UHIBBUKI

UHIBBUKI
Thirty Seven



Happy Reading!!!


Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu. Tentu karna perjalanan yang jauh di tambah kemacetan.


Akhirnya kami sampai di Vila tengah malam. Udara dinginnya sangat menusuk kulit. Tetapi udaranya terasa sejuk, membuat udara yang masuk kesalam paru-paru terasa lebih ringan.


"Ayo masuk!" ajak Davin. Dia membawa tasnya dan beberapa tas teman wanitanya. Sedangkan wanita hanya membawa barang ringan.


Didalam Vila sudah ada Bu Dewi menyambut kami dan suaminya Pak Hanafi. Mereka bertugas menjaga dan membersihkan rumah.


Vila hanya memiliki empat kamar. Oleh karna itu kami membaginya menjadi satu kamar 2 orang. Aku sekamar dengan Rifqi, Davin dengan Reza, Devi dengan Nayla dan Via dengan Hajar.


Sampai di kamar aku langsung merebahkan diri di kasur, karna lelah menyupir.


Kulirik Rifqi memasuki kamar sambil membawa kopernya dan koperku.


"Makasih ya! Udah di bawain!" seruku sambil memejamkan mata.


"Iye.." balasnya.


Sebelum alam mimpi menyambutku aku segera bangun untuk mengganti pakaian setelah itu baru beristirahat.


@@@


Kurasakan goyangan-goyangan di area pundakku. Dengan kesal ku hempaskan tangan itu lalu kembali menenggelamkan kepalaku di guling yang kupeluk.


"Hanif, Hanif bangun! Hanif! Udah waktunya sholat subuh!" samar-samar aku mendengar suara wanita yang kukenal. Kubuka sedikit mataku yang berat. Mendapati sosok Eli yang sedang duduk di pinggir ranjang.


Dengan senyum sumringah aku memandang wajah cantiknya.


"Ihh..cepat bangun! Dikit lagi waktu subuh habis lo!" perintahnya menarik tanganku agar bangun.


Dengan malas aku bangun lalu melirik sosok Rifqi yang sedang tertidur lelap.


"Kok lo gak bangunin dia!" iriku pada sosok Rifqi yang tertidur.


"Dia mah udah sholat. Dari tadi dia bangunin lo. Tapi susah bangat. Jadi dia minta tolong gua.." jelasnya yang aku angguki dengan wajah ngantukku.


Aku segera kemar mandi mengambil air wudhu setelah itu menjalankan sholat subuh 2 rakaat.


Usai sholat subuh aku menuju kedapur. Mengambil air minum, karna kerongkonganku sangat kering.


Saat minum aku mendapati sosok Eli yang juga sedang mengambil segelas air minum juga. Dia lalu duduk disampingku.


"Masih mau lanjut tidurnya?" tanyanya melihat sekilas kearahku.


"Kayaknya enggak. Gua udah enggak ngantuk lagi!" balasku. Aku kembali menegak air didalam gelas yang kupegang.


"Hem...gimana kalau kita jalan-jalan!" usulnya. Dia melihat kearahku dengan kedua alisnya mengangkat. Kubalas tatapan matanya dengan senyum canggung.


"Boleh.."


Eli lalu kembali ke kamarnya untuk mengganti baju tidurnya. Begitu juga denganku.


Setelah mengganti pakaian aku terlebih dahulu keluar rumah. Angin pagi yang menyejukkan menerpa wajahku.


"Hahhh...sangat menyegarkan.." gumamku pelan menghirup udara segar.


"Iya segar!" timpal seseorang dari belakangku. Yang tak lain Eli yang sudah mengenakan pakaian olahraga muslimnya.


Kami bersama-sama berjalan menyusuri jalan setapak di area puncak dekat dengan vila keluarganya Davin. Tidak ada percakapan sama sekali diantara kami saat berjalan.


Aku diam memeperhatikannya yang jalan didepan maupun disampingku.


Kutatap punggung tubuhnya yang saat ini sudah berbalik melihat kearahku.


"Hanif, kita istirahat dulu yuk!" serunya sambil menunjuk sawung. Aku mengangukan kepala lalu mengikutinya kearah tempat itu.


Kulihat dia bersenandung sambil sesekali menggoyangkan kepalanya dan kakinya secara berhantian ataupun bersamaan.


"Lo gak bosan apa liatin muka gua mulu?" katanya menatap lurus kedepan.


Aku tersenyum kemudian mengikutinya melihat kedepan. Kuhembuskan nafas pelan lalu memejamkan mata sekejap.


"Mana mungkin gua bosan liatin cewe yang gua suka.."


Kulirik Eli yang sedang tersenyum tipis sambil menundukan kepalanya.


"Bagaimana kabar istri lo sekarang?" tanya tiba-tiba. Aku membelalakkan mataku lalu menatap kearahnya yang saat ini melihat kearahku.


Flashback on


Hari ini adalah hari terakhir aku bersama dengan wanita yang kucintai, karna besok dia akan berangkat ke Brunaidarusaalm.


Wajahnya yang lonjok, rambutnya yang sebahu dan badannya yang mungil sungguh membuatku terpesona.


Dia tidak bisa di bandingkan dengan siapapun. Jika di bandingkan dengan wanita gendut itu nilainya 100 sedang wanita gendut itu 0.


Saat mengalihkan pandang di dalam lift, tanpa sadar mataku menangkap sosok wanita yang sangat kukenal yaitu Ela. Dia terlihat sedang tertawa bersama kedua temannya.


Rasanya emosiku mendidih melihatnya bisa tersenyum dengan gampangnya, sedang aku tersiksa atas pernikahan ini.


Setelah merasa dia tidak melihat aku segera melonggarkan dekapanku.


"Hei kalian pesan dulu tiketnya ya. Gua mau pacaran dulu sama.." kataku melirik kearah Eli. Temanku menatapku dengan muka yang terlihat jengkel.


"Iya-iya gih pacaran. Abisin waktu berdua-duan. Sebelum Eli ninggalin lo," sahutnya yang aku senyumin.


Sampailah kami ke rostoran makanan jepang. Eli menarikku kedalam restoran itu.


Pelayan menyambut kami dengan sopan lalu mengantar kami ke bangku khusus pasangan yang kosong.


Kemudian pelayan menulis pesanan kami, sushi, ramen, soba dan 2 gelas jus alpukat. Setelah menunggu akhirnya pesanan datang.


Saat aku menyeruput ramen dengan lahab. Tanpa aba-aba Eli yang duduk didepanku langsung mencium pipiku membuatku terbatuk.


"Khuk khuk..." Eli segera memberikan air putih dari dalam tasnya.


"Maaf ya jadi batuk!" katanya merasa bersalah.


Kujulurkan tanganku lalu mengelus pipinya lembut. "Gak papa kok!"


Tanpa diundang-udang dari belakang ada seorang prempuan menarik tanganku yang menyentuh pipi wanita pujaanku.


Kutatap wajahnya yang terlihat marah dengan santai. Kulirik Eli yang menatap tangannya yang memegang tanganku, dengan kasar kutarik tanganku dari pegangannya.


Wanita itu terlihat menatap tangannya sejenak lalu kembali menatapku. "Rafiq bisa kita bicara?" tanyanya dengan menahan kekesalan.


Kutatap mukanya malas lalu melihat kearah makanan yang kumakan. "Kalau mau bicara disini aja! Lo gak liat gua lagi makan," jawabku santai.


Terlihat pengunjung lain mulai memperhatikan wanita itu yang saat ini berdiri di samping mejaku yang hanya untuk dua pengunjung.


Kulirik ia kembali dengan malas. Kulihat muka memelasnya. "Rafiq kumohon!"


Aku terdiam sejenak, lalu kulihat wajah Eli yang terlihat bingung meperhatikan kami. Segera kutegak minumanku lalu keluar restoran.


Saat jarak restauran lumayan jauh kuhentikan langkahku lalu membalikkan badan menatapnya. Kutatap matanya tajam layaknya binatang buas ingin menerkamnya.


Kulihat wajahnya yang terlihat gugup menatap wajahku yang sudah kuset sedingin mungkin.


"Rafiq.. Maaf ya ganggu saat kamu makan.."


"Langsung aja ke intinya! Lo mau ngomong apa!" kataku ketus.


Kulihat dia mulai menggigit bibir bawahnya. "Eee.. gadis tadi siapa?" tanyanya menatapku takut-takut.


Kulipat kedua tanganku didepan dada lalu berkata dengan penekanan di setiap kata yang kuucapkan, "Dia pacar gua!"


Kulihat wajahnya yang kaget, tetapi dia tetap menyunggingkan senyum yang terlihat getir.


"A...aku kan istri kamu Rafiq...kenapa kamu pacarannya dengannya? Kalau mau pacaran! Aku bisa jadi pacar halalmu.." balasnya menatap sendu mataku


Aku menyengir mendengar perkataannya yang membuatku geli.


"Iya.. lo istri gua," "Lebih tepatnya ISTRI YANG ENGGAK PERNAH GUA AKUI," kataku dengan dingin. "Sedangkan Elisa gua akui walaupun statusnya pacar gua," tambahku lalu melangkahkan kakinya melewatinya.


Saat hendak melewatinya. Aku tertahan olehnya yang saat ini memegang ujung lenganku.


Langsung ku tepis tangannya. Lalu kutatap dia dengan tatapan menusuk.


Kulihat bibirnya yang sudah bergetar. "Aku takut Rafiq! Aku takut kalau kamu bersama dengan gadis itu..." katanya terputus. "..Rasa takutku bukan karna kamu akan direbut olehnya, tapi...karna hubungan kalian yang tanpan ikatan suci. Aku takut...azab yang ditimpakan pada orang yang berbuat zina tanpa hubungan suami istri.." kulihat matanya mulai mendung dan siap menurukan butiran air yang akan jatuh kapan saja. "Jika.. jika kamu serius dengannya nikahilah dia. Dengan senang aku akan menyetujuinya," isakannya mulai terdengar ketelingaku. Tetapi sedikitpun aku tidak merasa terharu atau sedih hanya karna melihatnya menangis. Itu biasa saja menurutku.


"Ja.. Jaga kesehatan ya.. Jalankan sholat lima waktu di mesjid.. dan.. ingatlah pencipta kita.. di saat kamu sedih maupun senang. Terima kasih assalamualaikum," katanya kemudian menghapus air mata yang jatuh di pipi dan mengambang di pelupuk matanya lalu pergi.


Setelah dia pergi aku segera kembali ke resto jepang. Kuedarkan pandangan mencari sosok Eli yang tidak ada. Saat melihatnya sosoknya rasa dadaku yang awalnya sesak kembali lega.


"Dari mana?" tanyaku melihat wajahnya yang terlihat lesu.


"Aku dari kamar mandi!" jawabnya lalu duduk kembali kebangkunya.


Kuperhatikan raut wajahnya yang sedikit berbeda. Tidak biasanya dia menjawab perkataanku tanpa melihat kearaku.


Selanjutnya hanya keheningan. Dia hanya diam sambil menyantap makanannya.


Dia juga tidak menanyakan perihal Ela. Begitu juga aku yang tidak menceritakannya.


Flashback off


(jangan lupa VOTE, BERI UCAPAN dan LIKE ya)


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih