
Setelah ini sudah masuk ceritanya dari sudut padang Rafiq ya.
Happy Reading!!!
"Hhh... Well come Bali!" seruku dengan senang saat kakiku menapak di bandara Ngurah Rai International Airport.
Sampainya di luar. Kulihat seorang lelaki sedang melambaikan tangannya kearahku. Kuhampiri dia lalu memeluknya sambil menepuk punggungnya.
Kulepaskan pelukanku darinya begitu juga dengannya. Kutaruh lenganku diatas tengkuknya sambil tersenyum.
"Gua kangen sama lo!"
"Gua juga kangen sama Mas Rafiq," balasnya. "Gimana lebarang di Paris!" serunya kembali
Saat mendengarnya aku berdecak kesal. "Yaa.. seperti tahun-tahun biasanya!" balasku tidak bersemangat.
Entah mengapa rasa kesal memenuhi hati ketika orang mengungkit tentang pulang kampungku ke Negara asing itu. Kalau saja bukan karna nenek yang meminta ketemu aku malas untuk kesana.
Sampainya di rumah khas Bali yang merupakan rumah masa kecilku. Aku langsung turun dari mobil dan memerintahkan tukang kebun yang sedang menyapu untuk membawakan koperku.
Kuedarkan pandangan dan menangkap sosok yang sangat kukenal. Seorang wanita setengah baya yang sedang santai di bale yang ada di halaman rumah ini.
"Mama, Rafiq pulang!" seruku lalu memeluknya erat. Begitu juga wanita setengah baya ini yang langsung membalasnya.
Setelah melepas pelukan, beliau menatapku dengan wajah heran dan terlihat sedikit menggeleng kepala. "Kalau datang itu, ucapin salam dulu !" ingatnya yang aku cengiri.
"Rafiq lupa ma, assalamualaikum.." kataku lalu pergi setelah mendengarnya menjawab salam.
Aku berjalan menelusuri ruangan tengah yang terdapat tangga kayu disana. Kutaiki tangga menuju lantai dua. Di lantai dua terdapat 3 kamar. 2 kamar bersampingan yang berada didekat tangga sedang kamar satu lagi berada ujung di sisi lain. Kamar yang menyendiri merupakan kamar favorit ku yang balkonnya menghadap laut.
Setelah memasuki kamar aku langsung merebahkan tubuh di kasur ukuran sedang di kamar ini. Rasa lelah akibat perjalanan jauh masihku rasakan karna itu aku memilih beristirahat.
@@@
Matahari menerpa dari balik tirai kamar yang sedikit terbuka. Mataku enggan ke buka karna rasa kantuk yang masih tersisa. Kupaksakan mataku terbuka dan kufocuskan terlebih dulu mataku menatap atap yang berwarna putih bersih. Setelah itu aku bangun dengan gontai dari kasur lalu mencuci muka.
Saat menuruni tangga tatapanku menuju kearah mama dan Rifqi yang sedang memakan buah di meja makan.
"Selamat pagi ma! Rifqi!" seruku yang sedikit segar karna baru mencuci muka. Mama terlihat tersenyum melihatku.
"Selamat pagi sayang.."
"Ini udah siang kali.." sahut Rifqi sambil menunjuk jam tangan yang jarum pendeknya mengarah ke angka 11. Sedang mama hanya terlihat senyum saja.
Aku mengambil beberapa centong nasi lalu menaruhnya keatas piring kosong didepanku. Ku letakkan lauk favoriteku dan sedikit sambal.
Saat mengunyah makanan kulihat mama yang sedang memotong buah apel yang terlihat menggiurkan. Tanpa sengaja aku menelan ludahku melihat buah itu.
"Kalian sudah menyiapakan pakaian kalian?" tanya mama tiba-tiba.
Aku segera mengalihkan mataku dari apel yang dipegangnya ke wajahnya yang saat ini memandangiku dan Rifqi bergantian. Aku dan Rifqi menggeleng kepala bersamaan.
Mama sesaat menghentikan tangannya yang memotong apel lalu melanjutkannya kembali.
"Kenapa kalian belum merapikan pakaian kalian? Bukannya mama sudah bilang sejak kemarin kalau hari ini kita pulang," Wajah mama terlihat biasa saja saat mengatakannya tapi tidak dengan nada suaranya yang sudah sedikit berubah.
Rifqi menyenggol tanganku yang saat ini ingin menyuapkan nasi ke mulut. Dia terlihat takut dan sesekali melihat mama yang masih asik memotong buah dengan santainya.
"Ini gara-gara mas. Abis ini gua bakal di diemin mama karna tidak mengikuti perintahnya," bisiknya. Gua hanya sedikit tertawa melihat tingkahnya yang ketakutan.
Itulah mama. Saat marah, Beliau tidak akan mengomeli kami seperti saat kami masih kecil tetapi beliat pasti akan mendiamkan kami sampai kami sadar atas kesalahan kami sendiri.
