UHIBBUKI

UHIBBUKI
Thirty Five



Happy Reading!!!


Paginya


Kuturuni anak tangga satu persatu. Saat ini aku sudah mengenakan pakain rapi. Kulihat mama juga sudah rapi dengan setelan bajunya.


Di ruang TV mama terlihat sibuk membolak balikkan tumpukan kertas ditangannya.


"Mama sedang apa?"


"Ini mama lagi siapin berkas-berkas toko mama yang baru buka," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dariku. Sedang aku hanya membulatkan mulut.


Kulihat dua kotak kue bronis diatas meja. Baunya mencuat dari tempat persinggahannya. Saat tanganku ingin membuka kotak tersebut mama langsung memukul tanganku pelan.


"Eits no! Ini buat mamanya Ela!" serunya menatapku. Sedang aku hanya memajukan bibirku.


Dari arah dapur kulihat Pak Dani menghampiri kami.


"Nyonya mobil sudah siap dan kopernya sudah saya masukkan!"


Kualihkan kembali mataku dengan tanda tanya kearah mama yang saat ini mulai memasukan kertas yang dipegangnya kedalam tas tangannya.


"Koper? Mama maunginap emangnya?" mama lalu melihat kearahku dengan menepuk jidatnya.


"Oh iya, mama lupa bilang sama kamu. Mama enggak jadi ikut, karna toko yang baru sedang ada masalah. Jadi mama menyuruh Rifqi untuk menemanimu," jelasnya. "Itu Rifqinya udah siap!" tunjuk mama pada Rifqi yang sedang menuruni tangga.


Seketika senyumku mengembang mendengar perihal mama yang tidak jadi pergi.


"Oh yaudah ma. Enggak papa! Hati-hati dijalan ya!" jawabku senang lalu memeluknya begitu juga Rifqi.


Setelah mobil mama meninggalkan halaman. Rifqi langsung mendekatiku dengan wajah sumringah.


"Mas hadiah punyaku balikin dong!"


Kutatap mukanya yang senang dengan tatapan tajam. "Iya gua balikin. Tapi lo temanin gua buat beli gantinya!"


"Iya, siap boss!"


Sebelum kerumah mama Maryam dan Bapak Hamdan. Terlebih dahulu aku mampir di mall, untuk membeli oleh-oleh. Setelah itu baru menuju kesana.


Selama perjalanan aku hanya menatap kosong keluar jendela. Saat ini aku sedang tidak minat bertemu dengan wanita itu. Apalagi setelah kejadian saat bulan puasa, rasa tidak sukaku padanya semakin bertambah.


Rifqi menghentikan mobil di tanah kosong samping rumah mertuaku. Kukeluarkan beberapa bungkusan oleh-oleh yang barusan kubeli dan juga kue bronis buatan Bi Dini.


Setelah mengetuk pintu tiga kali sambil mengucapkan salam. Tidak beberapa lama pintu dibuka oleh kak Aina.


"..Rafiq, kakak kira tadi siapa? Ayo masuk!" perintahnya yang langsung membuka lebar pintu.


"Ayo duduk Rafiq sama???" katanya melihat kearah Rifqi.


"Ini adek saya kak. Namanya Rifqi," kenalku padanya yang di balas dengan senyum.


Kak Aina lalu meninggalkan masuk kedalam rumah. Sedang aku bersama Rafiq langsung duduk.


"Itu kakaknya kak Ela," bisiknya padaku.


"Iya,"


"Kakaknya cantik juga ya!" katanya kembali.


"Terus elo mau sama kakaknya! Tapi kayaknya kakaknya gak deman sama bocah kayak lo!" seruku membuatnya kesal ingin memukul lenganku. Tetapi diurungkannya karna kak Aina datang membawa minum berupa aqua gelas.


"Assalamualaikum!"seru seseorang dari pintu yang ternyata mama Maryam.


"Walaikumsalam," jawabku dan Rifqi berbarengan.


"Rafiq...mama kira tadi siapa yang datang," katanya senyum kemudian melihat kearah Rifqi yang ada disampingku. "Ini siapa? Teman nak Rafiq?"


"Ini Rifqi ma. Adek Rafiq!"


"Ohh adeknya nak Rafiq. Mama kira nak Rafiq anak tunggal. Pantes sama gantengnya sama nak Rafiq," puji mama.


"Makasih tante," balas Rifqi senang.


"Ela lagi didalam ya? Kok gak nemenin kalian?" katanya. Aku hanya membalas perkataannya dengan senyum tipis.


Saat mama Maryam menyebut namanya hatiku seperti tersengat. Ada persaan tidak ingin bertemu.


Kulihat Bang Baim datang dari dalam rumah menghampiri kami. Dia telah rapi dengan pakaian sholatnya. "Ehh Rafiq dateng. Pantes tadi kayak kenal suaranya. Ini siapa?"


