
Happy reading!!!
Selama tiga hari Rafiq menginap dirumah orang tuaku yang sekarang tentu sudah menjadi orang tuanya.
Kami sama-sama menepati janji kami masing-masing tidak ada yang tau persyaratan atau perjanjian yang kami buat karena kami sangat pintar berakting terutama Rafiq.
Didepan orang tuaku dia bersikap baik, lembut, romantis dan kadang-kadang manja. Tetapi jika hanya didepanku wujud aslinya keluar. Kalau lagi mood dia manggil kakak dan gak minta macam-macam tapi kalau lagi unmood dia manggil lo. Itu masih mending lebih parahnya dia Pernah minta di masakin ayam kecap tentu sebagai istri yang penurut ya aku masakin. Pas masakan telah jadi dia malah bilang, "Mama lihat Ela gak mau masakin apa yang di pengen Rafiq. Padahal Rafiq pengen makan ayam rica-rica tapi Ela masakinnya ayam kecap," serunya dengan nada anak kecil membuat kupingku yang mendengarnya panas. Mamaku tentu saja mengomeliku dan menasehatiku lalu Rafiq tertawa seperti setan (maaf ya allah aku ngatain suamiku) di belakang mamaku. Akupun memasak kembali apa yang di inginkan suami TERCINTAKU.
Tiga hari ini juga aku dan Rafiq sama sekali tidak melakukan hubungan apapun. Sebenarnya dia ngajakin tentu aku terima dengan senang hati. Tapi setiap aku mengingatkan sholat sunnah dua rokaat terlebih dahulu dia tidak mau. Alhasil sampai sekarang kita sama sekali belum malam pertama.
Tapi sampai sekarang aku masih belum tau kenapa dia milih aku sebagai istrinya. Kenapa gak cewek atau prempuan lain di luar sana yang lebih muda dari aku, lebih cantik dan tentu seksi.
Kenapa memilih prempuan sepertiku yang berpakaian Jilbab (gamis) yang longgar dan kerudung yang sampai paha. Kalau di lihat juga tidak ada menarik-menariknya.
"Kak beres-beres pakaian kakak! Nanti sore kita ke rumah kontrakan," serunya saat aku sedang membereskan tempat tidur.
"Nanti sore? Tapi besok aku mau masuk kuliah. Soalnya hari ini udah ijin gak masuk,"
"Yaudah kalo gitu. Gua aja yang pulang. Soalnya udah 2 hari gua gak masuk kuliah,"
"Emang kamu kuliah dimana Rafiq?" tanyaku penasaran. Selama ini aku gak tau apapun tentangnya jadi gak masalahkan aku nanya.
"Gua kuliah di bandung," jawabnya kemudian dia merebahkan tubuhnya di kasur yang baru saja kurapikan.
"Terus buat apa ngajakin aku ngontrak kalau kamunya gak ada?" tanyaku kembali menatapnya yang lagi melihat layar HP nya.
"Buat tidur lah" jawabnya ketus dan matanya masih setia di layar HPnya.
"Aku tau Rafiq buat tidur. Ya masa buat mejeng di kontrakan," seruku menatap tajam laki-laki itu.
Rafiq lalu mengarahkan badannya kearahku menopang sebagian tubuhnya dengan tangan kanan yang berada di kepalanya.
"Kalau kakak tinggal disini dan aku tidak pulang-pulang bapak kakak nanti nanya aku kemana? Gimana?" katanya dengan nada santai.
"Tinggal jawab kamu kuliah di bandung kan," jawabku santai.
"Tapi aku kemarin bilangnya ke Bapak kakak kuliah di jakarta. Masa sekarang tiba-tiba berubah kuliah di bandung. Kayak aku anak orang kayak aja tempat kuliah berubah-ubah," aku mengerutkan dahi mendengar perkataannya. Jadi intinya dia bohong soal tempat kuliahnya. Wahh berani bener nih anak.
"Kalau ngontrak nanti yang bayar siapa? Kita kan belum ada yang kerja?"
"Kalau soal bayar kontrakan sama kehidupan Ibu nanti yang kirim uangnya. Aku juga bantu-bantu kerja di Bandung. Kalau bisa kakak kerja juga. Kan kakak kuliah cuman tiga kali dalam seminggu,"
Kalau minta di kirimin mulu sama Ibu pasti gak enak apalagi kuliahku untuk semester depan Ibu yang bayar juga. Benar kata Rafiq aku juga harus kerja. Gaji-gaji sejuta aja lumayan buat bantu kebutuhan sehari-hari.
"Kamu udah nemu kontrakannya?" tanyaku kembali pada Rafiq yang saat ini sedang melihat kuku jari kakinya yang terlihat panjang.
