
Dimohon kebijakannya untuk orang yang sudah menikah okeeeey!
Thank you!!
Happy reading!!!
Lalu Rafiq melepaskan pelukannya dariku. Aku berwudhu kembali karena Rafiq tadi sudah menyentuh kulit pundakku dengan kulit wajahnya. Lalu dia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Karena tindakan Rafiq tadi aku tidak khusyu saat sholat. Fikiranku membayangkan apa yang terjadi setelah kami sholat sunnah dua rokaat. Aku benar-benar ingin menjalankan kewajibanku sebagai istri dan memperoleh pahala.
Selesai dzikir dan berdoa aku merapikan tempat tidur dan beberapa pakaian untuk menunggu Rafiq yang masih mandi lumayan lama dari aku. Tidak lupa juga aku menyiapkan baju koko dan sarungnya.
Setelah itu aku mengembangkan satu sajadah kembali untuk sholat sunnah dua rokaat secara berjamaah yang akan kami lakukan nanti.
"Cklek," terdengar suara kunci pintu dibuka. Reflek aku melihat kearah sosok laki-laki yang keluar hanya menggunakan sehelai handuk di pinggulnya.
Wajahku memerah melihat Rafiq begitu menggoda. Ini pertama kalinya aku melihat Rafiq hanya menggunakan handuk pada bagian bawah tubuhnya. Biasanya aku selalu melihatnya sudah menggunakan pakaian, saat ingin ganti baju di kamarku pun aku akan keluar.
Rafiq yang menyadari sedaris tadi aku memandanginya mengguratkan senyum jahil dari wajahnya. "Awas kak matanya mau keluar!"
Aku yang mendengar perkataannya langsung mengedipkan mataku yang sedaris tadi melotot kearahnya.
Dia mengambil baju yang sudah kusiapkan di atas kasur. Aku mengambil bajunya yang sudah tersusun rapi di lemari plastik yang kulihat saat aku ingin menyusun pakaianku.
Rafiq sudah siap menggunakan baju koko, sarung, dan peci yang sudah bertangkar di kepalanya.
Aku sholat berdiri di belakang Rafiq. Dia membaca ayat suci Al-Qur'an dengan baik dan merdu seperti halnya dia membaca surat Al-Kahfi saat hari pernikahan kami.
Selesai sholat dan berdoa Rafiq membalikan badannya kearahku. Dia memandang wajahku begitu juga aku memandang wajah tampannya yang teduh.
Aku menjulurkan tanganku, kucium punggung tanggannya dengan hidung dan bibirku tidak lupa kuhirup aroma tangannya yang sangat wangi. Kuangkat wajahku dan bertemulah Iris matanya yang berwarna coklat cerah dengan iris mataku yang berwarna coklat gelap.
Tanganya yang sebelah di arahkannya untuk memegang wajahku. Didekatkannya bibirnya ke arah dahiku, "Cupp!" terdengar suara kecupan yang lama dari bibirnya.
Rafiq melepaskan ciumannya dari dahiku lalu memperlihatkan senyum tipis yang kubalas dengan senyuman manis di wajah bulatku.
"Bersiaplah," Bisiknya ditelingaku membuat buluku merinding karena godaannya.
Sajadah yang kami gunakan kurapikan dan kutaruh di atas koper samping lemari plastik begitu juga dengan mukenah, baju koko dan sarungnya kugantung di tembok yang sudah tersedia gantungan.
Sedikit olesan kuberikan pada bibir dan kulit wajahku tidak lupa wewangian yang sudah kusiapkan sebelum pernikahan. Sebenarnya aku memiliki minyak wangi tapi harganya yang 10 ribuan tapi untuk malam ini aku membeli minyak wangi khusus yang harumnya tahan lebih lama.
Rafiq sudah menungguku di atas kasur dan memperhatikan semua grak grik yang kulakukan.
Kulangkahkan kakiku menuju dia yang sudah menyambutku dengan pelukan hangat.
Terasa sentuhan bibirnya yang mendarat di wajahku, leher dan kupingku (tentu saja yang sudah kubersihkan agar semua daki yang menempel rontok).
Saat dia ingin melepaskan pakaianku aku menghentikan gerakkannya lalu berkata dengan suara yang lembut bukan seperti khasku, "Mas bacalah doa sebelum kita melakukan hubungan suami istri ini.."
Di letakkan tanggannya diatas kepalaku lalu berdoa. Doa ini memohon agar dijauhkan dari setan yang bisa merusak hubungan suami istri, dan menjauhkan setan dari rezeki yang Allah berikan. Doa ini dilafalkan sebelum memulai untuk melakukan hubungan suami istri.
"Terima kasi!" ucapku di telinganya.
################################
Cacing di perutku sudah berbunyi sejak tadi. Tapi mataku masih enggan untuk terbuka. Entah sudah jam berapa sekarang aku malas sekali untuk mengerakkan tubuhku.
Sejak semalam aku belum memakan apapun. Sebenarnya ada makanan yang kubawa dari rumah mama tapi aku tidak bernafsu untuk memakannya.
Saat aku ingin kembali ke alam mimpi aku mengingat pesan mama, "Ela jaga kesehatan ya. Jangan telat makan nanti magmu kambuh!"
Mau tidak mau aku buka mataku yang terasa berat. Sekeliling wajahku sudah penuh dengan bekas tetesan air mata begitu juga dengan mataku yang membengkak dan merah karena sudah terlalu lama menangis.
Kududukan tubuhku di atas kasur. Geseran demi geseran kulakukan sampai kakiku menyentuh lantai. Aku tidak ada tenaga untuk mengangkat tubuhku yang gemuk itu alasanku tapi sebenarnya aku sangat malas untuk bangun karena aku harus meneriman kenyataan.
Kuraih plastik yang berisi makanan. Terlihat ada beberapa biskuit, cemilan dan buah. Kubuka biskuit malkis yang selalu menjadi makanan favoritku kugigit sedikit-demi sedikit.
Terlihat pandangan kosong dari mataku lain halnya dengan fikiranku yang saat ini kembali ke kejadian tadi malam.
Flashback on
"Mas wudhu dulu sebelum melakukannya lagi," pintaku pada suamiku setelah di mengeluarkannya didalamku.
Dengan sangat terpaksa Rafiq mengangkat tubuhnya dari atasku lalu menuju ke kamar mandi. Dia berjalan tanpa sehelai benang di tubuhnya membuatku yang melihatnya malu.
Walaupun kami sama-sama sudah melihat tubuh kami masing-masing tetap saja aku masih tetap malu mengingat tindakan agresifnya tadi.
Suara keran air yang tadi dinyalakan telah dimatikan kulihat Rafiq keluar kamar mandi dengan wajah kesal menatap tajam kearahku.
"Mas kamu kenapa?" tanyaku yang mulai khawatir melihat perubahan raut wajah Rafiq. Kududukan tubuhku lalu menutupi bagian depan tubuhku dengan selimut.
"Sudah berapa orang?" tanyanya pelan tetapi ada penekanan. Aku yang mendengarnya tidak paham apa maksud perkataannya.
"Maksudnya apa mas?"
"Alah gak usah muna! Bilang udah berapa orang yang tidur terus nyentuh tubuh lo! Lima, enam atau sepuluh," sindirnya dengan wajah dingin yang kali ini dia sudah mengambil handuknya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Mataku membulat bibirku bergetar. Aku sekarang mengerti maksud perkataannya. Kututupi semua tubuhku dengan selimut lalu berdiri mendekati Rafiq. Kutatap matanya lalu berkata, "Bukankah aku sudah bilang mas. Kamu laki-laki pertama yang menyentuh aku.." kusentuh lengannya yang langsung dihempaskan kasar olehnya.
Tatapan jijik iya berika padaku. Diambilnya kain lalu menggosok lengannya yang kusentuh. Kugertakkan gigi bawah dan gigi atasku. Rasa sakit dan pedih yang kini terasa di dadaku. Kurasakan mataku mulai memanas.
"Kenapa gak ngomong kalau lo udah gak perawan?"
"Maafin aku mas kalau aku udah gak perawan. Tapi itu bukan karena aku tidur dengan laki-laki tapi karena kecelakaan...." saat aku ingin menjelaskan Rafiq memotong perkataanku dengan tuduhannya.
"Kecelakaan.." terlihat dia menyengir hampa dari sudut bibirnya. "Kecelakaan karena tidur dengan banyak pria bukankah seperti itu," lanjutnya dengan sinis memandang kearahku.
Nafasku sesak mendengar tuduhannya. Lalu aku berkata dengan suara parau dan mata yang sudah berair "Bukan mas itu kecelakaan karena saat aku SD aku jatuh dari tempat tidur," belaku.
