UHIBBUKI

UHIBBUKI
Fourty Six



Lima hari kemudian


Jumat pagi ini. Mama kembali membahas perihal aku yang ingin menikah.


"Apa kamu yakin dengan perkataanmu, nak.." kata Mama yang masih ragu dengan perkataanku.


Aku lalu membalas tatapan mama dengan serius. "Rafiq yakin Ma.." kataku meyakinkan.


Mama terlihat menghela nafas berat. "Baiklah besok sore kita akan kesana?" ucap Mama.


"Benar Ma?" tanyaku yang senang mendengar keputusan Mama.


"Iya.." jawabnya yang masih sedikit ragu, karna terlihat di wajahnya.


"Kita langsung lamaran ya, Ma!" ucapku menatap mata Mama. Mama kembali terkaget mendengar perkataanku.


"Langsung lamaran? Bukankah itu tidak terlalu cepat?" tanya Mama merasa seperti terburu-buru.


Kuberikan tatapanku, agar Mama menyetujui lamaran yang kuucapkan.


"...Baiklah.." ucap Mama yang pasrah. Karna aku jarang sekali meminta sesuatu pada Mama.


"Apa Papimu tau perihal kamu ingin melamar seseorang?" tanya Mama. Aku lantas menggeleng lemah kepalaku.


"Rafiq belum memberitahu Papi Ma, karna setiap Rafiq telpon Papi selalu terlihat sibuk.." bohongku. "Nanti Rafiq akan memberitahu Papi.." mama menganggukan kepala setuju.


(proses lamarannya dan pernikahannya kalian bisa liat di Bab 2 ya bagian prewedding)


Setelah prosesi lamaran aku kaget mendengar keputusan Mama dan juga orang tua Wanita itu yang akan menikahkan kami dalam waktu kurang dari sebulan.


Kufikir dari waktu lamaran ke pernikahan berjarak 2 atau 3 bulan. Dari jarak itu, aku akan berusaha mendekati Wanita itu lalu mengajaknya pacaran setelah itu kembali kerencana awal. karna sejak awal aku tidak benar-benar ingin menikahi wanita itu.


Yang membuatku tambah kaget adalah. Ke ikut setaan Mama dalam mengusulkan agar aku dan wanita itu menikah dalam wantu dekat.


Setelah hari lamaran itu aku mengiriminya pesan agar Wanita itu mau jadi pacarku. "Bacanya di Bab Pre atau Wedding ya)


Sayangnya sampai mendekati hari H Wanita itu. Sama sekali tidak menerima ajakanku. Membuatku stress memikirkan pernikahanku sendiri di tambah bacaan surat sebelum mengucapkan ijab qobul.


Rasanya saat ini aku ingin kabur. Tapi setiap kali melihat antusias Mama yang sangat bersemangat membuatku tak tega. Andaikan saat ini mempelai wanitanya adalah Wanita yang kucinta. Maka aku akan sangat senang.


Disini aku benar-benar merutuki perbuatan bodohku. Saking antusiasnya ingin membuat wanita iti takhluk, malah berakibat seperti ini.


Flashback off


Aku kembali lagi ke kenyataan sekarang ini. Tentang mama yang sudah mengetahui alasanku menikahi Ela.


"Mama sejak kapan mengetahuinya?" tanyaku dengan tatapan tak percaya. Mama menundukan kepalanya. Dia lalu memejamkan matanyanya sejenak kemudian membukanya kembali masih sambil melihat kebawah.


"Rafiq, kamu tak perlu tau sejak kapan Maam tau!" ucapnya. Dia lalu melihat kearahku kembali dengan mata lelahnya. "Yang perlu tau! Mama curiga padamu yang sering pulang ke rumah tetapi tidak pernah mengajak Ela. Karna itu Mama menanyai semuanya pada Rifqi yang memang dekat denganmu.." tambahnya. Sentak membuatku kaget, karna Mama mengetahuinya dari Rifqi langsung.


"Rifqi!" ucapku mengulang perkataan Mama. Saat ini aku benar tidak menyangka kalau Rifqi mengatakannya pada Mama. Padahal aku sangat mempercayainya.


"Rafiq, kamu jangan salahkan Rifqi atas semuanya! Karna Mama yang memaksanya untuk bercerita.." ucap Mama yang kuangguki paham. Seketika aku merasa merinding dengan tatapan Mama.


"Sekarang Mama mau tanya padamu. Apa kamu ingin melanjutkan pernikahanmu atau menghentikannya sampai disini?" tannya Mama dengan wajah seriusnya.


Aku terdiam memikirkannya.


"Sebelum kamu memutuskannya. Mama akan memberikanmu pilihan terlebih dahulu," kata Mama mengangkat 2 jarinya. "Yang pertama jika kamu memilih berpisah, maka Mama akan memberitahu Papimu perihal pernikahanmu. Yang kedua lanjutkan pernikahan ini. Jika Ela sendiri yang meminta berpisah, maka Mama akan menyetujuinya dan merahasiakan pernikahanmu dari papimu.." jelas Mama.


Sungguh aku kaget mendengar pilihan pertama maupun kedua yang Mama ajukan. Jika aku memilih yang pertama sama saja aku akan tinggal bersama Papi selama-lamanya. Jika memilih pilihan kedua aku harus tinggal satu atap dengan wanita itu.


"Rafiq, mama tau sampai sekarang kamu tidak ada niatan memberi tau Papimu, perihal pernikahanmu.." ucap Mama kembali. Aku menggit bibirku pelan. Tepat seperti yang Mama katakan.


"Jadi, mana yang kamu pilih?"


"...Rafiq pilih...yang kedua! Ma.." seruku. Terlihat Mama sedikit menyunggingkan senyum.


"Mama senang dengan keputusanmu.." ucap Mama. "Tapi...untuk saat ini Mama masih kecewa atas perbuatanmu.." ucap Mama.


"Sekarang pergilah kuliah!" perintah Mama.


"Ma mengenai Kak Ela..."


"Ada apa dengan Ela?" potong Mama tanpa melihat kearahku.


"Apa Rifqi belum menceritakan perihal Ela?" tanyaku dalam hati. Melihat Mama yang biasa saja.


"Tidak ada apa-apa Ma.." ucapku canggung. "..eee Rafiq berangkat kuliah ya, assalamualaikum.." izinku.


"Walaikumsalam.." jawab Mama.


###


Pulang dari kuliah. Aku langsung menuju ke rumah Mama. Sampai di rumah aku langsung menanyakan keberadaan Rifqi yang sudah pulang sejak sore.


"Rifqi!" aku langsung masuk kedalam kamarnya yang pintunya ke buka. Dia yang sedang bermain dengan HPnya sambil tiduran sontak langsung terduduk.


"Mas Rafiq.." katanya yang terlihat gugup.


Aku mendekat kearahnya yang terlihat seperti ketakutan. Kududukan tubuhku dipinggir ranjangnya. "Udah gak usak takut!" seruku.


"Mas Rafiq gak marah?" tanya Rifqi memastikanku.


"Gua gak marah.." ucapku tenang.


Rifqi tiba-tiba langsung mendekat kearahku. Dia tampak berwajah lesu. "Mas, maafin Rifqi ya. Mama tiba-tiba nanya Rifqi. Kalau Rifqi gak jawab, Mama bilang, Mama akan mendiamkan Rifqi seumur hidupnya.." ceritanya.


"Iya.. Gua paham kok.." ucapku menenangkannya. "Ngomong-ngomong gua mau nanya sama lo. Lo ceritain gak semuanya ke Mama termasuk Ela yang gak ada?" tanyaku menatap kearahnya. Rifqi terlihat diam.


"...Eee..Rifqi ceritain semua Kak, ...kecuali tentang Kak Ela yang tidak ada. Karna Mama tidak menanyakannya.."ucapnya yang terlihat gugup. Aku menyipitkan mataku menatapnya.


"Kamu gak bohong kan?" selidikku. Rifqi langsung menggelengkan kepalanya.


"Serius Mas, Mama tidak pernah bertanya tentang keberadaan Kak Ela saat ini, Mas.." ucapnya. Aku menganggukan kepala percaya.


"Mungkin Mama mengira kalau Ela masih di rumah orang tuanya kalau tidak dikontrakan.." batinku.


Setelah itu aku kembali ke kamar. Berfikir tentang keberadaan Ela saat ini.


###


Beberapa hari setelah kejadian itu. Mama mengajakku ke tempat Mama mertuaku. Seketika aku membuku. Bingung akan berkata apa pada mertuaku jika ditanya mengenai Ela.


"Rafiq! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau lama sekali bersiap-siap?" tanya Mama yang tiba-tiba masuk kedalam kamarku.


"...ini Rafiq sudah siap Ma!" cenge-ngesku pada Mama yang memperhatikanku.


Kami lalu pergi menuju ke rumah mertuaku. Di perjalanan kami mampir telebih dahulu membeli buah dan kue.


Tidak selang berapa lama kami sampai di tanah kosong tempat biasa memarkir mobil.


Rasanya tidak sanggup untuk melangkah ke rumah mertuaku. Bisa-bisa aku menambah kekecewaan Mama. Jika mama tau Ela menghilang.


"Rafiq, apa yang kamu tunggu? Bawa ini!" mama memberikan sekantong berisi buah-buahan. Sedang Mama membawa kue yang tadi dibeli.


Sampai didepan rumah tampak gerbang pagar dan pintu rumah sudah terbuka lebar. Saat aku tepat didepan pintu, diatas meja sudah tertata minuman dan makanan.


"Assalamualaikum!" seru Mama didepan pintu.


"Walaikumsalam.." ucap seseorang dari dalam yaitu dari Mama mertuaku. "Ayo masuk!" pintanya yang menyambut Mama, aku dan Rifqi hangat. Mama dan Mama mertuaku cipika-cipiki satu sama lain.


"Ayo silahkan duduk!" serunya.


Mama menyenggol pelan lenganku agar segera memberikan bungkusan yang sejak tadi pegang.


"Mama, ini.." ucapku memberikan sekantong buah diatas meja. Mama kemudian memberikanku juga kue yang tadi di pegangnya. "Ini ada sedikit kue juga, Mama.." tambahku meletakkan juga kue diatas meja.


"Terimakasih.." ucapnya dengan tersenyum ramah. Beliau melihat kami secara bergantian.


Dimulailah obrolan para de Mama. Mereka ngobrol dengan asiknya. Aku dan Rifqi hanya sebagai pendengar setia mereka yang bercakap-cakap. Walaupun sesekali mereka mengajakku dan Rifqi mengobrol.


'Bremmm' Dari arah luar terdengar suara motor yang masuk kearea halaman rumah.


"Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga!" ucap Mama mertua pelan.


"Assalamualaikum.." ucap seseorang dari arah pintu. Suaranya sangat familiar ditelingaku.


Saat melihat sosok orang yang mengucapkan salam seketika aku kaget dan tercengang. "Ela.." gumamku dalam hati.


"Walaikumsalam.." ucap kami berbarengan. Begitu juga denganku yang mengucapkan salam dengan telat karna kaget melihatnya.


Entah mengapa, saat ini bukan rasa kesal atau benci melihatnya yang tiba-tiba menghilang dan sekarang muncul. Melainkan rasa tenang melihatnya ada dalam kondisi yang baik-baik saja.


Aku terus menatapnya sampai dia datang menyalamiku. Dia mengambil tanganku lembut lalu menciumnya. Dia lalu duduk tepat disampingku.


Aku diam begitu juga dengan Ela yang ada di sampingku.


"Kalian ini kenapa diam-diaman seperti itu?" kata Mama mertua menperhatikan kami. "Ela ajak suamimu dan Rifqi kedalam!" perintah Mama mertua.


"Iya Ma.." ucapnya melihat kearah Mama mertua kemudian dia melihat kearahku. "Ayo Mas, Rifqi kita kedalam.." ajaknya.


Saat aku dan Rifqi akan bangun. Entah mengapa Rifqi menghentikan gerakannya.


"Gak ikut?" tanyaku melihatnya yang masih duduk.


"..enggak Mas.." ucapnya.


Akupun mengikuti Ela masuk kedalam. Sampainya di kamar aku langsung mendudukan diriku diatas tempat tidur. Kuperhatikan Ela yang menaruh tasnya diatas meja. Dia lalu izin padaku untuk ke kamar mandi.


Usai dari kamar mandi wajahnya terlihat basah. Dia lalu membuka krudung yang menutupi rambutnya dan melepas gamis yang dikenakannya. Menyisakan kaos oren berlengan pendek dan celana hitam panjang. Lalu mengantung pakaiannya di belakang pintu.


Setelah 2 bulan tak bertemu. Rambutnya yang sejak awal panjang bertambah panjang melebihi pinggangnya. Aku juga merasakan perubahan pada tubuhnya.


Aku yang sedang memperhatikannya dari belakang. Langsung mengalihkan pandangan saat Ela menghampiriku yang sedang duduk diatas kasur. Dia tersenyum manis kearahku, lalu berdiri dengan lututnya diatas lantai.


"Mas, maaf.." ucapnya tiba-tiba. Ela menatapku dengan tatapan sendu. "Maaf karna aku pergi selama 2 bulan ini tanpa mengabari, Mas.." dia menundukan kepalanya ke bawah.


Bisa saja saat ini aku memarahinya. Tetapi saat ini aku sama sekali tidak merasakan amarah padanya, melainkan bersyukur mengetahuinya sudah pulang. Lagi pula aku juga bersalah karna membiarkannya lebaran sendiri.


"Sudahlah tidak apa-apa.." ucapku. Ela menaikkan kembali wajahnya memandang kearahku.


"Tapi...gua masih kesal sama lo karna gak memberitahu keberadaan lo.." ucapku. Tatapannya yang awal senang berubah sedih kembali.


"Maaf Mas, aku tidak bisa menghubungi Mas lantaran HPku terjatuh ke laut.."


"Laut?" kataku mengulang percakapannya.