"Ini adek saya Bang,"


"ohh adeknya!" balasnya senyum "Ayo kita ke mesjid sebentar lagi masuk waktu magrib!" ajaknya yang kuangguki. Lalu aku izin pada mama.


Aku dan Rifqi mengikuti Bang Baim di belakang menuju ke mesjid yang ada didekat rumah. Sampainya di mesjid Bang Baim menunjukanku tempat berwudhu yang sebenarnya kuketahui, sedang Bang Baim bersiap untuk azan.


Suara azan yang dikumandangkan oleh Bang Baim terdengar lantang dan merdu, memanggil orang-orang untuk segera melaksanakan sholat.


Selesai berwudhu kuajak Rifqi duduk dibarisan paling belakang. Sedang orang-orang yang baru masuk melaksanakan sholat tahyatul mesjid.


"Abangnya kak Ela ganteng juga ya. Matanya sipit enggak kayak kak Ela sama kak Aina," bisiknya yang hanya kubalas anggukan.


Usai sholat magrib aku menunggu Bang Baim yang masih melaksanakan sholat Ba'diah.


"Kamu masih nungguin. Abang kira kamu udah balik duluan," katanya saat melihatku duduk diselasar mesjid.


"Iya Bang.." balasku senyum.


Kami lalu bareng-bareng berjalan menuju rumah. Sampai di rumah tampak mama sudah menyiapkan makan malam di ruang tamu.


Sudah nampak kelurga berkumpul kecuali Bapak Hamdan dan juga Ela.


"Ma!" panggilku pada mama yang sedang mengisi piring dengan nasi.


"Iya?" balasnya senyum.


"Kok Bapak gak ikut makan Ma?" tanyaku basa-basi.


"Ohhh... Bapak lagi pergi ke rumah temannya. Biasa silaturahim!"


"Hemmm.." gumamku mengangukan kepala.


"Oh iya nak Rafiq. Kamu kesini cuman berdua?" tanya mama melihat kearahku.


"Iya ma. Rafiq cuman berdua. Memang kenapa ma?" tanyaku membalas tatapan matanya.


"Tadi mama fikir kamu kesini bareng Ela. Soalnya mama kangen dengannya..."


"..." Aku tiba-tiba terbatuk mendengar perkataan mama. Dengan sigap mama memberikan segelas air kepadaku dengan wajah bersalah.


"Maaf ya nak Rafiq, karna mama ajak ngobrol. Jadi batuk..."


"Tidak apa-apa ma," jawabku setelah meneguk air yang diberikan mama.


Kulihat Rifqi hanya tertawa melihatku tersedak. "Dasar!" kesalku dalam hati.


Pikiranku berkelana. Aku tidak bisa merasakan sensasi makanan yang ada dilidahku. Saat ini aku hanya memahami perkataan yang mama katakan barusan.


Piring-piring sudah tampak licin di masing-masing tangan yang memegangnya. Kak Aina kemudian membereskan meja dan mengambil piring yang kami taruh diatas meja lalu membawanya kedalam.


"Ini kue titipan dari mama!" tunjukku pada pada plastik yang berisi kue.


Mama menerimanya lalu membuka kue bronis yang aromanya tetap maknyos untuk disantap.


"Sedang ini untuk mama!" beriku pada mama sebuah mukena yang bercorak batik.


"Cantik sekali mukenanya! Makasih ya nak," kata mama melihat mukena bercorak batik yang kuberikan.


"Sedang ini untuk Bapak!" kataku memberikan baju koko berwarna putih beserta sarungnya.


"Kalau ini buat Bang Baim sarung dan Kak Aina kerudung.." kataku menaruhnya diatas meja.


"Makasih nak Rafiq!" katanya merasa tak enak.


Bang Baim dan Kak Aina juga mengucapkan terimakasih atas pemberiaku yang baru kubeli tadi.


Kulihat sisa barang yang ada di plastik. Itu merupakan dress tidur yang akan kuberikan pada Ela. Aku enggan mengeluarkannya karna didalam baju tidur itu juga ada pakaian dalam dengan warna senada. Entah apa yang aku pikirkan tadi saat belanja tiba-tiba saja tanganku mengambil pakaian dalam beserta dress tidur yang begitu tipis.


"Oh iya nak Rafiq. Bagaimana kabar Ela?" tanya mama tiba-tiba membuat lamunanku buyar.


"Mama kangen dengan Ela. Biasanya setiap tahun Ela selalu lebaran bersama kami tapi tidak dengan tahun ini," lanjutnya menatap kearahku.


"Bagaimana bisa, mama menanyakan kabar Ela padaku? Setauku Ela ikut dengan mereka pulang kampung.." batinku.


Aku diam memahami satu persatu perkataan mama yang membuatku bingung.


"Jadi gimana kabar Ela nak Rafiq?"


"...Ela baik bu," jawabku berbohong sambil tersenyum.


