UHIBBUKI

UHIBBUKI
Ikhlass



Happy reading!!!


Mesjid di mall ini sangat dingin dan mukenanya harum. Membuatku betah didalamnya. Hehe.


"Kita turunnya naik eskalator aja ya! Malu sama mas yang mencetin lift," kata Uni sambil memakaikan kembali kos kakinya.


"Iya ketawan bangat ini pertama kalinya kita kesini," balas Lifi.


"Hahaha gak papa kali. Kali aja masnya udah gak disana. Pasti udah turun lah," kataku sedang mereka mengerutkan dahi melihatku.


"Emang kamu kira mas yang pencetin tombol tadi, pengunjung!" seru Uni yang kuanggugi lalu kubalas senyuman. "Elaaaa makanya peka sama seragamnya. Dia itu kerja di mall ini," Uni dan Lifi terlihat menepok jidat melihat tingkahku.


"Aduhh marwah (malu) aku ngajakin Ela jalan-jalan," tambahnya.


"Udah ahh ayo pulang laper perut belum makan dari siang," kata Lifi yang sudah berdiri menggunakan sepatunya. Lalu aku dan Uni mengikutinya keluar dari mesjid.


Cacing di perutku sudah berdisko ria karna ciuman masakan dari restoran yang ku lewati. Aku selalu melangkahkan kakiku cepat setiap melewati restoran sampai ketika melewati restoran menjual makanan jepang. Kaki tiba-tiba merekat pada lantai yang saat ini kuinjak. Tatapanku lurus kedepan melihat sosok Sejoli yang berada dalam restoran. Tanganku mengepal seketika, sedangkan gigiku menaut satu sama lain.


Sejoli itu sungguh membuatku geram. Dengan entengnya sang gadis mencium pipi lawan jenisnya. Benar-benar anak zaman sekarang mengumbar kemesraan didepan umum tanpa ada sedikitpun rasa malu.


Dengan kesal kulangkahkan kaki ini kedalam restoran yang disambut pelayan dengan senyuman bisnis yang tentu kubalas dengan senyuman tipis di wajahku. Kuhampiri mejanya yang berada di dekat jendela barisan ke empat.


Saat ini sang laki-laki sedang mengelus wajah sang gadis dengan lembut layaknya di film-film.


Kutarik tangan laki-laki itu dari wajah sang gadis membuat mereka menoleh kearahku dengan tatapan santai bagaikan tidak melakukan kesalahan apapun.


Dengan kasa laki-laki itu menarik kembali tangannya yang kupegang.


"Rafiq bisa kita bicara?" tanya dengan menahan kekesalan.


"Kalau mau bicara disini aja! Lo gak liat gua lagi makan," jawabnya masih tetap santai bagai di pantai.


Terlihat pengunjung lain mulai memperhatikan aku yang saat ini berdiri di samping meja Rafiq yang hanya untuk dua orang. Andaikan saat ini Rafiq duduk di meja dengan kursi lebih dari dua aku akan menurutinya dan duduk disampingnya. Tapi sayangnya sevaliknya membuatku berdiri dan menjadi perhatian pengunjung dan juga pelayan.


"Rafiq kumohon!" pintaku dengan suara lembut dan rendah.


Rafiq terlihat berfikir kemudian meminum minumannya lalu berdiri berjalan kearah pintu keluar yang kuikuti.


Saat jarak antara kami dan restauran lumayan jauh Rafiq menghentikan langkahnya lalu membalikkan badanya. Dia menatapku tajam layaknya binatang buas ingin menerkamku.


Rasa bersalah menggerogoti hatiku saat ini. Rasa bersalah bukan karna menjauhkannya dengan gadis itu ataupun karna aku menampakkan wajahku di hadapannya tetapi karna mengganggu Rafiq yang sedang makan. Seharusnya sebagai istri aku lebih bersabar menunggunya makan bukannya egois.


"Rafiq.. Maaf ya ganggu saat kamu makan," kataku gugup dan sedikit takut karna tatapannya.


"Langsung aja ke intinya! Lo mau ngomong apa!" katanya dengan dingin dan ketus.


Ekpresi wajahku saat ini seperti hatiku yang sakit dan perih. Walaupun jarak dan waktu memisahkanku dengannya. Mengapa hatinya masih tetap beku layaknya eskutub utara.


Kugigit bibir bawahku lalu berkata,"Eee.. gadis tadi siapa?"


Kulihat Rafiq mulai melipat kedua tangannya didepan dada lalu berkata dengan penekanan di setiap kata yang keluar dari bibir munginya yang merah, "Dia pacar gua!"


Tanganku mengepal mendengar perkataannya. Tapi bibir ini masih setia melengkungkan senyum manis di wajahku.


"Aku kan istri kamu Rafiq. Kenapa kamu pacarannya dengannya? Kalau mau pacaran! Aku bisa jadi pacar halalmu,"


Rafiq terlihat menyengir mendengar perkataan.


"Iya.. lo istri gua," "Lebih tepatnya ISTRI YANG ENGGAK PERNAH GUA AKUI," lanjutnya dengan nada dingin menusuk ke qolbuku yang terdalam. "Sedangkan Elisa gua akui walaupun statusnya pacar gua," tambahnya lalu melangkahkan kakinya melewatiku begitu saja.


Dengan sigap aku memutar tubuhku lalu memegang ujung kaos hitam berlengan pendeknya yang menampilkan sedikit ototnya yang mulai kebentuk.


