UHIBBUKI

UHIBBUKI
New house



Happy reading!!!




Flashback off



Tanpa mereka sadari bibir mereka sedikit terbulat dan Mata mereka melebar karena kaget mendengar ceritaku.



Uni menelan slavinanya terlebih dahulu baru berkata.



"Serius Ela! Suamimu baru ketemu langsung nyatain perasaan!" Serunya terkejut karena tidak percaya. Aku menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyuman tipis.



Sedangkan Lifi mungkin sedang menyusun pertanyaan dikepalanya karena dia masih terlihat bengong menatapku lurus.



"Ela! ...suamimu berani bener! Baru ketemu langsung nembak," Lifi menggeleng-geleng kepalanya karena keberanian suamiku yang tidak mengenalku tapi langsung ngajak pacaran.



Biasanya cowok nembak cewek karena cantik, manis ataupun menarik. Kenapa aku yang bisa dibilang biasa aja kalau di Bandingkan kedua sahabatku ini. Tentu aku kalah cantik dan manis. Lifi terkenal akan kecantikan dan keramahannya sedangkan Uni manis dan menarik perhatian walaupun dia sering ngomongnya lebay tapi sebenarnya dia orang yang tegas.



"Terus pas kamu di pegang tangannya gimana?" Tanya Uni.



"Kamu tolakkan ajakan pacarannya?" lanjut Lifi menimpali pertanyaan Uni.



"Seperti yang tadi aku ceritakan. Saat dia memegang tanganku aku marah, kesal dan menatap dingin atas tindakannya. Makanya langsung ku hempaskan tangannya," jawabku melihat ke arah Uni dan Ela secara bergantian. "Tentu aku menolaknya! Walaupun selama 21 tahun aku hidup gak pernah ada yang namanya cowok nembak aku. Tidak ada sedikitpun keinginanku untuk menerimanya. Tentukan kalian tau seperti di surat Al-Isro ayat 32 yang dimana kita dilarang mendekati zina. Mendekati aja di larang apa lagi melakukannya seperti hal pacaran," lanjutku menjawab pertanyaan Lifi.



"Aku kira kamu nerima ajakan pacaran suamimu karena kelamaan jomblo," ledek Unik cengir.



"Ela mah gak kayak seseorang yang dulu pacaran sama anak dosen. Yakan Ela!" sindir Lifi pada Uni yang cengirannya hilang saat mendengar Lifi menyindirnya. Dia menyipitkan mata menatap Lifi.



"Walaupun aku kelamaan jomblo tentu aku gak akan nerima dia. Lagi pula apa faedahnya pacaran, malah yang banyak mudorodnya (keburukannya),"



"Betul Ela karena pacaran kita jadi lupa sama teman. Kalau mereka berduaan serasa dunia milik berdua yang lain hanyalah eresan rengginang," Uni menatap tajam Lifi yang dari tadi menyindirnya. Sedangkan Lifi tidak peduli.



"Lifi itu kan masa jahil! Sekarakan aku sudah berubah. Dulukan aku gak tau kalau berdua-berduaan, sms an, teleponan dan hal lainnya berhubungan dengan laki-laki bukan muhrim dilarang," bela Uni pada dirinya sendiri.



"Hahaha Iya Lifi! Bukannya kak Zahra sering bilang jangan mengingat masa lalu tapi jadikan masa lalu sebagai pacuan kita supaya lebih baik kedepannya," Belaku sambil menepuk pundak Uni sedangkan Uni merasa senang akan belaanku. Aku melihat segurat senyum di wajah Lifi.



"Hahaha gitu dong akur. Demenkan aku lihatnya!" seru Lifi dengan tawa pelannya karena melihat aku menengahi pembahasan tadi, padahal biasanya Lifi yang selalu di posisi aku sekarang. "Jadi intinya gimana kok kalian bisa nikah? Gak mungkinkan ucuk-ucuk langsur lamar?" lanjut Lifi kepo merubah topik pembicaraan sedangkan Uni mengangukan pertanyaan Lifi.



"Tentu dia memiliki perjuangan...." kataku memotong perkataan lalu menceritakan kembali kemasa silam.



Flashback on



Terlihat kerutan dahi dan tatapan tidak percaya dari wajahku. "Jangan bercanda dek! Saya ini jauh lebih tua dari kamu. Kamu itu pantasnya jadi adek saya. Kalaupun kamu lebih tua dari saya, saya gak ada niatan pacaran. Kecuali kamu mau jadi suami saya," terdengar khas suara dinginku yang selalu kulakukan jika berbicara dengan tipe cowok seperti laki-laki di depanku.


"Gak maukan! Sana belajar yang benar. Biar pintar. Gak usah mikirin pacar-pacaran," jelas Ela senyum. Kemudian anak laki itu pergi dengan wajah yang terlihat kesal.