Kutelan nasi yang kukunyah lalu menatap mama yang masih asik memotong buah dan sesekali memakannya.
"Ma..." panggilku tapi mama masih asik memotong apel tanpa menoleh kearahku.
Kulirik Rifqi yang cengir gembira saat aku tidak di repon. "Kenakan!" bisiknya pelan.
"Ma.. maaf Rafiq gak ikutin kemauan mama. Rafiq masih mau di Bali sebentar lagi. Rafiq janji lusa Rafiq balik ke Jakarta!" bujukku memandang wajahnya yang saat ini sedang memakan buah yang di potongnya.
Beberapa saat mama tidak menjawab perkataanku, aku merasa bersalah tidak menuruti ke mauannya. Tapi suara cekikikan disamping yang berasal dari Rifqi sungguh membuatku kesal. Sampai rasa kesalku hilang ketika mendengar suara yang kutunggu.
"Rafiq janji ma!" balasku meyakinkannya.
Lalu aku tersenyum miring ke arah Rifqi karna berhasil membujuk mama. Sedang dia terlihat berdecih.
Aku kembali menyendokkan nasi kemulutku. Aku akan menghabiskan Dua hari ini untuk bersenang-senang di pulau dewata ini.
"Oh iya Rafiq. Mama mau tanya, apa kamu sudah mengatakan perihal pernikahanmu pada ayahmu?" tanya mama secara tiba-tiba kembali. Seketika aku berhenti mengunyah mendengar perkataan mama.
Kulirik mama yang masih asik memakan buahnya. Sedang Rifqi sama terkejutnya denganku yang mendengar pertanyaan mama.
"..hem..belum ma.." jawabku pelan dan gugup lalu menyendokkan sedikit nasi kemulutku kembali.
Kulirik wajahnya kembali yang saat ini matanya menatapku. Kutelan nasi yang belum hancur kukunyah dengan susah.
Mama terlihat mengerutkan dahi mendengar perkataanku.
"Kenapa kamu belum mengatakannya?" tanya mama lalu mengalihkan pandangannya kearah pisau yang di meja, lalu mengambilnya untuk memotong buah apel kembali.
"...kemarin saat disana. Rafiq jarang bertemu Dady ma.. Daddy terlalu sibuk!" jawabku santai walaupun sebenarnya hati ini sangat deg-deg kan ketika melihat mama beberapa kali melirikku.
"Jadi kapan kamu akan mengatakannya pada ayahmu?" tanyanya kembali. Aku menggenggam erat sendok yang kupegang, karna bingung harus menjawab apa?.
"Rafiq, Kenapa diam?" tanya mama melihatku yang tak kunjung mengatakan apapun. Kulirik Rifqi yang sama bungkamnya denganku.
"...Ee.. Rafiq akan mengatakannya ketika Dady ke Indonesia. Soalnya Dady mengatakan akan ke Indonesia.." jawabku yang mama angguki.
"Kamu masih ingatkan janjimu pada mama saat ingin menikahi Ela! Kalau kamu akan memberitahu pernikahanmu pada ayahmu! Jangan sampe ayahmu marah dengan mama karna hal tersebut! Kalau sampai dia mengetahui kabarmu yang sudah menikah dari orang lain mama gak yakin ayahmu tidak akan membawamu ke Paris.. tidak hanya itu mungkin kamu akan disuruh ayahmu untuk bercerai dengan Ela.." kata mama yang membuatku diam.
Mama lalu meletakkan buah yang di potongnya ke depanku lalu pergi meningalkanku dan Rifqi yang masih terdiam.
Nafsu makanku menguap seketika mendengar perkataan mama. Aku tidak berfikir sampai sini saat akan menikahi wanita itu.
"Heii lo jangan diam aja. Bantuin gua mikir!" sentakku pada Rifqi yang sejak tadi hanya sebagi pendengar setia.
"Gua gak tau mas. Gua bingung?" balasnya yang mukanya terlihat tak kalah frustasi denganku.
"... Ah...Kenapa mas gak mengatakan saja ke ayah mas kalau mas Rafiq sudah menikah," usulnya.
Aku langsung mengetok palanya dengan sendok makan yang tadi kupake.
"Ahhh sakit mas.." keluhnya memegang kepala yang kuketok.
"Lo ngomong gapang bener! Emangnya Dady bakal nerima apa!"
Kulipat kedua tanganku ke atas dadaku. Lalu menyenderkan tubuhku kesandaran kursi.
Kuhelakan nafas kasar melalui rongga mulutku.
"Gua gak masalah buat cerai dengan Ela. Yang bikin gua bingung, Dady pasti bakal nyuruh gua pindah ke Paris. Yang artinya gua bakal liat muka Dady, yang merupakan orang yang gua hindari.."
Seketika suasana hening menyeliputi ruang makan. Aku tidak bernafsu memakan kembali nasi yang kuambil maupun buah yang tadinya menggoda.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih.
Baca juga cerita kedua saya
FRIENDS AFTER MARRIAGE.