UHIBBUKI

UHIBBUKI
Second Meet



Happy reading!!!


"Ela maaf ya! Kemarin saat kamu semprop aku gak datang," seru Uni yang terlihat menyesal.


"Aku juga Ela, maaf gak bisa datang. Kemarin aku bantu ibu buat pesanan," timpal Lifi.


Senyuman tersungging di wajahku melihat kedua sahabatku. "Kalian tidak datang tidak apa-apa, yang penting doanya. Lagi pula kemarin juga penuh ruangannya, kalian pasti taukan apa penyebabnya!"


Raut wajah Uni berubah ketika aku mengatakan perkataan itu"Hahaha tak lain dan tak bukan! Pasti karena pak Syahrul!"


"Uni nanti kubilang pak Syahrul loh kalau kamu ngetawain beliau!" gertak Lifi dengan mimik wajah dibuat serius.


"Jangan Lifi! Aku kan cuman ketawa doang, enggak ngeledekin beliau!" pintanya. Dia mengerucutkan bibirnya karna Lifi tidak bisa diajak bercanda. Sedangkan Lifi yang melihat perilaku Uni, tawanya meledak.


"Uni! Ya kali si Lifi ngasih tau pak Syahrul," Lifi menganggukan kepala dengan cengiran yang masih terlihat di wajahnya.


Kulihat Uni menghembuskan nafas lega karna tidak jadi di adukan.


Sebagai orang yang lebih muda tentu kita menghormati beliau. Walaupun beliau dosen muda tetapi beliau terkenal akan kepintarannya dalam menyampaikan ilmu dan yang terpenting tidak pelit nilai. Oleh sebab itu banyak mahasiswi mengincarnya dan ingin menjadikan beliau suami. Bisa dibilang sosok suami idaman.


"Misalnya pak Syahrul ngajak kalian nikah? Kalian terima gak ajakan beliau?"


Tanpa berfikir panjang kedua sahabatku menjawab pertanyaan yang kuberikan.


"Ya kali beliau suka kita!" balas Lifi.


"Benar! Setiap bimbingan aja beliau selalu menunjukan wajah perihatin pada skripsiku," timpal Uni.


"Beliau paling cari cewek yang setara kemampuannya dengan beliau," tambah Lifi.


"Siapa tau beliau tiba-tiba kesemsem sama salah satu diantara kalian?" balasku yang tidak mau kalah.


"Bisa juga! Tapi.. Seperti 1 banding sepuluh juta. Kehendak Allah juga pasti turut ikut serta dalam hal tersebut," jawab Uni yang aku anggukan.


"Udah ah ngomongin pak Syahrul terus. Nanti orangnya batuk lagi," kata Lifi menghentikan pembahasan barusan. "Jadi sekarang kita mau kemana? Tadi kak Zahra bilang gak bisa ngisi kajian kita hari ini karna anaknya sedang sakit,"


Aku melirik kearah Uni yang sedang berfikir lalu dia mengunggingkan senyum.


"Gimana kalau kita ke mesjid raya? Dari pagi sampai asar ada ceramah dari ustad," usul Uni.


"Boleh," sahut ku dan Lifi berbarengan.


Kami lalu menaiki angkutan umum menuju tempat tersebut yang hanya membutuhkan waktu satu setengah jam.


Sampainya disana sudah banyak stand jualan yang berdiri sepanjang selasar mesjid sampai teras mesjid yang luas.


Kami bergegas mengambil air wudhu karena waktu dzuhur akan masuk alu menuju ketempat prempuan yang sudah ramai karena kajian ustad tadi pagi.


Setelah melaksanakan sholat dzuhur dilanjutkanlah acara sekitar pukul satu siang.


Datanglah beberapa wanita yang sering tampil di TV. Mereka adalah artis yang baru saja berhijrah. Jadi acara hari ini menceritakan awal para artis berhijrah.


Ada macam-macam kejadian seperti merasa tenang ketika mengenakan hijab. Ada juga yang ingin menjadi muslimah sejati dan lainnya.


Aku sungguh senang melihat mereka berhijrah. Mencari sosok muslimah sebanarnya.


Tidak terasa masuklah waktu asar dan kami kembali sholat asar yang tentunya setelah mengambil air wudhu. Setelah itu baru kami jalan-jalan di selasar mesjid.


Pandangan ku tertuju pada sekumpulan muslimah yang sedang berlatih.


"Lihat deh! Ada yang lagi main panahan," kuarahkan jempol tangan kananku kearah orang-orang di lapangan ruput mesjid.


"Wahhhh pengen!!!!" sahut Uni dengan wajah mupeng. Begitu juga Lifi yang menatapnya.


"Ayo kita samperin!" ajakku pada mereka yang masih diam ditempat.


"Enggak ahhh malu!" tolak Uni.


"Ngapain malu! Emang kita mencuri! Gak pake baju!" aku melihat Lifi yang masih menatap kerumunan disana. "Lifi ayo kesana!" aku menarik tangan Lifi yang masih bengong menatap kedepan.


Sampai di lapangan aku bertanya pada salah seorang yang sedang latihan dan ternyata memang panahan diadakan untuk para pengunjung masjid yang tentunya free.


Aku melambaikan tangan kearah Uni yang menunggu di pinggir lapangan. Dengan semangat dia mengampiriku dan Lifi yang sudah mendapatkan busur dan juga anak panah. Setelah menaruh tas kami baru latihan panahan secara bergantian yang di ajari terlebih dulu oleh muslimah yang mengdakan latihan panahan sambil sesekali selfi.


Biasanya anak panah ujungnya lancip dan kita mengenai target yang sudah di tetapkan. Tapi karna ini lapangan yang tentu banyak orang yang lalu lalang. Ujung panhannya di buat seperti penyedot WC jika mampet dan kami mengincar ke arah target yang sudah di beri papan jika tepat sasaran papan yang di sana akan jatuh.


Setelah puas bermain kami kembali ke mesjid menjalankan sholat magrib. Baru kami pulang.


Kami berjalan sepanjang jalan sambil menunggu angkutan umum. Aku menengok kearah kanan yang dipenuhi dengan deretan mobil.


"Macet bangat,"


"Namanya juga malam minggu Ela, muda mudi lagi pengen ke mall," balas Uni menunjuk ke arah mall yang terlihat kecil dari kejauhan.


"Itu mall apa?"


"Itu Mall orang-orang hight class," balas Lifi.


"Ela aku cape, jua lapar" Uni mengelus perut datarnya.


"Lihat-lihat doang abis itu kita makan," mohonku dengan wajah memelas.


"Iya Uni gak papalah. Sekali-sekali ini kita nyenengin si Ela," bujuk Lifi.


Akhirnya Uni mau. Kami menuju kearah mall yang sangat besar dengan lantai yang bertingkat-tingkat.


Ketika menginjakan kaki kedalam. Hawa AC menyambut ku dengan sangat kencang. Tercium juga aroma makanan yang membuat perutku berdisko.


Kami mengawali jalan-jalan kami di mall dengan melihat deretan penjualan tas, kosmetik dan baju muslimah yang harganya membuatku tercengang. Gimana tidak? Harga yang paling murah sekitar 500 ribuan.


"Uni tadi bukannya kamu bilang mau beli lipstik ya.." ledekku setelah keluar dari toko kosmetik.


"Iya mau beli, tapi enggak disini. Harganya.. nyeremin!" sontak aku dan Lifi tertawa melihat ekspresi lucu Uni.


"Abis ini kita mau kemana?" tanya Lifi. Terdengar suara lantunan adzan dari HP yang kami pegang dan memutuskan ke tempat selanjutnya.


"Ela, Lifi kita naik lift aja! Mumpung kita lagi dekat sama lift," jari jempolnya mengarah pada lift yang berjarak seratus meter pas di depan kami.


Senyum menghiasi wajah kami bertiga lalu dengan cepat kami berjalan kearah lift. Tidak berapa lama lift terbuka tampak ada tiga orang dewasa didalam lift. Dengan senang kami masuk dan aku memilih di sudut yang sejajar dengan pria muda yang berdiri dekat tombol lift. Sedangkan Uni di sampingku dan Lifi didepanku sambil menyenderkan tubuhnya di sisi lift.


"Ba maulantai berapa?" tanya mas tersebut.


"Eee mau ke musholla mas," sahut Lifi pelan.


Lift pun turun kelantai bawah dan tak terbuka. Dengan santai kami keluar dari lift dan di cegah oleh mas yang berdiri di samping tombol lift.


"Ba katanya mau ke musholla kok turun?"


"Bukannya di sini mas tempatnya?" tanya Uni dengan polos.


"Bukan ba! Ini mah tempat parkiran sedang musholla ada di lantai paling atas," jelas mas tersebut membuat kami malu.


Untung dua orang tadi sudah turun dengan sekarang hanya kami yang berada di dalam lift. Jika tidak sungguh malu. Aku menundukan wajahku sedang Uni dan Lifi memunggungi pintu lift.


Pintu lift kembali terbuka dan tampak sekelompok remaja memasuki lift. Tatapanku tertuju pada laki-laki paling belakang yang terlihat sedang sanda gurau dengan gadis di sampingnya.


Lifi dan Uni mengeser tubuhnya mendekatiku dan kembali ke formasi semula saat pertama memasuki lift.


Tatapanku masih melekat pada laki-laki tersebut yang saat ini memilih berdiri didekat pintu lift dan sesekali tersenyum manis pada gadis disebelahnya.


"Mau kemana adek-adek?" tanya pria itu sopan.


"Ihh masnya kok manggil kita adek kita kan udah besar," kata gadis yang sejak tadi bercanda dengan laki-laki yang ku tatap.


"Mas-mas dan banya mau kemana?" tanyanya kembali sopan.


"Ke bioskop," jawab laki-laki yang kutatap.


Ya sejak tadi aku menatap Rafiq. Dia masih tidak menyadari keberadaanku yang menatapnya.


"Ela ingat tundukin pandangan!" seru Uni. Membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Hehehe iya,"


"Kamu suka berondong ya?" tanya Lifi.


"Enggak hanya saja wajahnya mirip sama orang yang kusuka. Eaaaa," gurauku dengan suara pelan sedang mereka tertawa garing mendengar gurauanku.


Laki-laki itu adalah Rafiq. Aku masih lekat memansangnya dan berharap dia peka akan tatapan yang kuberikan padanya.


"Silahkan emba-emba dan mas-masnya sudah sampai di lantai bioskop dan musholla!"


"Wih si Hanif pengen ke musholla pertanda apa nih!" ledek salah seorang temannya Rafiq saat mereka keluar dari lift.


"Ternyata dia di panggil teman-temannya Hanif ya!" gumamku dalam hati.


"Arah kemana mushollanya?" tanyaku dengan tatapan kearah depan melihat Rafiq yang berjalan sambil merangkul gadis tadi.


"Kalau ngomong itu liat ke orang yang bicara bukan merhatiin orang lain," Lifi melambaikan tangannya didepan wajahku.


"Hahaha ganteng bener tuh anak!"


Setelah dua bulan akhirnya aku bisa melihat wajahnya.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Terimakasih.