"Kontrakan mah udah ketemu sejak 3 hari yang lalu. Tempatnya gak jauh dari tempat kuliah kakak. Sekitar 1 jam naik busway, kalau gak maacet," jawabnya santai.
Mataku melebar sedangkan mulutku sedikit nganga. "Katanya gak jauh! Itumah jauh! Satu jam kalau gak macet tapi ini Jakarta yang pasti macet bisa-bisa 2 sampai dua setengah jam kalau macet. Benar-benar dah ni bocah," dumelku dalam hati kemudian aku langsung beristigfar karena mengatainya.
"Terus kapan kamu rencananya balik ke Bandung?"
"Rencananya sih besok, tapi karena kakak gak bisa pulang hari ini aku ke bandungnya di undur jadi hari jumat," Rafiq melihat ke arah HP nya kembali.
Seperti yang sudah di bicarakan tadi Rafiq akan nginap di rumah orang tuanya dua hari ini. Baru hari kamisnya datang jemput aku buat ke rumah kontrakan. Sebenarnya aku juga pengen ikut ke rumah Ibu yang ada di daerah kota tapi rumahnya jauh dari rumahku. Katanya Rafiq sekitar 2 jamanlah dari rumahku ke rumah orang tuanya.
Aku merapikan pakaian Rafiq yang baru selesai di setrika kedalam tas ransel besar yang dia bawah pas hari pernikahan.
Aku menyiapkan pakaian yang akan dia gunakan saat pulang nanti seperti celana jinsnya yang panjang, kaos putih tanpa lengan untuk dalamannya, dan kemeja merah lengan pendek yang bermotif garis-garis.
Aku melihat Rafiq membuka pintu kamarku. Dia masuk dengan rambut yang masih basah, dengan kaos setengah lengan dan celana pendeknya yang tadi pagi dia pake.
Di rumah dibiasakan keluar kamar mandi dengan berpakaian. Karenakan ada batasan-batasan tertentu yang hanya boleh dilihat oleh saudara laki-laki kita ataupun sesama prempuan.
Batasan yang hanya boleh di lihat yaitu bagian yang biasanya di gunakan perhiasan. Contohnya sampai leher, ketiak, dan lutut. Lebih dari itu jangan!! Takutnya bisa membuat ketertarikan.
"Ini Rafiq bajunya!" kuserahkan baju yang telah kusiapkan ke arah Rafiq yang saat ini sedang duduk di pinggir ranjang sambil mengeringkan rambut dengan handuk yang dibawanya.
"Terima kasih!" serunya lalu mengambil baju yang kuserahkan dengan kedua tanggannya sedangkan handuknya masih tetap menempel dikepalanya.
Dengan reflek aku mengambil alih mengeringkan rambutnya dengan cara menggosokkan handuk kekepalanya.
"Biar aku saja yang keringkan!" sebenarnya aku gugup saat mengeringkan rambutnya tapi aku membuat wajah dan sikapku setenang mungkin supaya Rafiq tidak menyadarinya.
Kucium wangi sampo yang semerbak dari rambut Rafiq yang hitam kecoklat-coklatan. Wangi yang tidak pernah kucium sebelumnya.
Setelah setengah kering kuangkat handuk dari kepalanya. "Udah lumayan kering Rafiq. Tinggal di kipas-kipas sebentar nanti kering sendiri," seruku sambil tersenyum ke arahnya.
Dia mengangkat kepalanya yang menunduk. Iris mata kami saling bertemu satu sama lain. Wajah kami hanya berjarak 15cm.
Aku langsung mengalihkan mataku kesisi lain dengan gugup lalu berkata, "Aku ke luar dulu ya!"
Saat aku hendak berdiri Radiq menahan pundakku, membuatku melihat ke arahnya kembali. Mata kami saling menatap cukup lama. Wahku mulai terliat merona.
Rafiq mendekatkan wajahnya ke arahku sedikit demi sedikit. "Apakah Rafiq akan menciumku!" gukamku dalam hati masih tetap menatap iris mata coklatnya yang bening.
Tercium aroma green tea ketika dia membuka mulutnya. Refleks aku memejamkan mata. Aku menunggu bibirnya menyentuh bibirku tapi Tidak berapa lama terdengar suara cengiran dari pria didepanku. Kubuka matanya yang ternyata jarak wahku dan wajahnya sudah menjauh. Dia memegang mulutnya sambil menahan tawa.
"Hahahaha. Kakak kira aku mau cium kakak ya!" tawanya lepas ketika dia melepaskan tangannya dari mulutnya.
Aku kesal melihatnya mengerjaiku. Ku condongkan tubuhku. Kudekatkan wajahku dengannya lalu, "Cup!" kukecup pipinya sebentar lalu berkata, "Gantilah pakaimu! Aku akan keluar kamar," kuangkat badanku untuk keluar kamar.