Setelah kejadian itu aku berfikir dia pasti enggak akan muncul di hadapanku lagi. Tapi sayangnya perkiraan tidak sesuai dengan kenyataan. Dia masih saja dengan setia menemuiku yang lagi PPL di sekolah.



Mendekatiku yang saat lagi sendiri di kantin, parkiran dan di tempat lainnya yang tidak banyak murid.



Selama tiga bulan PPL selama itu juga dia selalu mendekatiku dan mengajakku pacaran setiap kali bertemu. Setiap bertemu dia selalu memberikan aku buah tangan kadang coklat, bunga, permen dan lainnya yang pasti semua kutolak. Bukannya aku ingin menolak rezeki pemberiannya! Tetapi jika aku menerimanya sama dengan aku memberikan harapan padanya dan senang dengan pengakuaannya yang kuanggap sebagai rasa kagum untukku.



Sampai akhirnya dia menghampiriku yang sedang duduk di bangku dibawah pohon besar dekat parkiran sekolah.



"Kak lagi ngapain kok deman bangat sendirian. Lagia ngodein aku ya biar ditemenin!" katanya dengan pede tingkat tinggi yang membuat kupingku panas dan darahku mulai naik.



"Kalau saja ini bangku bukan punya umum udahku usir dia dari ni bangku," gumamku dalam hati.



Tanpa berkata aku meninggalkannya lalu duduk dibangku lainnya yang memang kosong tidak ada orang.



Hari ini merupakan hari terakhirku PPL tentu banyak kenang-kenangan yang di berikan siswa-siswi untukku maupun teman PPLku Riyan.



Riyan merupakan teman PPL ku di sekolah Islam Budipekerti. Sekolah yang terkenal akan anak-anak yang berprestasi maupun kekayaan orang tuanya.



Awalnya aku gak tau kenapa kok bisa nih sekolah yang terkenal nerima mahasiswa PPL dari universitas swasta biasa. Sampai akhirnya aku mengetahui tadi saat kami izin perpisahan dan mengucapkan terima kasih pada pak kepala sekolah. Ternyata Riyan merupakan alumni sekolah sini juga.



"Jika saya tadi riyan tidak menitipkan hadiah ini padaku lalu kembali mengambil sesuatu yang tertinggal di ruang kepala sekolah pasti aku gak akan ketemu sama ni bocah," gumamku dalam hati memandang bungkusan-bukusan milik Riyan di kedua tanganku sedangkan milikku sudah kutaruh di motor dan juga tasku.



"Kak kok ninggalin aku sih. Gak baik loh diamin orang yang lagi ngomong!" katanya sambil berjalan ke arahku lalu lansung duduk di sisi bangku satunya.



Aku hanya tetap mendiamkannya tanpa berkata apapun. Aku memainkan HP ku melihat foto-foto yang diambil tadi saat perpisahan bersama siswa-siswiku.



Dari samping Rafiq mulai terlihat kesal karena aku kacangin. Biar saja siapa suruh gangguin aku melulu.



Tapi ngomong-ngmong ni anak gak pernah pake baju sekolah. Dia selalu pake baju bebas setiap ketemu aku.



"Kamu gak belajar apa?" tanyaku membuka percakan karena aku merasa kepo sama ni bocah. Tatapanku masih tetap ke arah HP ku.



"Kakak pengen tau tentang gua? Tertarik ya sama gua?" katanya dengan senyum genit yang kubalas dengan tetap tatapan dingin ke arahnya.



"Yaudah gak usah jawab!" kataku kembali lalu mengalihkan pandanganku ke arah HPku kembali.



"Ehhh gua cuman bercanda!" serunya ke arahku. "Gua belajar tapi gak disini lagi. Di tempat lain," lanjutnya.



"Ohh pindah sekolah! Pantes gak pake baju sekolah ini dan selalu mondar-mandir," kataku dengan wajah yang mulai terlihat tanpa ekapresi.



"Bukan pindah sekolah! Tapi gua udah tamat dari sekolah ini. Sekarang lagi cari daftar tempat kuliah makanya mau ambil nilai gua dan hal-hal lainnya," jelasnya yang ku jawab dengan o.



Pantes waktunya luang bangat. Masih mau daftar-daftar tempat kuliah. Setelah itu hening tidak ada pembicaraan diantara kami.



Selang beberapa waktu Riyan datang menghampiriku.



"Ela maaf ya gua lama, tadi pak kepala sekolah minta tolong sesuatu," katanya.



"Iya gak papa,"



Riyan melihat ke arah Rafiq yang duduk satu bangku denganku.



"Kamu kenal dia Ela?" tanya Riya melirik ke arah Rafiq sedang aku masih tetap dengan pandangan ke arah HP.



Aku mengarahkan pandanganku ke arah Rafiq lalu menjawab dengan datar, "Tidak kenal," terlihat ekspresi Rafuq yang kesal karena jawabanku.



Aku menyerahkan bingkisan-bingkisan Riyan, "Aku pulang duluan ya!" kataku ke arah Riyan yang dia angguki lalu mengikuti dari belakang menuju kemotornya sedangkan aku menuju ke arah motorku sendiri.



Aku mengendarai motor melewati Rafiq yang masih duduk di bangku tadi. Aku merasa dia memandang ke arah ku lalu melambaikan tangaanya.



Flashback off



Lifi dan Uni mendengarkan ceritaku dengan sangat serius sambil sesekali memakan makanan yang kubawa dari rumah.



"Oh Iya kamu kan sama Riyan ya PPL nya. Aku sempat lupa," kata Uni setelah ingat.




"Katanya sih dia pindah kekelas kariyawan," jawab Lifi santai melihat ke arahku.



"Kok kamu bisa tau?" Uni kembali bertanya ke Lifi dengan alis terangkat sebelah.



"Pas kemarin saptu aku ke prodi untuk menyerahkan KRS (kartu rencana studi) karena telat mengumpulkannya. Aku melihat ba Tia sedang memegang KRS atas nama Riyan, lalu kutanya Riyan kok gak kuliah-kuliah sudah sebulan. Kata ba Tia Riyan pindah ke kelas kariyawan dan dia baru sempat nganterin KRS ke kampus kemarin saptu," kata Lifi panjang kali lebar.



"Kata anak-anak cewe yang dekat sama dia mereka gak ada yang tau Riyan kemana karena Riyan seperti loss contek dengan mereka," tambah Uni.



Aku mendengar dan mencermat oerkataan kedua sahabatku. Aku sebenarnya juga penasaran kemana dia. Terakhir bertemu saat mengambil nilai PPl kami di sekolah.



"Kok kita jadi ngebahas Riyan sih bukannya suaminya Ela!" seru Uni di sela lamunanku.



"Kan tau sendiri kalau cewek ngomong pasti a sampai z yang awalnya bahas ini larinya kesitu," kata Lifi mengingatkan kebiasaan cewek. Aku hanya nyengir mendengar perkataannya.



Setelah itu aku melanjukan ceritaku tentang Rafiq yang tiba-tiba tau nomor HPku yang sampai sekarang aku gak tau dia dapatnya dari mana.



Rafiq yang datang bersama ibunya untuk melamarku dan sebagainya. Tentu aku tidak menceritakan tetang perkataannya yang membuatku sedih pada malam setelah pernikahan maupun perjanjianku dengannya. Itu merupakan rahasiaku dan Rafiq sebagai sepasang suamu istri.



"Dari yang aku dengar suamimu sepertinya romantis ya!" seru Lifi yang aku balasan dengan senyuman lebar dan kedipan kedua mataku. "Wah kayaknya ada yang bapernih buru-buru mau nikah," lanjut Lifi meledek Uni yang terlihat manyun karena mulut yang dia majukan.



Terdengar suara panggilan dari mesjid menadakan masuk waktunya sholat. Kami bertiga melangkahkan kaki kami memenuhi panggilan ini.



Selesai sholat kami pulang ke rumah masing-masing. Lifi naik busway, Uni jalan kaki karena kosannya dekat kampus sedangkan aku naik motor seperti biasanya.


***###***



Besoknya setelah pulang kuliah aku langsung pulang tidak ikut kamus (kajian muslimah) yang biasanya kami lakukan setiap hari kamis sehabis pulang kuliah.



Kamus merupakan tempat kami mendapat banyak ilmu maupun pengetahuan yang tidak kami dapati di mata kuliah yang kami ambil.



Biasanya yang mengisi materi para alumni yang meluangkan waktu dan tenaga untuk mengajarkan ilmunya kepada kami. Dari bercerita tentang para nabi, sosok-sosok sahabat nabi yang berjuang, cara berpakaian, cara bersikap dengan lawan jenis yang bukan muhrim dan sebagainya.



Setelah membaca WA Rafiq aku langsung pulang selesai jam kuliah.



Rafiq : Kakak gua udah di rumah. Nanti


pulang kuliah langsung pulang ya!



Aku mengetik balasannya untuk Rafiq yang berisi.


Ela : "Iya aku langsung pulang selesai jam


kuliah. Tunggu ya honey!" aku


memberikan tanda hati.


PS: Rafiq biasain awalnya ngucapin


salam. Oke honey.



Sampai di rumah Aku mengucapkan salam dengan suara lumayan kencang dan terdengar samar-samar jawaban salamku.



Kulangkahkan kakiku kearah suara tersebut yang ternyata Rafiq sedang bermain dengan HP nya di ruang TV sambil tiduran. Aku samperin dia dan kusalami tangannya.