"Saat sedang berfoto di atas kapal. Tanganku tak sengaja melepaskan HP dari genggamanku.." ucapnya lalu menggit bibir bawahnya.


"Memangnya selama ini lo pergi kemana?"


"...aku pergi ke kampung halaman Uni , mas. Sahabatku.." dia yang awalnya berdiri dengan lututnya, merubah posisinya dengan duduk bersimpuh.


Ela pun lalu menceritakan, perjalanannya ke rumah temannya yang ada di flores. Temannya yang bernama Uni mengajak Ela mengunjungi pulau kelahirannya di Flores tepatnya di daerah Riyung. Mereka kesana menaiki kapal laut selama 6 sampai 7 hari. Karna HPnya tenggelam di laut membuat Ela tidak bisa memberitahuku kabarnya.


###


Saat ini kami sekarang sudah duduk bersampingan diatas tempat tidur. Setelah Ela bercerita, kami kembali diam.


"Kenapa selama lo disana enggak ngehubungin gua pake HP temanlo?" tanyaku membuka kegeningan. Dia terlihat menggit kembali bibir bawahnya sambil memegangi ujung bajunya.


"Maaf Mas, aku tidak ingat nomor Mas. Yang aku ingat hanya nomor Mama.." Ucapnya gugup. Kutatap dia tajam, karna tak menyangka dia tidak mengingat nomorku. Walaupun sebenarnya aku juga tidak mengingat nomornya juga.


"Lalu, apa kamu memberitahu Mama?"


"I..iya, aku memberitahu Mama. Tetapi... aku memberitahunya setelah 2 minggu lebih disana.." ucapnya. Aku mengerutkan dahi mendengar ungkapannya.


"Bagaimana bisa kamu mengabari setelah 2 minggu lebih disana?" tanyaku tak percaya.


".......aku lupa Mas!" ucapnya menundukan kepalanya.


"Lupa?" tanyaku menatapnya tajam. "Tatap mataku!" perintahku padanya.


Pelan-pelan dia mendongakkan wajahnya kearahku. Tampak wajahnya yang sudah berlinang air mata. "Aku sungguh lupa!" serunya yang akan mengeluarkan tetesan air mata.


Aku terkaget melihatnya yang akan menangis. "...su..sudah jangan menangis.." ucapku. kuhapus matanya dengan tanganku lembut.


"Bahaya nih jika dia menangis. Bisa-bisa mama tambah kesal padaku.." gumamku dalam hati.


Aku dan Ela pun kembali terdiam. Dia menundukan kepalanya sedang aku bertopang pada kedua tanganku dibelakang dan Kepalaku kudongakkan menatap lurus keatas.


Dari sudut mataku kudapati Ela yang saat ini menengokkan kepala kearahku, dia menatapku lama. Aku pun menengok kesamping kearahnya.


"Ada apa?" tanyaku membalas tatapannya. Dia hanya pelan menggeleng kepala kemudian mengalihkan kepalanya kedepan kembali.


Aku menggedikkan bahuku lalu menegakkan posisi dudukku. Menatap lurus kedepan. Lagi-lagi wanita disampingku menatapku. Aku hanya menghembuskan nafas lalu menaruh kepalaku di pahanya.


Ela kaget atas tindakanku yang tiba-tiba tidur di pangkuannya. Dari pangkuannya aku dapat melihat sedikit wajahnya yang memerah. Membuatnya di pandanganku terlihat manis.


"Mas...aku mencintaimu.." ungkapnya sambil menatap mataku. Kubalas tatapan matanya.


Kami lagi-lagi terdiam. Kuletakkan tanganku di wajah bulatnya lalu berpindah ke kepala bagian belakang. Pelan-pelan kudekatkan wajahku ke wajahnya. Saat akan mencium bibir merahnya tiba-tiba...


'Cklek' suara pintu terbuka.


"Rafiq, Ela. Waktunya makan siang.." panggil Mama yang tiba-tiba membuka pintu.


Aku yang saat itu akan mencium Ela. Dikagetkan Mama yang tiba-tiba membuka pintu. Segera aku mengalihkan kepalaku kearah pintu tempat Mama diam berdiri.


"...Maaf kan Mama ya.." ucap Mama lalu menutup pintu kembali.


Kutegakkan dudukku. Kutundukan kepalaku, mengingat kejadian barusan yang tanpa sadar aku ingin mencium Ela. Tapi dalam hati terdalam, aku sedikit kesal karna tak jadi menciumnya padahal hanya tinggal beberapa senti lagi.


(Maaf ya para reader yang mengharapkan Ela yang ingin mengatakan cerai pada Rafiq.


Setidaknya berilah satu kesempatan lagi untuk Rafiq agar tulus mencintai Ela. oookkeeee...)


Untuk selanjutnya up nya lama ya.... Hahahaha.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.