
Still Flashback
Happy Reading!!!
Setelah hari itu, aku selalu datang ketika dia sedang PPL. Aku mendekatinya dengan cara-cara pria playboy yang kutiru dari sahabatku Davin. Sayangnya semua itu tidak ada yang canggih.Wanita itu tetap berwajah dingin, cuek, dan susah diajak bicara. Walapun tidak canggih tetapi aku tetap melakukannya.
Hari ini, Aku menunggu Wanita itu di bangku dekat parkiran sekolah. Kudengar dari Rifqi, katanya ini hari terakhirnya PPL yang artinya ini kesempatan terakhirku untuk bertemu.
Dari kejauhan kulihat seorang Wanita dengan pakaian jubahnya sedang berjalan menuju parkiran. Tanpa menebakpun aku tau itu pasti wanita itu, karna hanya dia wanita satu-satunya memakai jubah di sekolah ini. Dia sedang membawa kantung di kedua tangannya. Ditambah boneka tady besar, setinggi kepalanya yang ada di pelukannya. Hal tersebut membuatnya susah melihat kearah depan. Tetapi melihatnya yang seperti itu sungguh membuatku sedikit tertawa.
Sebagai Pria sejati, aku tidak hanya berdiam ditempat tetapi menawarkan bantuan padanya. Siapa tau dia berubah pikiran ingin menjadi pacarku.
Kuhampiri dia yang sedang berjalan perlahan lahan.
"Kak Ela, bawaannya banyak bangat. Sini gua bantuin!" seruku lalu mengambil kantung yang ada di kedua tangannya tanpa menunggu izinnya. Sedang dia kubiarkan memeluk tady itu.
Sesaat aku merasa terpukau melihat wajah bengongnya yang sambil memeluk boneka itu, karna saat itu dia benar-benar terlihat imut. Tidak seperti yang biasanya selalu berwajah garang ketika melihatku.
"Ini punya Kakak semua?" tanyaku. Kulirik Wanita disampingku yang wajahnya sudah berubah datar bagaikan papan triplek.
"Bukan! Itu punya Ryan!" jawabnya to the point tanpa melihat kearahku.
Sampainya didekat parkiran. Wanita itu memilih duduk di bangku yang ada di parkiran. Aku pun mengikutinya duduk disampingnya.
"Terima kasih, sudah membatu saya. Kantung yang kamu pegang taruh saja disini!" ucapnya. Akupun menurutinya tanpa bertanya.
Aku lalu duduk diam disampingnya. Begitu juga dengan Wanita ini yang sudah mengeluarkan HP dan mulai asik bermain dengannya.
"Apa nih cewe gak sadar apa, lagi duduk sama cogan. Kok bisa dia anggurin!" batinku melihat kearahnya.
"Bisa gak liatnya kearah lain!" serunya dengan tatapan masih focus ke HP yang dipegangnya.
Saat mendengar suaranya. Tanpa sadar kedua sudut bibirku menaik. Sejak tadi aku sudah menunggunya mengeluarkan suara mahalnya.
"Kenapa memangnya? Kan mata-mata gua. Mau liat kemana juga seterah gua.." ucapku. Masih menatapnya dengan intens dan genit.
Lalu kulihat dia beranjak dari duduknya. Kemudian pindah ke bangku lainnya dengan membawa bawaan yang tadi dibawanya. Aku tertawa melihatnya yang tergopoh-gopoh membawanya. Aku pun kemudian mengikutinya lalu duduk disamping barang yang dibawanya.
"Kenapa masih ngikutin saya?" tanyanya dengan suara yang terdengar ketus ditambah dengan matanya yang sinis melihatku.
"Emang kenapa, kan kaki-kaki gua.." ucapku ngeyel, tidak menghiraukan perkataannya dan juga tatapannya.
Wanita itu lalu mematikan HPnya. Kemudian menatap kearahku. "Mau mu apa?" tanya Wanita itu terlihat mulai kesal tetapi dia masih mengontrol emosinya.
"Mau gua tetap sama. Gua mau kakak jadi pacar gua.." jawabku dengan wajah santai.
Wanita itu menghela nafas berat. Matanya yang awalnya beralih kesisi lain kembali melihat kearahku. "Bukannya saya sudah bilang, kalau saya gak akan pacaran. Paham!! " ucapnya tegas. Kemudian dia terlihat diam sejenak menundukan kepalanya.
Wanita disampingku mulai mengangkat kepalanya lalu membalas melihatku. "...Baiklah, aku akan pacaran denganmu. Tapi...setelah adek...siapa namamu.." wanita itu memejamkan mata sejenak mengingat namaku yang pernah kuucapkan.
"Rafiq!" ucapku mengingatkannya.