Aku duduk disampingnya lalu bertanya, "Rafiq kamu liat mama gak?" itulah kebiasaanku yang selalu bertanya kemana mama setelah pulang dari manapun.



"Mama sedang keluar sejak tadi," jawabnya dengan mata masih focus menatap layar HPnya.



Kutatap dia lekat-lekat membuat jantungku berdebar kencang. "Ganteng bangat sih kamu mas Rafiq. Andaikan aku bisa sesuka hatiku menyentuhmu!" lirihku dalam hati. Sedangkan orang yang kutatap tidak sedikitpun menoleh ke arahku.



Aku mengganti pakaianku terlebih dahulu baru menyetrika pakaianku yang baru kering saat tadi pagi kujemur. Setelah itu aku melipatnya dan memasukkannya kedalam koper yang sudah berisi setengah pakaianku yang sudah kurapikan kemarin.



Saat ini Rafiq sudah berpindah posisi dari ruang TV beralih ke kamarku untuk tidur siang. Terdengar suara salam yang kekenal lalu kesambut beliau dan kucium tangannya.



"Mama dari mana?" itulah pertanyaan yang selalu kutanya jika akhirnya bertemu dengan orang yang melahirkanku jika saat aku pulang tidak menemukan keberadaannya.



"Mama tadi beli beberapa makanan untuk kamu bawa ke kontrakanmu," mama mengangkat tentengan yang di pegangnya yang langsung ku ambil alih.



"Waaa makasih ya mama," mama membalas senyumku. Lalu membantuku membereskan pakaianku karena beliau melihat ketidak rapianku menyusun pakaian.



Bapak sampai rumah sekitar jam 4 sore. Aku dan Rafiq izin pergi pada mama dan bapak. Mama terlihat menahan tangis ketika melihatku membawa satu koper besar dan satu tas gemblok besar.



Bapak awalnya ingin mengantarku dan Rafiq dengan mobil sampai ke rumah kontrakan tapi karena bapakku gak bisa mengendarai mobil jadi harus menunggu abangku terlebih dahulu pulang kerja. Tetapi kami tolak dengan halus karena takut kemalaman sampai ke kontrakan dan abang pasti capek karena baru pulang kerja.



Rafiq lalu memesan mobil online. Tidak perlu waktu lama mobil avanza berwarna putih datang ke depan rumahku. Bapak yang bawa mobil membantu menaruh tasku ke bagasi. Lalu kami masuk kedalam mobil setelah mencium tangan dan pipi orang terkasihku.



Lambaian tangan kami berikan dari kaca mobil dan tak lupa senyuman pada mereka.



Dalam perjalanan tidak ada percakapan antara aku dan Rafiq hanya keheningan meliputi kita termasuk pak sopir yang masih bungkam mulut. Biasanya ada sopir yang banyak ceritanya.



Terlihat jalanan macet karena bertepatan dengan pulangnya jam kerja. Banyak kendaraan beroda 4 yang berjalan seperti kuran-kura termasuk kendaraan kami.



Dua setengah jam waktu yang di tempuh kami sampai di rumah kontrakan. Setelah kuperhatikan Jaraknya tidak begitu jauh dari rumahku hanya saja macet yang membuat jaraknya terasa jauh.



Rumah kontrakan yang Rafiq sewa sederhana karena pas masuk kedalam rumah hanya ada dua ruangan. Ruang tamu kecil dan ruang tidur yang bercampur dengan kamar mandi yang ada di ujung beserta dapur untuk memasak di samping kamar mandi.



Disini sudah ada beberapa barang-barang yang telah Rafiq siapkan seperti lemari plastik, kipas, karpet, satu kasur ukuran besar untuk dua orang, bantal, kompor, perlatan kaman dan masak, ember, gayung, mejikom dan beberapa hal lainnya.



Lalu kami melaksanakan solat magrib kami secara berjamaah yang di imami Rafiq karena kupaksa.



Rafiq merebahkan badannya ke kasur yang sudah diseprai dengan rapi sedang aku merapikan pakaianku rumahku kedalam lemari.



Aku baru selesai mandi dan memakai dress miniku. Aku merasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang saat aku menggunakan bawahan mukenaku.



"Kakak Sholat isyanya cepat ya. Setelah itu kita sholat sunnah dua rokaat," katanya manja dari arah belakangku. Kepalanya dia taruh di atas pundakku.



"Iya," kataku denngan wajah memerah dan debaran jantung yang semakin cepat.



Lalu Rafiq melepaskan pelukannya dariku. Aku berwudhu kembali karena Rafiq tadi sudah menyentuh kulit pundakku dengan kulit wajahnya. Lalu dia ke kamar mandi untuk membersihkan keringat.




############################################################



Maaf ya jika banyak typo...



Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.



Dan tinggalkan tanda hati.



Terimakasih.