Rafiq yang mendengarnya hanya terkekeh dengan cengiran merendahkan. "Gak ada alasan lain apa selain jatuh dari tempat tidur, sepeda dan motor. Kenapa gak pilih alasan jatoh dari atap genteng atau gedung sekalian!"
Linangan air mata mulai membasahi pipiku. Isakan demi isakan terlihat dari bahuku yang mulai bergetar.
Tidak terlihat sedikitpun rasa ibanya padaku yang saat ini menangis didepannya. Hanya tatapan jijik dan benci yang terihat dari wajah dan sorot matanya.
Rafiq melewatiku begitu saja untuk mengambil bajunya yang ada di lemari. Saat aku ingin membalikkan badan dia berkata dengan suara kasar dan bentakan yang pasti hanya aku yang mendengar karena Rafiq masih bisa menahan volume suaranya agar tidak terdengar oleh tetangga. "Gua gak sudi lo ngeliat tubuh gua lagi," aku menghentikan kerakanku lalu memunggunginya kembali.
Aku terpaku diam di tempatku. Rasanya begitu sakit hatiku saat ini. Aku menyesal tidak mengatakannya saat lamarannya waktu itu. Jika saja aku mengatakannya ini tidak akan terjadi.
Tidak berapa lama Rafiq melewatiku lalu menuju kearah pintu. Saat dia ingin membuka pintu aku memeluknya dari belakang.
"Mas... kumohon jangan pergi... aku jujur... Gak pernah ada satupun laki-laki yang tidur denganku... selain kamu mas.." kataku dengan isakan tangis.
"Lepas! Gua jijik sama lo!" bentaknya lalu melepas pelukanku dari belakang dengan kasar.
Dia membalikkan tubuhnya memandaku dengan pandangan jijik, hina, merendahkan dan berbagai hal jelek lainnya.
Aku hanya memegang kedua pergelangan tanganku yang terasa sakit akibat cengkramannya dan menunduk karena takut melihat tatapan Rafiq.
"Lo gak jauh berbeda dengan prempuan cabe-cabean diluar sana yang menjual tubuhnya demi uang..." aku mengepalkan tanganku mendengarkan perkataannya ingin rasanya melawan tapi tidak bisa karena aku takut jika aku marah aku hanya akan memperburuk suasana.
Rafiq berjalan mendekat kearahku, aku mengangkat sedikit wajahku memandang wajahnya yang saat ini hanya berjarak dua jengkal.
"Gua nyesal nikah sama lo. Gua gak sudi anak gua lahir dari rahim prempuan murahan seperti lo," aku menggigit bibir bawahku dengan sangat keras. Rasa sakit dibibirku tidak seberapa dengan rasa sakit hatiku.
Dua lembar uang seratusan dia lemparkan ke wajahku dengan kasar lalu berkata, "Itu bayaranmu untuk malam ini. Kau hanya pantas mendapat segitu dengan tubuh yang biasa saja yang tidak menarik sama sekali. Itulah bayaran yang cocok untu wanjta sepertimu," Rafiq lalu membuka pintu kemudian pergi meninggalkanku seorang diri.
Kukunci pintu terlebih dahulu sebelum kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Kunyalakan keran untuk menutupi tangisan Kencangku yang seperti anak kecil.
Selesai mandi aku mengambil air wudhu untuk menenangkan hatiku kemudian sholat sunnah dua rokaat. Setidaknya setelah sholat hatiku sedikit lebih tenang.
Kurebahkan kembali tubuhku diatas kasur. Tergiang kembali perkataan kasarnya padaku membuat air mataku menetes ke samping.
Hanya iskan tangisan kecil diruangan kontrakan ini. Mataku senantiasa terpejam tetapi mimpi tidak mampir menghampiriku. Setelah membaca 3 qul dan berdzikir alam mimpi akhirnya menyambutku.
Flashback off
Air mata mulai menetes kembali di wajahku mengingat mejadian semalam. Rafiq benar-benar meninggalkannya seorang diri di rumah kontrakan ini. Kufikir dia akan pulang setelah menenangkan pikirannya.
Kuraih HP ku yang sejak semalam kutaroh di atas tasku didepan lemari plastik. Jam di HP menunjukan pukul 09.45.
Tadi pagi aku sudah bangun untuk menjalankan sholat subuh kemudian aku tidur kembali karena masih merasa ngantuk.
Sehabis makan biskuit perutku tidaklah kenyang tetapi semakin lapar. Kupaksakan diriku untuk memakai gamis dan kerudung sebelum keluar tidak lupa dengan kaos kaki untuk menuju warung membeli bahan sembako.
Uang yang semalam Rafiq lempar masih tetap diatas lantai ruang tamu. Aku memungutnya lalu menaruhnya di paling bawah pakaian Rafiq didalam lemari pakaian.
Saat membuka pintu udara sejuk terasa karena di depan kontrakan ada pohon yang ditanam warga agar tidak gersang.
Terasa sepi perumahan ini. Sama sepertihalnya di rumahku jika pagi sepi karena anak-anak masih pada sekolah.
Sebelum pergi aku mengunci pintu terlebih dahulu. Kutengok kanan kiri yang sangat sepi. Padahal ini kontrakan kenapa samping kanan kiriku sepi sekali.
Langkah demi langkah menelusuri jalan yang beraspal dan rapi. Aku melihat ada taman kecil yang berisi permainan anak-anak.
Aku mengingat-ingat kemarin saat mobil online memasuki perumahan ini ada warung yang tidak jauh dari kontrakanku.
Sebenarnya tempat konrtrakanku tidak diperumahan orang kayak tapi perumahan biasa yang bisa masuk mobil.
Akhirnya aku menenukan warung yang hanya berjarak 3 menit dari kontrakanku tapi karena aku berjalannya sangat lama layaknya pengantin sunah dan berputar-putar lerlebih dahulu aku menempuhnya dalam waktu 6 menit.
Saya menghampiri ibu penjual yang sedang menghitung sesuatu di meja tempat biasa naro pendapatan.
"Bu! Saya mau beli beras yang harganya 10 ribu dua liter," kataku setelah melihat deretan beras dengan fariasi harga. "Sama telornya seperempat, mie kuah dan mie goreng 2, sambal terasi serenceh dan kerupuk 2 yang 3 ribuah.."
"Itu aja Ba?"
"Iya bu. Jadi berapa?"
"Semuanya jadi 55 ribup," katanya lalu menerima uang 100 ribu yang kuberikan.
Saat mengambil kembalian Ibu ini mengajakku berbicara.
"Baru pindah ya ba!" tanyanya saat memberikan kembalian.
"Iya bu," jawabku sopan.
Lalu aku izin pergi setelah mengcapkan terima kasih pada ibu warung.
Sampai di rumah aku memasak nasi terlebih dahulu baru memasak mie kuah. Kutaroh satu saset sambal tetasi kedalam panci yang sudah berisi telur dan mie.
Tercium bau mie yang menggoda karena sudah masak.
Aku melahap mie kuah ini dengan nasi yang baru masak. Biarlah hari ini aku makan banyak karbon untuk mengganti makan malamku.
Aku memakannya dengan sangat lahap sampai terlihat mulutku terlihat penuh.
Selesai makan aku menaruh piring di samlingku lalu menyelonjorkan kakiku kedepan. Saat ini kpenyang sudah mengahampiriku yang saat ini mengelus perutku sambil sesekali sendawa.
"Setelah makan setidaknya rasa sakitku sedikit hilang," seruku lirih memandang lurus kedepan.
Pikiranku berkecambuk memikirkan perasaan orang tuaku yang melihat anaknya baru menikah belum sampai tiga minggu tapi sudah bercerai. Aku bingung jika Rafiq benar akan menceraikanku.
Kuraih HPku lalu mengirim pesan yang berisi.
Ela : Asalamualaiku Rafiq.
Kamu dimana tadi malam tidurnya?
Aku khawatir denganmu.
Aku sungguh minta maaf karena tidak
memberitahu perihal tersebut.
Tetapi aku sungguh tidak berbohong
kalau kau laki-laki pertama yang tidur
denganku.
Terlihat ceklis dua menandakan pesan masuk. Tetapi tidak ada tanda-tanda Rafiq membalas pesannya padahal Rafiq sedang aktiv.
Aku memandang foto Rafiq di HPku. Terlihat Rafiq yang sedang tersenyum bahagia saat di rumahku. Aku mengambil fotonya diam-diam sebagai kenang-kenangan.
"Apakah aku akan melihat senyummu ini kembali Mas," lirihku dengan mata yang sudah berair.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Terimakasih.