"Alhamdulillah. Apa Ela sedang tidak enak badan makanya tidak datang?" tanyanya kembali.


"...Ela hanya sedang kecapean. Jadi gak ikut ma," jawabku bohong kembali. Kulirik Rifqi yang sama ikut tersenyum canggung sepertiku.


Karna masuknya waktu isya aku terselamatkan dari perbincangan ini. Aku kemudiam izin kembali ke mesjid bersama Rifqi.


Sampainya di luar pagar. Rifqi mendekatiku lalu berbisik. "Mas jadi kemarin kak Ela enggak lebaran bareng keluarganya? Terus lebaran sama siapa?"


"Mana gua tau. Elu tau sendirikan, gua di Paris!"


"Tapi hari Mas berangkat ke Paris. Sorenya kak Ela datang ke rumah," jelasnya.


Suara khomat yang terdengar dari mesjid memutuskan percakapanku dan Rifqi. Kami lalu bergegas berwudhu, melupakan masalah sejenak.


Walaupun ingin melupakan tetap saja setan berusaha keras menggodaku. Membuatku memikirkan kembali masalah yang tadi.


Pulang dari mesjid aku langsung izin pulang. Awalnya mama tidak mengizinkanku, karna baru sebentar. Tetapi karna aku mengatakan Ela di rumah sendiri. Mama lalu mengizinkanku.


Aku langsung mengendarai mobilku kearah rumah kontrakan tersebut.


Aku terlebih dahulu memarkirkan mobil didepan alfamart. Sedang aku berjalan ke rumah kontrakan. Dari kejauhan tampak lampu teras rumah kontrakan telah menyala.


"Sepi benar mas! Udah tidur kali?" gumamnya pelan memperhatikan rumah dari luar.


"Mana gua tau! Coba gua cek dulu! Lo tunggu di luar!" perintahku menatapnya tajam.


"Iya iya.."


Kumasukan kunci cadangan yang selalu kubawa kedalam lobang kunci.


"Cklek!" terdengar suara kunci terbuka. Kutekan gagang pintu lalu membukanya. Tampak ruang depan sangat gelap beda dengan ruangan kamar yang terang.


Kuhela nafas karna berfikir dia di rumah. Sampai akhirnya kulangkahkan kakiku kedalam. Kulihat kearah tempat tidur yang diatasnya dilapisi kain lalu diatas kain terdapat Al-Qur'an. Lalu kuintip kearah kamar mandi mencari sosok wanita itu tetapi tidak menemukannya.


Aku segera keluar rumah dan mendapat Rifqi sedang duduk diteras.


"Gimana mas?" tanyanya.


"Enggak ada!" jawabku.


"Mungkin dia sedang keluar mas," kata Rifqi yang kuangguki. Lalu kami pulang sama-sama.


@@@


Besoknya saat pagi aku kembali ke rumah kontrakan. Lampu teras dan ruang tengah masih sama tetap menyala. Sedangkan orang yang kucari tetap tidak ada.


Selama tiga hari di waktu berbeda aku selalu kesana melihat apakah dia sudah pulang. Tetapi hasil tetap sama.


Aku keluar dari rumah kontrakan dengan wajah lemas tidak bersemangat. Tadi malam aku sama sekali tidak bisa tidur memikirkan keberadaannya.


Sebenarnya bisa saja aku menelponnya. Tapi sayang rasa egoku lebih besar dari rasa khawatirku padanya.


"Rafiq ya!" seru seseorang dari samping yang ternyata tetangga disamping kontrakan.


Aku hanya membalas dengan senyuman tak semangat.


"Tadi Ibu kira Ela yang datang ternyata suaminya," katanya sambil tersenyum.


"Iya bu.."


"Ngomong-ngomong nak Rafiq cuman sendiri. Gak bareng Ba Ela?"


"...Iya Bu.."


"Hemm...kok gak diajak kesini Ba Ela nya. Saya kangen dengan Ba Ela! Terakhir ketemu kemarin, 2 hari sebelum puasa karna saya pulang kampung.."


Aku hanya diam menyimak perkataan Ibu didepanku ini.


"Memangnya pas Ibu sampe tidak bertemu Ela?" kataku pura-pura bertanya.


"Sejak dari kampung sekitar 2 minggu yang lalu, sampe sekarang. Ibu belum bertemu dengannya," jelasnya.


Mendengarnya aku langsung membulatkan mataku dan mengeraskan rahangku. Berarti sudah 2 minggu rumah ini kosong.


"Jadi gimana nak Rafiq kabarnya Ba Ela?" tanya kembali Ibu ini sambil tersenyum.


"...Baik bu," jawabku dengan senyum dipaksa. "Oh iya bu. Saya permisi ya Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam. Salam ya sama Ba Ela!" serunya.


Aku langsung menyalakan mesin motorku lalu melajukannya dengan kencang.


(Janga lupa like, vote, dan beri ucapan ya)


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.