Rafiq menepis tanganku dari ujung bajunya. Tapi dia tidak melanjutkan langkah tegak majunya tetapi dia diam di tempat bagaikan pemandu upacara yang menunggu aba-aba.


"Aku takut Rafid! Aku takut kalau kamu bersama dengan gadis itu.." kataku terputus dengan bibir bergetar. "Rasa takutku bukan karna kamu akan direbut olehnya tapi karna hubungan kalian yang tanpan ikatan suci. Aku takut azab yang ditimpakan pada orang yang berbuat zina tanpa hubungan suami istri.." mataku mulai mendung dan siap menurukan butiran air yang akan jatuh kapan saja. "Jika.. jika kamu serius dengannya nikahilah dia. Dengan senang aku akan menyetujuinya," isakan mulai terdengar dari suaraku. Sebisa bukin kubuat isakanku sekecil mungkin supaya orang-orang yang lalu lalang di mall tidak terlalu memperhatikan kami saat ini, walaupun ada beberapa yang mulai melihat kami.


"Ja.. Jaga kesehatan ya.. Jalankan sholat lima waktu di mesjid.. dan.. ingatlah pencipta kita.. di saat kamu sedih maupun senang. Terima kasih assalamualaikum," kataku kemudian menghapus air mata yang jatuh di pipi dan mengambang di pelupuk mataku lalu pergi meninggalkannya.


Kulangkahkan kembali kakiku ke arah musholla yang masih tetap sepi dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian menjalankan sholat sunnah dua rokaat.


Setelah tenang dan tangisan berhenti kuraih HP ku yang sedari tadi ku silent.


Tampak banyak pesan dan telpon dari kedua sahabatku. Kugigit bibirku karna berasalah melupakan mereka.


Uni : Ela kamu dimana?


Aku udah laper nih!


Di tunggu di lantai dasar ya!


Ela!


Elaaaaaaa!


Balas ngapa la!


Elaaaaaaaa kemana sih?


Dari Lifi : Ela cepat ya!


Ela Uni udah bete noh mukanya


karena kelaparan nungguin kamu.


Bentar lagi makan orang noh!


Kalau kamu gak nongol-nongol


malah kamu yang di makan nanti.


Ayo dong Ela cepat datang!


Kita udah kayak anak ilang


nungguin kamu!


Dan beberapa pesan lainnya dengan emoji muka yang membuat ukiran senyum dibibirku.


Dengan cepat aku menelpon kembali Lifi yang terkenal sabar. Telpon diangkat setelah dua nada dering terdengar yang biasanya dia angkat setelah di telpon sebanyak 5 kali.


"..."


"Walaikumsalam. Aku di musholla,"


"..."


"Aku kesana tunggu ya! Maaf udah buat kalian nunggu lama," kataku menyesal.


Lalu kumatikan telepin lalu menghampiri mereka yang menunggu di sebrang mall. Lebih tepatnya menunggu di tempat pecel ayam yang ada di sebrang mall.


Sebenarnya aku takut mereka menyadari kalau aku habis menangis karna terlihat dari mataku yang sedikit merah. Tapi aku tepis rasa takut itu. Mereka gak akan peka malam-malam, fikirku.


Sampainya di tempat pecel ayam. Aku duduk disamping Lifi yang menyambutku dengan senyuman sedang Uni cemberut sambil memainkan HP nya.


Tanpa disuruh layaknya anak kecil jika berbuat kesalahan maupun tidak berbuat kesalahan harus meminta maaf atau memaafkan. Aku mengajak Uni bicara, "Uni! Maaf ya! Tadi ngeliat anak remaja yang ganteng tadi! Jadinya ngeliatin mulu jadi kebablasan lupa hidupin HP. Habis itu aku balik ke mushollah ambil air wudhu terus sholat sunnah dua rokaat," aku berikan wajah memelas didepannya.


Uni terlihat tambah kesal dan mengerutkan dahi. "Kamu kan udah nikah. Kenapa masih merhatiin Laki-laki lainnya yang terlihat masih anak-anak. Dosa Elaa!"


"Maaf Uni lagian wajahnya mirip sama suamiku! Jadi kangen deh," kataku menekan rasa sakit di dadaku ketika mengingat kembali wajahnya yang dingin saat menatapku.


"Udahlah Uni! Yang pentingkan Ela udah datang. Maafin dong kan dengan sesama harus saling memaafkan!" bujuk Lifi.


Akhirnya hati Uni luluh.


"Untung aja kamu datang. Kalau enggak Uni bakal makan kamu," canda Lifi.


"Iya iya untung aku datang," kataku nyengir.


"Aku mah gak nafsu sama daging Ela soalnya berlemak," canda Uni mencubit perutku yang ada lipatannya.


"Ehhh tunggu!!" Uni mencubit kembali perutku.


"Sakit Uni!" kataku pelan melepaskan cubitannya.


"Lipatan perutmu mana kok gak sebanyak dulu?" tanyanya.


"Uni kamu masa gak sadar sih. Kalau Ela udah kurusan!" kata Lifi menunjukan tubuhku.


"Tapi mukanya masih bulat!"


"Mukaku dari dulu juga bulat Uniii!!! Ya kali gara-gara kurus mukaku jadi lonjong," jawabku gereget.


"Ba! Ini makannya selamat menikmati! Jangan lupa doa ya sebelum makan!" kata bapak penjual ramah.


"Siap!" jawab kami berbarengan.


Keperhatihan mereka yang makan dengan sangat lahab.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Terimakasih.