sama Rifqi jam 8 malam sudah ada di rumah. Kenapa belum pulang ya?" gumamku pelan.
Kualihkan perhatianku kehidangan yang menggiurkan didepanku. Lebih tepatnya saat ini hidangannya tak lagi menggiurkan karna susana sepi yang menyeliputiku.
Begitu juga rasa lapar yang awalnya muncul seketika menguap. Tampa semangat aku memakan masakan didepanku.
"Bukannya ini sama saja seperti makan di apartemen.." gumamku pelan.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih