UHIBBUKI

UHIBBUKI
Twenty Seven



Happy Reading!!!


Kemarin aku sudah menemukan jawaban atas kegalauan hatiku. Makanya kemarin saat penelitian aku senang sekali. Setidaknya untuk sekarang aku tidak akan mengalah atas sikap Rafiq yang seperti itu.


Semakin diam menjauh aku akan semakin memepetnya.


Aku berjalan kaki dari gerbang depan sampai kedalam yang lumayan jauh. Kuperhatikan sekeliling yang terdapat pohon-pohon rindang sepanjang perumahan membuat daerah ini terlihat adam. Kemarin saat melewati daerah ini aku tidak terlalu memperhatikan sekitar.


"Assalamualaikum!" seruku dengan suara kencang didepan pagar besar berwarna hijau.


Tapi tidak ada tanda-tanda orang yang membukakan pintu. Aku kembali mengucapkan salam, tetapi hasil tetap sama.


"Apa gak ada orang ya? Apa suaraku gak kedengaran?" gumamku pelan.


Kurabakan tanganku ke sisi tembok bagian dalam yang ternyata terdapat sebuat tombol.


Beberapa saat setelah memencet keluarlah wanita setengah baya dengan terburu-buru.


"Ehh ba Ela!" serunya ketika melihatku dari celah-celah pagar.


"Iya bi," jawabku senyum.


Dengan cepat bibi membuka pagar yang di gembok. Lalu mempersilahkan aku masuk.


"Ba Ela sendiri kesini? Enggak bareng mas Hanif?" tanya bibi setelah melihatku sendiri berdiri didepan pagar.


"Iya bi," balasku senyum. " oh iya bi, ada mama?" tanyaku memperhatikan bibi.


"Ada ba! Baru aja nyonya sampe! Sekarang nyonya lagi istirahat, biar saya panggilkan.." kataku bibi.


Saat ingi berlalu aku menahan bibi. "Jangan bi. Nanti aja nunggu mama bangun," kataku lembut.


"Benar ba?" tanya bibi memastikan.


"Iya!"


"Yaudah kalau begitu masuk yuk ba.." kata bibi mengajakku masuk.


Aku memberikan buah tanganku berupa kue yang kubuat tadi pagi sebelum berangkat ngaji.


Tidak berapa lama Bibi menyajikan es jeruk beserta kue yang kubuat dan juga makanan lainnya. Lalu bibi izin ke belakang.


Sambil menunggu aku pergi ke samping rumah yang ternyata terdapat kolam renang sepanjang 15 meter dengan lebar 5 meter. Ada bangku kayu panjang yang seperti ayunan di halaman. Berserta dua bangku kecil putih dan mejanya.


Aku terpana dengan bangku kayu itu dan langsung mendudukinya. Aku memandang kearah luar. Terik mata hari menyinari kolam renang sampai kedasarnya.


Kurasakan mataku sudah terasa sayu karna sepoian angin yang menyejukan sampai akhirnya aku tertidur dalam keadaan duduk.


Z


Z


Z


Z


Z


Mata ku masih setia terpejam dan enggan membuka karna gangguan seseorang yang beberapa kali memanggil namaku.


"Hei bangun! Heii!" katanya berkali-kali sampai akhirnya aku membuka mataku menangkap sosok yang kunantikan.


"Ra.. Fiq!" seruku senyum ketika memperjelas sosok didepanku.


Dia lalu duduk disampingku menghadap kearahku. "Ngapain lo kesini?" tanyanya sinis.


Aku diam tidak menjawab pertanyaan Rafiq karna masih setengah sadar setelah sepenuhnya sadar aku berkata.


"Aku kan kagen sama kamu mas!" balasku dengan senyum manis.


Rafiq menyipitkan mata menatapku tajam. "Lo udah liat guakan sekarang! Sekarang lo pulang aja!" katanya yang terdengar mengusir.


"Kamu gak kangen sama aku mas? Padahal kita udah gak ketemu sebulan lo mas!" kataku pura-pura sedih walapun sebenarnya sedih benaran.


"Mau gak ketemu sebulan kek! Setahun! Gua gak akan pernah kangen sama loh. Paham!!" serunya.


Rafiq lalu berdiri dari posisi duduknya. "Tujuan aku kesini mau minta tolong mas.." kataku cepat saat melihat Rafiq ingin pergi.


Rafiq membalikan tubuhnya lalu memperhatikanku, menunggu kalimatku selanjutnya.


"Kemarin mama telpon. Katanya mama pengen kamu main ke rumah," jelasku menatap manik coklatnya.


"Kalau gua gak mau!" serunya mengangkat sebelah alihnya.


"Mama akan minta alamat kontrakan," kataku.


"Yaudah kasih aja," katanya sepele.


"Kalau aku kasih..."


"Kalian rupanya disini!" kata mama memotong perkataanku. Mama menghampiri kami lalu duduk di sampingku.


Segera aku mencium tangan mama yang di balasnya dengan pelukan.


"Kamu sudah makan?"


"Belum.." jawabku malu.


"Yaudah ayu makan dulu! Kamu juga Rafiq," kata mama menggandeng tanganku dan juga Rafiq.


Terhidang makanan yang menggiurkanku. Ada ayam kecap, sambel ikan tuna dan sayur sop.


Aku duduk disebelah Rafiq. Sebelum makan aku terlebih dahulu menyendok kan nasi dan lauk pada suamiku. Setelah itu baru aku makan.


Selesai makan kami bercakap-cakap di ruang TV.


"Ini kue buatan Ela ya! Kamu pintar buatnya nak.." kata mama memakan kue buatanku.


Aku tersipu malu mendengarnya. "Terima kasih ma.." balasku senyum.


"Terus kamu nginap lagi kan sekarang?"


Kutelan slavinaku terlebih dahulu sebelum berkata. "Ehmm.. maaf ma, Ela hari ini mau nginap ke rumah mama.." kataku dan muka mama terlihat sedih. "Soalnya Ela udah 2 bulan gak pulang.." lanjutku menatap mata mama.


Kulihat mama mengangkukan kepala paham. "Rafiq kamu juga ikutkan?" tanya mama pada Rafiq yang sejak tadi diam tak bersuara. Dia hanya focus memainkan HP nya.


"Rafiqq!!" panggil mama kembali.


"Ahhh iya ma??" tanya kaget.


"Kamu ikutkan ketempat mamanya Ela!" tanya mama kembali. Mama menatap kedua bola mata Rafiq.


"Ahh i.. iya.." jawabnya gagap.


"Yaudah kalian pergi sekarang aja. Soalnya udah sore," usul mama yang aku dan Rafiq angguki.


Setelah menunggu Rafiq bersiap-siap akhirnya dia turun membawa tas ransel hitamnya.


Aku sangat senang Rafiq ikut denganku. Tapi itu berubah ketika dia tiba-tiba menghentikan motornya di depan halte.


"Lo bisa sendiri kan pulang ke rumah orang tua lo!" serunya ketika aku sudah turun dari motornya.


"Bi.. sa.." jawabku. "Tapi bukannya mas mau ke rumah mama juga. Kenapa turunin aku disini?" tanyaku.


"Gua gak janji mau ke rumah orang tua loh. Gua cuman bilang iya doang!" serunya menekankan suaranya di setiap kata.


Dia langsung melajukan motornya meninggalkanku seorang diri di depan halte.


Dengan sangat galau aku terduduk di kursi halte dengan tatapan sedih memandang pijakan yang kuinjak.


"Ahhh... Bisa saja aku membatalkan ke pergianku ke rumah mama tapi... pasti mama sedih jika aku tidak kesana.." gumamku sedih.


Persaan gunda gulanaku memenuhi rongga dada sampai membuatku sesak dan ingin menangis. Sayangnya air mata ini enggan untuk jatuh.


"Akhh... mas kenapa kamu begitu sih!" keluhku kesal.


"Andaikan surga istri bukan pada suami. Sudahku..." kataku lalu terputus. "Astagfirullah Ela kamu harus sabar! Ini cobaan!" ingatku pada diriku sendiri.


Tanpa di tunggu-tunggu akhirnya bis yang menuju terminal rumahku datang. Dengan berat dan persaan sedih aku menaiki bis itu.


Dalam waktu dua jam karna tidak macet aku sampe di terminal dekat rumah. Sebelum menaiki angkot terlebih dahulu aku sholat magrib karna sebentar lagi masuk waktu isya.


Setelah menjalankan ke wajibanku kepada penciptaku aku segera menuju angkot ke arah rumahku. Tentu saja aku sudah membawa buah tangan yang telah kubeli terlebih dahulu sebelum menaiki angkot.


Sampai di rumah mama menyambutku dengan sangat senang. Dia meluapkan kerinduannya dengan memelukku sangat erat begitu juga denganku yang mencium tangannya dan juga membalas pelukannya begitu erat.


Setelah melepas pelukan. Mama melihat kearah belakangku seperti mencari-cari seseorang.


"Ela datang sendiri ma.." kataku. "Rafiq lagi sibuk sama kuliahnya. Makanya dia belum sempat kesini.." lanjutku untuk membuat mama yakin dan tidak sedih.


"Yaudah gak papa.." jawabnya menepuk pundakku. Kuberikan oleh-olehku pada mama yang diambilnya dengan senyuman.


"Pasti bapakmu senang kamu bawa buah kesukaannya!" seru mama yang kuangguki.


Ya kesini aku membawa buah kesukaan bapak seperti jeruk, apel, anggur dan pir. Walaupun sebenarnya buah kesukaan bapak pepaya.


"Pada kemana ma? Kok rumah sepi bangat?" tanyaku memperhatikan sekeliling yang tidak ada suarapun kecuali suara TV dan kami berdua.


Kemudian aku merebahku tubuhku di ruang nonton TV.


"Biasa lagi ada pengajian di mesjid sehabis sholat isya. Kalau kakakmu sedang main bersama temannya," jawabnya. Bibirku membentuk bulat tanda paham.


Sehabis rebahan sebentar di ruang TV aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah lengket dengan keringat.


Tentu aku memilih baju daster kebanggaanku yang selutut dan tanpa lengan. Ini merupakan baju kerajaanku ketika didalam rumah.


Saat memasuki kamar aku dikejutkan dengan kasur size besar dengan seprai berwarna merah tua.


"Mama!!" panggilku pada mama yang sedang menonton TV.


Aku segera menghampirinya lalu berkata. "Mama beli kasur baru ya.." godaku pada mama.


"Iya mama beli kasur baru buat kamu sama suamimu kalau seandainya kalian nginap. Masa kalian suami istri mama biarin tidur atas bawah kayak orang berantem aja.." jelasnya.


"Aduhh mama sweet bangat sih kayak permen!" coelku pada pipi gemuk mama.


"Ah kamu ini. Sana gih istirahat!" seru mama yang kugelengi.


"Kok gak mau, kenapa?"


"Kalau nanti aku tidur aku gak bisa makan besek yang dari mesjid dong.."


"Masih aja mau makan. Udah malam! Nanti gendut loh.." mama meperhatikan tubuhku dan tercengang.


"Kenapa ma. Baru sadar ya.." kataku dengan senyuman sambil menaik turunkan alisku.


Mama memperhatikan diriku dari atas sampai bawah.


"Kamu diet Ela?" tanya mama yang shok melihat tubuh kurusku setelah sekian lamanya.


"Mama kan tau. Ela kalau diet cuman bertahan 2 atau 3 minggu setelah itu tubuh akan kembali semula. Ela cuman ngurangin makan aja sama disana Ela banyak jalan enggak kayak dulu kerjaannya naik motor kemana-mana.." jelasku pada mama.


"Ela liat bertis peseoak bolamu udah mengecil!" seru mama yang membuat ku tertawa. Dulu mama sama bapak selalu bilang aku pesepak bola karta betis besarku yang bagaikan pemain sepak bola.


Kangen-kangen nanpun di mulai. Aku mulau bercerita panjang kali lebar tentang 2 bulan ini. Tentu saja aku tidak menceritakan perihal tentang Rafiq yang mengabaikanku bisa-bisa mama cerita ke bapak. Entar bapak maranin Rafiq. Terus... jangan sampe deh.


Tepat pukul sembilan suara pagar terbuka terdengar. Begitu juga dengan suara motor yang memasuki halaman rumah.


"Ma. Kakak udah bisa naik motor?" tanyaku karna mendengar suara motor yang terpakir dihalaman.


"Udah bisa tapi kadang masih takut-takut! Tapi tadi kakakmu pergi naik angkot deh kok bisa pulang naik motor?" jawab mama yang juga penasaran.


Kami lalu menuju ruang tamu. Dari balik pintu terdengar suara bapak dan juga abangku yang mengobrol beserta suara yang sangat ku kenal ditelingaku.


Mama lalu membuka pintu dan terdapat sosok abangku yang sedang memegang dua besek begitu juga bapakku yang sedang merangkul seseorang disampingnya yaitu Rafiq.


Mataku tak hentinya menatap sosok Rafiq. Aku sungguh kaget ternyata dia datang. Aku fikir dia tidak akan datang.


Senyum sumringah melekat diwajahku. Ingin rasanya menerkam Rafiq saat ini.


"Ela kamu udah nyape rupanya!" seru bapak.


Aku segera mengahampiri bapak. Beliau lalu melepas rangkulannya dari Rafiq lalu memelukku erat. Kebiasaan bapakku adalah menciumi anaknya walaupun sudah menikah. Bapak mencium pipi dan jidatku begitu juga aku mencium pipi dan jidat bapak.


Bapak lalu mengajak Rafiq duduk dikursi yang ada di ruang tamu. sedang aku menyiapkan minuman untuk mereka.


Saat aku kembali dengan minuman di atas nampan bapak berkata.


"Kamu tau nak Rafiq. Biasanya Ela itu anaknya paling susah dicium. Saking susahnya bapak tu kalau mau cium dia pas waktu tidur. Tapi tetap aja sepulas apapum dia akan selalu bangun pas bapak cium.." cerita bapak yang membuatku malu. Sedang Rafiq hanya tersenyum-senyum aja.


"Kalau sama kamu gimana? Dia maukan dicium!" goda bapak.


"Iya dong pak!"


Aku memperhatikan Rafiq. Kulihat ekspresiwajahnya yang tersenyum menjawab pertanyaan bapak.


Memang benar aku mau dicium oleh Rafiq tapi sayangnya Rafiq yang enggak mau dicium olehku.


Kemudian aku izin kedalam meninggalkan dua pria yang sedang bercakap-cakap didepan menuju kamarku.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.