"..Oh iya Rafiq!" katanya menunjuk jari telunjuknya kearahku. "Setelah Adek Rafiq ME NIKAHI Kakak Ela ini! Lebih tepatnya menjadi SUAMI kakak!" ucapnya. Aku terdiam mendengar perkataannya yang kedua kalinya, tentang aku yang harus menjadi suaminya.
"Bagaimana Adek Rafiq? Apa mau menjadi suami Kakak Ela ini?" katanya meminta pendapatku. Wanita ini seperti menantangku saat ini. Sedang aku hanya bisa terdiam menundukan kepalaku.
"Ela maaf! Kamu jadi bawain barang-barang aku.." ucap seorang Pria yang baru saja datang, yaitu teman PPLnya.
"..Tidak apa-apa. Sudah selesaikan?"
"Sudah, ngomong-ngomong siapa pria ini?" tanya Pria teman satu PPLnya.
"...ohh...dia anak sekolah ini yang membantu aku membawakan barang-barang ini tadi.." ucapnya santai.
Pria itu menatapku ramah. "Dek, makasih ya!" ucap Pria itu. Lalu dia pergi bersama dengan wanita berjubah ini.
Dari bangku yang kududuki kulihat dia, wanita yang kuajak pacaran. Memberikan boneka tedy yang dipegangnya pada Pria itu.
'Dor!!!' aku terkaget mendengar seseorang yang berada disampingku.
"Mas, lagi liatin siapa sih?" tanya seseorang Pria yang tiba-tiba menepuk pundakku, membuat dadaku berdegup kencang karna kaget.
Pria itu yang tak lain adalah Rifqi, dia melihat mengikuti arah pandanganku tadi. Sedang aku masih memegang dadaku yang berdegup kencang dengan tatapan masih pada wanita itu .
"Oh rupanya lagi merhatiin Prempuan yang Mas kejar-kejar. Pantasan minta ketemu disini!" ucapnya. "Mas katanya udah ada kemajuan tapi udah 2 bulan kok belum pacaran-pacaran!" ucapnya kembali yang terdengar meledek dengan wajah cengengesannya.
"Lo tinggal liat aja. Dia bakal suka sama gua.." ucapku dengan pedenya.
"Oke, oke.." Rifqi menganggukan kepala paham. "Oh iya, ini yang Mas minta!" Rafiq memberikan secarik kertas padaku.
"Benar ini nomor wanita itu.." kataku sambil menerima secarik kertas yang di sodorkannya.
"Di jamin benar!" serunya
"Yasudah, gua pulang dulu. Makasih ya.." kugoyangkan kertas itu yang di kapit dengan jari telunjuk dan tengah. Kemudian aku beranjak dari bangku yang kududuki menuju tempat motorku yang terparkir.
###
Malam hari
Di kamar, kuraih secarik kertas dari kantong jaketku tadi. Kumasukkan nomor tersebut kedalam HPku lalu kusimpan. Kemudian kubuka WAku. Kutulis di tempat pencarian namanya yang telah kusimpan dengan nama "Menantang" kenapa aku menamakan itu karna itu tantangan untukku mendapatkannya.
"Jika itu keinginan lo! Bakal gu turutin!" batinku.
Terlihat provil WAnya yang bertuliskan kata-kata mutiara tentang 'Keutamaan membaca surat Al-Kahfi setiap hari jumat'. Jika membaca Surat Al-Kahfi pada hari jumat maka akan disinari oleh cahaya diantara 2 jumat' setelah membaca provilnya tanpa pikir panjang aku langsung menekan WAnya lalu memencet gambar telpon tersebut.
Setelah bunyi yang ketiga. Akhirnya wanita itu mengangkat sambungan telpon.
"Gue mau jadi suami kakak!" seruku dengan pedenya, karna berfikir Wanita itu akan langsung menerimaku. Sayangnya, Wanita itu tiba-tiba memutuskan panggilanku. kukerutkan dahi memperhatikan layar HPku
"Kenapa dia mematikannya? Bukankah itu keinginannya untuk menikahinya?" gumamku.
Setiap hari aku terus menelponnya. Sehari aku bisa menelponnya sebanyak 50 kali. Hal itu tentu tidak membuatku menyerah, melainkan menjadi tantangan untukku. Karna aku berfikir wanita itu pasti akan menyerah dan mengalah mengangkatnya.
Benar saja, hari ke lima. Wanita itu mengangkat telponku. Dengan senang aku langsung berkata sebelum wanita itu mengatakan sesuatu.
"Assalmualaikum kak, kok baru diangkat telponnya. Gue berkali-kali nelpon kakak. Jadi gimana kak? Gua udah mau jadi suami lo sekarang lo Mau kan jadi pacar gue?" cerocosku.
