
Happy Reading!!!
"Bagaimana kabar istri lo sekarang?" tanyanya tiba-tiba. Aku terdiam, menatap wajahnya dengan mata yang melebar kearahnya. Saat ini dia melihat kearahku dengan senyum tipis.
Hening!!!
Saat ini aku berfikir, Bagaimana dia bisa tau perihal itu?
Eli menundukan kepalanya kembali. Dia juga mulai menggoyangkan ringan kakinya secara berirama.
"...Istri? Lo asal nebak?" kataku membuka keheningan. Dengan muka kaget menatap wajah sampingnya.
Eli kembali tersenyum yang tampak hampa. Dia melihat kearah depan dengan menerawang.
"Gua gak asal nebak! Hari terakhir kita ketemu. Gua ngikutin lo, pas keluar dari resto sama wanita itu yang ternyata istri lo.." fikiranku berkelana untuk mengingat kembali hari itu. Seketika aku mengeratkan gigi atas dan bawahku. Aku gak nyangka jika dia mengikutiku.
"...Apa lo dengar semua perkataan yang gua katakan maupun wanita itu katakan?" tanyaku dengan sesak.
"...Gua gak dengar sama sekali apa yang kalian katakan, tapi..." aku terkekeh mendengar pernyataannya.
"Terus...dari mana lo tau kalau dia istri gua? Lo aja gak denger pembicaraan gua sama wanita itu.." potongku. Aku menyeringai mendengar pernyataannya.
Eli kembali diam. Dia menundukan kepalanya kembali. Jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk bale secara berulang kali dan dia terlihat menggigit pelan bibir bawahnya.
"Gua...gua tau dari tante Ika!" jawabnya. Dia kembali menggigit bibir bawahnya. Seketika nafasku seperti berhenti di tenggorokan.
"Sehari sebelum berangkat..., Gua ke rumah tante Ika buat ketemu sama lo, tapi sayangnya lo gak ada..." lanjutnya dengan wajah yang mulai terangkat melihat kearahku. Terlihat wajah sendunya. "Terus tante Ika bilang, kalau lo...lo lagi di rumah istri lo.."
Rahangku mengeras. Gigiku saling mengatup satu sama lain. Kubelalakan kembali mataku karna kaget akan pernyataannya.
"Hari itu, hati gua sakit Nif! Sakit hati gua denger kalo lo udah nikah. Padahal gua cinta bangat sama lo.." Kuperhatikan wajah tegarnya yang terlihat sedih.
Kujulurkan tangan untuk mengelus pipi putih mulusnya. Tetapi dia menjauh, dengan tatapan tidak sukanya.
"Stop nif! Gua gak bisa ngelanjutin hubungan ini!"
Kutarik kembali tanganku. Kukepalkan kedua tanganku dengan erat. Kutatap iris mata coklat gelapnya tajam.
"Maaf! Gua tau! Gua salah. Tapi..." seketika bibirku merapat. Hampir saja aku mengatakan alasaku menikahi Ela. Bisa-bisa masalahku semakin bertambah. "...tapi gua cuman cinta sama lo? Kita udah pacaran 2 tahun. Masa hanya karna wanita itu kita putus. Lagi pula hubungan gua sama dia enggak bakal bertahan lama.." jelasku. Aku kembali mendekatinya, tetapi dia masih tetap mundur untuk memberi jarak antara aku maupun dia.
Kembali hening. Dia diam menundukan kepalanya kembali.
Kudekati dia kembali. Hingga dia tak bisa kemana-mana karna sudah tersudut oleh dinding balu membuat jarak antara punggungku maupun dia hanya berjarak 5 senti. "Elisa, gua cinta sama lo. Lo satu-satunya wanita yang gua suka.." kusentuh tangannya lembut, menyalurkan semua perasaanku padanya.
Dia menaikan sedikit kepalanya, dengan tangan yang masih menerima sentuhanku. "Apa alasan lo nikahin Istri lo, maksud gua kak Ela?" tanyanya kembali. Aku terdiam mendengar pertanyaan yang lebih susah dari soal USBN. Bisa saja aku mengatakannya, tapi? Itu tidak mungkin. Aku tidak begitu ingin banyak yang tau perihal alasan bodohku menikahinya.
Kusentuh kedua tangannya dengan lembut. "Eli gua minta maaf. Gua benar-benar cinta sama lo! Tapi benar gua nikah sama wanita itu bukan karna cinta. Gua cuman cinta sama lo. Tapi sekarang, gua belum bisa kasih tau alasan gua nikah dengan wanita itu. Tapi janji suatu..." kataku. Seketika tercekat melihat wajahnya. Butiran air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
"Gua bisa liat dari mata lo. Kalau lo cinta sama gua. Tapi..." Eli terdiam. Dia sesekali sesenggukan karna tangisnya.
Ingin rasanya aku memeluk tubuh mungil didepanku. Seperti yang aku lakukan saat SMA. Tapi itu tak mungkin. Apalagi setelah melihat perubahannya dalam berpakaian serta caranya menghindar tadi.
"...gua tetap gak bisa ngelanjutin hubungan ini.." Lanjutnya yang membuat genggaman di tanganku sedikit menguat.
"Kenapa?"
"...karna...setiap kali gua memikirkan lo atau apapun yang berhubungan dengan lo. Wajah cantik nan senduh wanita itu yang kulihat 5 bulan yang lalu selalu terbayang di pikiranku... Dia terlihat menangis dan memohon.." Eli terisak mengatakannya. Sedang aku diam melihatnya.
"Gua juga wanita Nif! ...Gua paham perasaanya!" kutatap wajahnya yang saat ini mengekspresikan perasaannya yang telah lama terpendam.
Selama 3 tahun pertemanan dan menjalin hubungan, ini pertama kalinya aku melihatnya menangis. Setauku Eli merupakan anak yang kuat. Dia tidak mudah nangis. Menonton film sedih saja teman wanitanya nangis sedang dia hanya bermuka datar. Tetapi sekarang berbeda.
"Jadi gua mohon! Kasih kesempatan kak Ela buat masuk ke hati lo!" kubelalakkan mata mendengar perkataannya.
"Mana mungkin gua..."
"Gua mohon! Karna itu merupakan keputusan lo saat menikahi ka Ela!" pintanya dengan memelas. Apalah daya aku hanya terdiam melihat wajah memelasnya dengan tangisan.
"Gua gak bisa ngebayangin, gua di posisi istri lo! Yang dimana suaminya menjalin hubungan dengan orang lain!" aku terdiam mendengar penjelasannya.
Jika memang benar Eli yang sekarang di posisi Ela. Sedang laki-laki yang menikahi Eli penyebabnya karna itu, gua pasti bakal marah besar. Tetapi posisinya sekarang gua laki-laki itu sedang wanita itu Ela. Sedikitpun gua gak ngerasa iba pada wanita itu.
"Gua akan coba! Tapi gua gak janji!" jawabku menenangkan hatinya.
Setelah itu kami kembali diam. Setelah isakan tangisnya mereda. Aku kembali mengajaknya ke Vila. Disana sahabatku untung saja masih tertidur. Jika tidak mereka pasti akan bertanya-tanya perihal mata Eli yang bengkah dan merah.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih.
.