Sebelum membuka pintu kamar kuhentikan langkahku lalu berbalik ke arah Rafiq yang masih terdiam memandang lurus ke arah tempatku tadi.
"Itu hukuman karena telah mengerjaiku," seruku lalu aku pergi meninggalkannya.
Setelah selesai memakai baju dan sedikit berdandan ala cowok Rafiq keluar kamar membawa tas yang berisi bajunya yang telah kususun rapi.
Dia menghampiriku yang sedang menonton TV bersama Ibuku.
"Mama, Rafiq ijin pulang dulu ya!" serunya membuat mamaku yang lagi focus melihat acara komedi melihat ke arah Rafiq.
"Kamu hati-hati di jalan ya nak!" seru mamaku lalu berdiri menggunakan lututnya untuk menerima saliman Rafiq.
Kami sudah mengatakannya tadi pagi pada mama dan bapak kalau Rafiq akan pulang sore ini. Awalnya mereka tidak setuju karena Rafiq baru sebentar tinggal disini tapi setelah di jelaskan mereka akhirnya menyetujuinya.
"Dua hari lagi aku kesini. Buat ajak Kak Ela tinggal di kontrakan baru!"
"Ngontrak? Bukannya nanti kalian tinggal disini?" tanya mamaku bingung.
"Iya soalnya..."
"...kita mau mandiri!" kataku memotong perkataan Rafiq.
Mama langsung menoleh ke arah kami berdua secara bergantian. Lalu menarik Rafiq duduk disampingku sedangkan mama didepan kami berdua. Di ambil remot TV oleh mama lalu dikecilkan volume suara yang lumayan besar itu.
Sebelum berkata mama melihat kami berdua secara bergantian. "Kalian serius mau ngontrak?" tanya mamaku yang terlihat tidak setuju jika kami ngontrak.
"Kami serius ma!" jawab kami bersamaan.
"Ela ingin bisa mandiri mama," kataku dengan lembut. "Ela harus belajar bagaimana cara mengurus rumah sendiri dan mengurus semua keperluan Rafiq," lanjutku lalu mengalihkan mata dari mama ke Rafiq yang saat ini melihatku. "Ela juga ingin berduaan sama Rafiq. Biar seperti honeymoon!" tambahku senyum manis kuberikan pada Rafiq lalu aku melihat kembali ke arah mama.
"Iya ma," jawab kami berbarengan dengan senyum mengembang di wajah kami.
Setelah memakai bajh keluar, aku menghampiri Rafiq yang berada di ruang tamu.
"Rafiq kamu naik apa ke rumah?" tanyaku padanya yang saat ini sedang memegang Hpnya.
"Naik grab!"
"Masih jau grabnya?"
"Udah dekat sih kalau di lihat di GPS," katanya menunjukan GPS di layar HP nya.
Tidak berapa terdengar suara claksin dari arah pagar yang ternanyat grab yang di pesan Rafiq.
Aku membuka pintu lalu berkata dari daun pintu, "Iya pak, Tunggu ya!"
"Aku pergi dulu!" serunya lalu berdiri mengambil tasnya yang berada di lantai lalu menggembloknya.
"Rafiq!" seruku menghentikan langkahnya yang mau melewati daun pintu lalu berbalik.
"Apa?"
"Hati-hati ya!" kataku dengan tersenyum lalu mengambil tanganya lalu kucium punggung tangannya.
Setelah mencium punggung tangannya Rafiq hanya mengatakan salam. Aku menjawab salam lalu ku antar kepergiannya yang akan di antar ojek online.
***###***
Besoknya saat kuliah aku datang lebih cepat dari hari biasanya yang hampir telat.
Didalam kelas hanya baru ada Mine yang dari dulu selalu datang lebih awal dari teman-teman yamg lain. Dia mengucapkan selamat padaku dan meminta maaf tidak bisa datang karena sedang ada acara kelurga di rumahnya.
Setelah itu aku duduk menunggu sambil membaca buku di bangku paling belakang tempat Lifi biasanya duduk.
Jam sudah menunjukan pukul 7.30 dan kelas sudah terlihat lebih ramai. Teman sekelas yang belum mengucapkan selamat datang menghampiriku yang sedang duduk di belakang sisi sebelah kanan ruangan.
Terdengar suara cepreng yang khas mengucapkan salam setelah membuka pintu. Lalu suara itu menghampiriku yang masih tetap menunduk sambil membaca.
"Ela kamu jahat bangat sama kita," katanya dengan muka di tekuk lalu mengambil buku yang kupegang.
"Iyaaa!" Seru Lifi dengan anggukan mengiyakan perkataan Uni.
"Masa kita WA gak di balas. Di telpon gak di jawab. Kayak bang toyib aja," tambah Uni.
"Maaf-maaf maklum kemaren baru jalan-jalan naik burok. Terus gak ada sinyal di langit?" candaku.
"Gak lucu Ela!" serunya kesal.
"Iya garing! kayak eresan rengginang yang dimakan uni tadi pagi!" ledek Lifi pada Uni karena lucu melihat muka tekukan Uni yang saat ini menatap tajam Lifi. Sedangkan Lifi hanya nyengir aja.
"Sorry ya. Aku mau balas WA kalian tapi malas bangat!" seruku yang mendapat delikan mata dari Uni dan Lifi. "Niatnya aku mau cerita ke kalian aja secara langsung. Kan lebih enak," tambahku.
Dosen psycolinguistic masuk saat aku ingin bercerita. Terlihatlah jelas muka BT uni yang harus menahan hasrat kepo tingkat tingginya.
Setelah pulang kampus Uni sudah setia menungguku di kursi Lifi yang memang cocok tempat curcol.
"Jadi gimana kok kamu bisa tiba-tiba nikah sih. Kamu kenalnya dimana? Namanya siapa? Anaknya gimana? Umurnya berapa?" tanya Uni beruntun seperti gerbong kereta api.
"Tanya atu-atu kali neng!" seru Lifi yang gregetan mendengar pertanya beruntun Uni sedangkan aku bingung mau jawab yang mana terlebih dahulu.
"Pertama kita mau tau biodata suami kamu?" tanya Lifi.
"Oh biodatanya. Namanya Rafiq Hanif Pramata. Umurnya 18 tahun. Dia masih kuliah semester satu," jawabku membuat Ela dan Uni melebarkan mata membuatku bingung.
"Kamu nikah sama brondong?" tanya Uni gak percaya. Aku hanya menganggukan perkataannya.
"Beda umur kalian 4 tahun dong," kata Lifi santai.
"Iya,"
"Kok kamu santai bangat Lif. Ela nikah sama berondongloh. Bereondong," kata Uni dengan lebay.
"Biasa aja kali Uni. Mamaku juga nikah sama brondong yang beda 2 tahun,"
"Oh iya lupa," kata Uni menyengir.
"Terus kamu pertama kali ketemunya di mana?" tanya Lifi penasaran.
"Di tempat PPL beberapa bulan yang lalu,"
"Berarti dia murid kamu dong?" tanya uni kepo.
"Awalnya aku juga kira begitu ternyata dia alumni sekolah itu," jawabku membuat bibir kedua sahabatku berbentuk o.
"Cerita dong awal metemunya. Aku kepo bingits," kata Uni alay membuat ela menaikan sedikit bibir atasnya yang sebelah kanan.
"Awalnya aku hanya melihat dia sekilas dikantin sekolah yang sepi saat makan siang," ceritaku mengingat beberapa bulan yang lalu.
Flasback on
Saat jalan menuju parkiran ada seseorang memanggil, tapi aku tidak menghiraukannya. Aku berfikir orang lain yang sedang di panggil sampai akhirnya jalanku terhalang oleh tubuh tinggi laki-laki.
Aku menatapnya bingung lalu melewati laki-laki yang nafasnya tidak teratur itu. Begitu aku ingin melewatinya saja tangan besar laki-laki itu memegang lenganku. Aku yang kaget langsung melepaskannya dengan kasar pegangang laki-laki tersebut.
Aku menatapnya dengan dingin lalu berkata, "MAAF DE! kamu itu udah dewasa jangan sembarangan megang prempuan apalagi yang bukan MUHRIMNYA," kataku menahan emosi lalu melihat wajah laki-laki di depannya yang ternyata terlihat masih anak-anak.
"Kakak juga! Udah di panggil bukannya berhenti masih jalan aja kayak kereta api," jawab anak itu tidak mau kalah dengan nafas yang mulai stabil. Mendengar perkataan itu emosiku terpancing.
"Padahal aku sebisa mungkin supaya menahan emosi tapi dia dengan gampangnya menarik esmosiku," gumammku dalam hati. Muka dinginku sudah berbah menjadi muka kesal.
"Kamunya juga manggil Ehhh Ehhhhh. Mana ada yang ngerti. Kan bisa bilang tolong berhenti atau Kakak pake baju biru berhenti. Bisa gitukan," jawabku menatap iris coklatnya yang sangat terang terkena sinar matahari.
"Yaudah maaf deh Kak," kata anak laki itu dengan sangat terpaksa membuatku sedikit melunak.
"Terus ada apa manggil saya? Bukannya kamu anak yang ada di kantin tadi?" tanyaku dingin pada anak itu.
"Iya Kak, gue anak yang di kantin tadi. Gue kesini mau... Mau..." kata anak itu terputus dengan muka bingung. "Gue mau Kakak jadi pacar gue!" lanjut anak itu tegas.
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Terimakasih.