"Walaikumsalam. Maaf sebelum itu Mas. Saya itu enggak kenal sama mas. PAHAM!!" katanya yang terdengar dingin dengan memperjelas akhir kalimatnya.
"Tidak kenal?" batinku. Seketika aku langsung paham maksud perkataan wanita itu.
"...kakak masa lupa sama gua. Orang seganteng gua masa di lupain sih. Apa saking gantengnya kakak hanya memperhatikan wajah gua aja tanpa mengenali suara gua yang indah," ucapku dengan pedenya. Entah dari mana sifat ini, karna ini sungguh bukan sifat asliku.
Setelah mengatakan perkataan itu, tak ada jawaban dari sebrang. Wanita itu tiba-tiba bersuara 'ah'. Aku menyunggingkan senyum mendengarnya.
"...Wah sepertinya kakak udah ingat siapa gua. Jadi gimana kak?" kataku dengan pede.
Terdengar hembusan nafas beratnya dari telpon. "Maaf langsung saja ke intinya. Apa tujuan anda menelpon saya?"
"Tujuan gue... mau ngajak kakak pacaran," jawabku dengan nada menggoda. Aku sendiri yang mengatakannya mendadak merinding mendengarnya.
"Kalau tidak ada sesuatu penting yang mau dikatakan akan ku matikan teleponnya," katanya judes. Dia lalu mematikan HP secara sepihak kembali.
Kutatap jengah HPku. "Kebiasaan bangat nih cewe, suka matiin HP!" gerutuku lalu menelponnya kembali.
Kutariknafas dalam-dalam lalu kuhembuskan pelan. Saat tau cewe itu sudah mengangkat telpon aku merubah ekpresiku. "Ihhh kakak.. jangan di matiin dong. Gue kan belum selesai ngomong," kataku dengan alainya. Aku sendiri bergidik ngeri saat mengatakan itu.
Terbesit muncul ide, agar wanita itu percaya kalau aku menyukaianya. "...Hem.. jadi gini kak, kalau kakak masih gak percaya perkataan gua. Minggu depan gua akan bawa nyokap gua kerumah kakak buat ngelamar kakak. Jangan lupa WA alamat kakak atau share lock!" kataku dengan nada dibuat serius.
"...Oh yaudah," jawabnya santai kemudian mematikan telepon kembali secara sepihak.
Aku tersenyum menatap HPku. Tiba-tiba aku teringat akan perkataanku, membawa Mama. "...cek...kenapa gua tadi ngomong bawa Mama segala!" gerutuku, merutuki perkataanku tadi.
Niatnya aku akan melamar wanita itu. Tetapi kenapa aku mengatakan akan membawa Mama. Bisa-bisa urusannya panjang.
Tidak lama, datang pesan dari nomor wanita itu. Aku pun langsung membukanya.
Ela : Assalamualaikum, ini alamat
rumah kakak jalan... gang...
nomor... cat tembok.....
Ini juga kakak kirimin lokasi rumah. Kakak,
Karna Kakak udah kirimin alamat lengkap,
jadi gak ada alasan gak datang ya.
Oh iya, Biasakan kalau ngomong dengan
yang lebih tua pake aku kamu biar
keliatan sopan. Kamu pahamkan!
PS: jangan lupa minggu depan
waktu kamu ngelamar kakak.
bawa seserahan ya....
Kakak tunggu...
Saat sedang merutuki perkataanku. Rafiq masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia menghampiriku yang sedang tiduran di kasur.
"Kenapa Mas, kok mukanya kusut gitu?" tanyanya saat melihat mukaku seperti kain belum disetrika.
Aku pun menjelaskan tentang kejadian tadi. Membuat Rafiq terdiam kaget melihat kearahku.
"Kenapa? Kok lo diam," kataku menatap kearahnya.
"Mas seriusan? Bakal ngelamar Wanita itu, pake janji bakal bawa mama lagi.." katanya dengan wajah tak menyangkanya. Aku mengangukan kepala.
"Gua emang pengen ngelamar dia, niatnya sendiri. Entah mengapa tadi mulut gua malah bawa-bawa Mama.." ucapku.
"Mas serius, bukankah lebih baik kita sudahi saja permainan ini.." ucapnya. Terlihat wajahnya yang tak tenang.
"Entah mengapa gua gak bisa! Wanita itu bagaikan tantangan buat gua yang biasanya dikerjar-kejar wanita.." ucapku serius menatap Rifqi.
"Mama pasti gak bakal setuju!" serunya.
Akupun membenarkan perkataan Rifqi yang masuk akal.
Rifqi lalu mengatakan niatnya ke kamarku untuk mengajak makan malam yang telah siap.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih.